Perkembangan Covid-19 di Kota Padang, Waspadai Cluster Keluarga

176
Ketua Fraksi PKS DPRD Kota Padang Muharlion

Terus melonjaknya pandemi Covid-19 di Kota Padang berpeluang menghasilkan cluster keluarga, mendapat tanggapan dari Ketua Fraksi PKS DPRD Padang Muharlion.

Menurutnya, saat ini harus dilakukan sosialisasi terpadu tentang penerapan 3M (Memakai masker, Mencuci tangan dan Menjaga jarak) dalam mengantisipasi berpeluang terjadi cluster keluarga tersebut.

“Untuk memutus pertumbuhan Covid-19 harus dilakukan sosialisasi intens di tengah masyarakat. Sosialiasi harus melibatkan RT/RW sebagai perwakilan pemerintah di tingkat terbawah,” ujar Muharlion.

Peluang dilakukan swab massal di tingkat kelurahan, Muharlion memandang tindakan tersebut tidak dapat direalisasikan dengan baik. “Sebelumnya, pemerintah telah meminta 100 warga di kelurahan untuk dilakukan swab gratis. Tetapi, banyak masyarakat menolak dengan berbagai alasan, seperti swab itu sakit. Sebenarnya swab itu tidak sakit seperti yang ditakutkan,” tambahnya.

Terkait penerapan 3M, Muharlion berpendapat Pemko Padang harus membuat Perda Protokol Masyarakat, agar ada sanksi tegas terhadap pelanggar protokol kesehatan ini.

“Agar ada efek jera terhadap pelanggar protokol kesehatan oleh masyarakat. Perda protokol kesehatan harus dirancang secepatnya. Sebelum perda itu dibuat, lakukan sosialisasi  tentang akan diberlakukannya perda protokol itu,” ucapnya.

Terpisah, pengamat kesehatan dari Pusat Kajian Lingkungan Hidup (PKLH) UNP dr Elsa Yuniarti MBiomed AIFO-K, mewanti-wanti peluang terciptanya cluster keluarga saat banyaknya masyarakat yang terpapar virus Covid-19. Apalagi masyarakat mulai tak peduli terhadap protokol kesehatan.

“Jika ingin memutus mata rantai penyebaran Covid-19, masyarakat harus terlibat penuh dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Ancaman terbesar dari penyebaran Covid-19 melalui orang tanpa gejala (OTG) dan menjadi ancaman serius dalam keluarga, karena  OTG tidak menyadari bahwa ia sakit dan bisa menularkan kepada siapa saja,” ucapnya.

Elsa Yuniarti menambahkan cluster keluarga bisa tercipta karena sikap egois dari orangtua yang bekerja tanpa menerapkan protokol kesehatan dalam setiap aktivitasnya di luar rumah. “Covid-19 bermutasi dengan cepat, ini yang harus diwaspadai masyarakat,” tegasnya.

Sedangkan pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Padang Dr Fitri Arsih menambahkan bahwa saat ini pendidikan memang harus dilakukan secara daring. Tujuannya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di tengah masyarakat. Dan sebaiknya orangtua tidak melakukan pembiaran anak-anaknya bermain secara bebas di luar rumah seperti sebelum corona merebak.

“Kita tidak tahu anak-anak bermain dengan siapa. Seharusnya orangtua mengontrol anak-anaknya untuk tidak bermain di luar rumah secara bebas. Jangan anggap remeh lagi. Butuh peran orangtua memutus mata rantai penyebaran Covid-19 yang kian hari kian bertambah jumlah korbannya,” tutupnya. (dg/ktr)