Sosok Ibu Sangat Penting, Milenial Jangan Merasa Kebal Covid-19

109

Sosok perempuan dalam keluarga memiliki peranan yang sangat penting. Pendidikan paling utama yaitu pada lingkungan keluarga yang dimainkan perannya oleh seorang ibu. Ibu melahirkan anak-anak yang cerdas sebagai generasi penerus bangsa.

Dalam situasi pandemi Covid-19 ini dibutuhkan peran seorang ibu atau perempuan yang harus tangguh menghadapi perubahan-perubahan perilaku dalam kebiasaan keluarga melalui pendidikan (edukasi). Di tangan ibulah terletak keputusan sebuah keluarga dalam bersikap menghadapi pandemi yang masih menghantui saat ini.

Pemaparan tersebut disampaikan Relawan Muda Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN) yang semula Gugus Tugas Percepatan Percepatan Penanganan Covid-19, Savero Karamiveta Dwipayana pada kegiatan Global Harmony Conference January Edition “The Culture & The Art Communication for World Harmony” yang dilaksanakan Java Foundation Amsterdam secara virtual melalui fasilitas Zoom, pukul 19.00 WIB, Minggu (10/02/2020).

Sharing yang dimoderatori Syafiih Kamil tersebut diikuti para diaspora Indonesia yang berada di berbagai negara Eropa. Ero tampil bersama ayahanda Motivator Nasional dan Pakar Komunikasi Dr Aqua Dwipayana.

Meskipun kesehatan dan kesejahteraan keluarga adalah tanggung jawab bersama laki-laki dan perempuan, peran seorang ibu juga harus maksimal mengisi ruang penting ini. Ibu adalah pusat keluarga.

“Ibu dapat menjadi penggerak ketahanan keluarga, ibu dapat menjadi garda paling efektif untuk menjaga kesehatan keluarganya dalam mencegah penularan Covid-19. Oleh karena itulah, menjadi logis adanya jika kita patut memberikan apresiasi terhadap peran ibu yang selalu berjuang untuk keluarganya,” kata Ero.

Teladan Positif Paling Efektif

Pada kesempatan tersebut, Ero juga mengingatkan bahwa generasi muda tidak luput menjadi korban dari pandemi Covid ini. “Banyak anak muda yang juga terpapar. Makanya generasi milenial jangan merasa mereka kebal, sebab saya melihat banyak kelompok usia ini yang juga terkena virus Covid-19. Pada sisi ini maka keluarga memiliki peran penting dalam memberi contoh atau teladan kepada anak-anak di lingkungan keluarga,” ujar Ero yang merupakan mahasiswa semester VII Jurusan dan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Fikom Unpad).

Lebih jauh disampaikan, efektivitas komunikasi dalam keluarga ditentukan oleh teladan yang diberikan orang tua kepada anak-anaknya.

“Itu pula yang terjadi pada kedua orang tua saya. Keduanya jarang menyampaikan sesuatu dengan nada menyuruh tapi lebih sering dengan memberikan contoh apa yang harus dilakukan,” ucapnya.

Baca Juga:  Orangtua Diingatkan Soal PHBS dan Ancaman Penyakit Baru Pascapandemi

Ia menjelaskan awal 2021 ini kondisi Indonesia terkait pandemi tidak lebih baik dari tahun sebelumnya ketika pandemi awal terjadi. “Masih banyak yang harus diperbaiki dan semua orang harus menunjukkan solidaritas terbaiknya,” ujar anak bungsu dari dua bersaudara itu.

Terkait vaksinasi, Ero menjelaskan bahwa program tersebut baru akan dimulai pada Rabu (13/1/2021) ini. Ia mengaku tidak habis mengerti dengan sikap sebagian warga Indonesia yang dinilainya banyak maunya terkait program vaksinasi ini.

“Sebelum ada vaksin, mereka meminta Presiden Jokowi yang divaksin lebih dulu, kemudian ketika bayar minta gratis, setelah gratis, minta harus aman, sudah aman harus halal. Bagi kita seharusnya saat ini adalah momentum untuk sama-sama berbuat kebaikan demi mencapai kebaikan bersama,” ujar Ero.

Ero menjelaskan dalam komunikasi ada yang sifatnya verbal dan nonverbal. Terbukti lebih sering komunikasi yang sifatnya nonverbal berupa contoh atau teladan yang positif itu yang paling efektif.

“Alam bawah sadar akan dengan sendirinya melihat apa yang menjadi kebiasaan sehari-hari dan kemudian menjadikannya sebagai perilaku yang terbiasa dilakukan dengan mudah. Di sinilah pentingnya teladan keluarga,” kata Ero menegaskan.

Ia mengatakan keluarga dalam hal ini orang tua harus menjadi “role model” bagi generasi muda dalam menerapkan protokol kesehatan di masa adaptasi kebiasaan baru (AKB) saat pandemi Covid-19 (virus Corona).

Dalam kondisi pandemi yang membatasi, ia juga mengingatkan generasi muda untuk senantiasa melakukan optimalisasi. “Bagaimana kita bisa tetap berkiprah sama seperti ketika tidak ada pandemi tapi tentu tanpa aktivitas tatap muka langsung dan juga mengedepankan protokol kesehatan. Istilahnya adalah optimalisasi dengan adaptasi. Siapa yang tidak bisa beradaptasi akan terlindas dan tergilas. Adaptasi kebiasaan baru adalah hal utama,” ucap Ero.

Sebagai mahasiswa apa yang bisa dilakukan? Menurut Ero yang selama berkuliah di kampus Fikom Unpad aktif dalam lembaga yang peduli pada penanganan mahasiswa yang mengalami depresi ini menegaskan bahwa koloborasi adalah kunci.

“Bukan lagi kompetisi. Karena kita bukan superhuman yang bisa melakukan semua hal sendiri. Di sinilah perlunya kolaborasi dan kerja sama. Gambarannya ibarat puzzle bagaimanan setiap bagian saling mengisi dan menutup bolong masing-masing,” ucapnya.(rel)