Upgrade Ilmu Penyakit Dalam Bisa Cegah Kematian? Ini Penjelasannya!

22
PERSIAPAN : Panita Pertemuan Ilmiah Berkala (PIB) Ilmu Penyakit Dalam RSUP dr. M. Djamil Padang memberikan keterangan pers terkait persiapan kegiatan.(IST)

Hipertensi masih menjadi kasus penyakit yang paling banyak ditemukan di hampir semua rumah sakit dan fasilitas kesehatan di Indonesia. Untuk menekan jumlah kasus, perlu pengembangan dan pemutakhiran ilmu kesehatan agar penanganan dan perawatan pasien hipertensi bisa dilakukan secara maksimal dan tepat.

“Meningkatnya angka kesakitan dan kematianyang terkait dalam bidang Ilmu Penyakit Dalam di Indonesia memerlukan peningkatan pelayanan yang komprehensif dan berkualitas oleh para dokter umum dan dokter spesialis penyakit dalam,” jelas Ketua Panitia Pertemuan Ilmiah Berkala (PIB) Ilmu Penyakit Dalam RSUP dr. M. Djamil Padang dr. Eifel Faheri, SpPD-KHOM, FISQua kepada wartawan, kemarin (6/6).

Eifel mengatakan, salah satu upaya yang dilakukan untuk mengupdate dan meningkatkan ilmu kesehatan di bidang Ilmu Penyakit Dalam, pihaknya bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) cabang Sumbar menggelar PIB Ilmu Penyakit Dalam ke-22.

Dijelaskan, PIB merupakan kegiatan ilmiah tahunan bagian Ilmu Penyakit Dalam yang diselenggarakan dalam bentuk simposium dan plenary lecture yang akan membahas permasalahan terkini dibidang Ilmu
Penyakit Dalam dan topik-topik yang akan disampaikan oleh para pakar-pakar
terbaik dibidangnya.

Pertemuan Ilmiah Berkala adalah salah satu usaha untuk meningkatkan mutu pelayanan, ilmu kedokteran, dan mutu pendidikan serta
untuk bertukar pengalaman diantara narasumber dan peserta pertemuan ini.

“Pelaksanaan PIB Ilmu Penyakit Dalam ke-22 digelar dari tanggal 10 sampai 12 Juni 2022 di Grand Zuri Hotel. Kegiatan tersebut digelar secara hybrid baik offline dan online,” katanya.

Eifel menyebutkan, sampai saat ini sudah ada sebanyak 880 peserta yang telah mendaftar untuk hadir baik secara offline maupun online. Para peserta berasal dari dokter dan tenaga kesehatan yang berada di daerah baik di Provinsi Sumbar, maupun provinsi tetangga.

Kegiatan PIB sendiri akan dibagi dalam dua kegiatan yakni Workshop dan Simposium. Di kegiatan workshop yang dilaksanakan pada tanggal 10 Juni, ada 3 topik yang akan dijelaskan tentang ilmu kesehatan baru terkait penanganan hipertensi, transfusi darah, dan manajemen nyeri.

Baca Juga:  Padang Dapat 100 Dosis Vaksin PMK! Penyuntikan Dilakukan Selasa Esok!

“3 topik sengaja dipilih karena ketiga penyakit tersebut paling banyak ditemukan di hampir seluruh rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya. Jadi kami ingin, para peserta ini bisa mengupdate ilmu mereka tentang bagaimana merawat pasien hipertensi, cara transfusi darah, manajemen nyeri,” ujarnya.

Kemudian untuk kegiatan simposium dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu di mana terdapat sebanyak 14 simposium dalam dua hari itu dan dibarengi dengan kegiatan planery lecture yang salah satunya akan membahas tentang vaksin Covid-19.

“Harapan kami, penyelenggaraan acara ini memberikan dampak dan sambutan yang positif dari para sejawat. Semoga peningkatan ilmu dalam mendiagnosis dan menatalaksana penyakit di bidang Ilmu Penyakit Dalam berdampak terhadap peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat,” tukasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Panitia PIB Ilmu Penyakit Dalam RSUP dr. M. Djamil Padang dr. Roza Mulyana, SpPD-KGer, FINASIM menambahkan, ada 11 bidang yang berada di Ilmu Penyakit Dalam, yaitu Alergi-Imunologi, Endokrin Metabolik, Gastroentero-Hepatologi, Geriatri, Ginjal Hipertensi, Hematologi-Onkologi Medik, Kardiologi, Psikosomatik, Pulmonologi, Reumatologi, dan Tropik Infeksi.

Ia mengungkapkan, narasumber atau pemateri yang akan memaparkan materi dalam PIB tersebut di antaranya Dr. dr. Harnavi Harun, Sp.PD-KGH, FINASIM tentang Hypertensive Emergency, dr. Eifel Faheri, SpPD-KHOM, FISQua tentang Hematologi Onkologi Medik.

Kemudian, Dr. dr. Irza Wahid, Sp.PD-KHOM, FINASIM yang akan memaparkan tentang Aman Bersama Opioid : Bagaimana Mengatasi Nyeri pada Pasien yang Dirawat Inap dan Rawat Jalan, dan para narasumber berkompeten lainnya.

“Istimewanya, para peserta juga mendapatkan kredit poin sesuai dengan yang telah ditentukan panitia,” tukasnya. (adt)