Saya Vinna Melwanti, Ini Kisah Saya yang Positif Covid (1)

1409

Saya teramat dingin. Pucat pasi. Tak berdarah lagi muka ini. Jalan sudah goyang. Dada amatlah sesaknya. Napas satu-satu, berat sekali. Saya sangat disiplin, ternyata kena juga. Saya positif corona di tengah kampanye gelombang kedua yang besar. Ya Tuhan.

Ini kali pertama saya naik dan rebah dalam ambulance, menggigil. Ini pertama kali, paru-paru saya bagai diremas. Makin lama kian kuat. Ini pertama kali saya demam, yang membuat seluruh tubuh mandi keringat. Dua kali per jam ganti baju.

Ketika naik ambulance, saya seperti dilarikan ke dunia lain, sirinenya meraung panjang, membelah kota Jakarta yang sepi menjelang dinihari. Saya yang lahir di Jakarta, tak pernah setakut ini di kota yang sama.

Malam telah memanjat jauh ke depan. Sebentar lagi dinihari. Paru-paru ini, serasa pecah semenjak pagi tadi terbujur di IGD Rumah Sakit MMC Jakarta Selatan. Ya, rumah sakit inilah yang menyatakan saya positif corona. Sebelumnya juga ditemukan bintik putih dari hasil CT Scan paru. Saya divonis pneumonia. Jenis penyakit yang sedang hits meranggas landai di paru saya yang tak punya riwayat perokok, jantung dan paru ini.

“Maaf bu Vinna. Kamar rawat khusus covid kami penuh. Lebih baik ibu mencari rumah sakit lainnya saja,” kata suster sembari memperbaiki infus saya yang mengeluarkan darah. Dalam keadaan terhenyak saya hubungi belasan rumah sakit khusus covid atau pun tidak, hasilnya full over kapasitas. Sementara waktu dengan kejam terus merangkak. Saya seperti disisihkan di lorong rumah sakit.

Akhirnya, dalam kalut dengan suhu tubuh 39 derajat, saya gunakan link jurnalistik. Saya hubungi narasumber yang berlatarbelakang BUMN. Dia segera menyuruh saya ke Rumah Sakit Pusat Pemerintah (RSPP). Katanya, ini merupakan rumah sakit pemerintah khusus covid yang dikebut 3 bulan lalu.

“Ada kamar, tapi tetap masuk list tunggu ya.  Diperiksa saja dulu di RSPP Kyai Maja, baru nanti ke Simprug Modular Extension,” katanya yang saya ikuti dengan ucapan terima kasih banyak.  Saya tak bisa bayangkan, privilege jurnalis inilah yang bisa menyelamatkan. Lalu, kalau masyarakat biasa yang tak punya jejaring, tak terbayangkan apa yang terjadi. Ironi.

Sambil menunggu jemputan ambulance, lamunan saya terbang. Saya kena covid dimana ya? Padahal hidup di Jakarta dengan bekerja di digital platform news, saya khatam dengan semua protokol kesehatan. Ya, sebagai penyebar informasi berita, tentu harus paham sebelum sharing, harus praktikan sebelum meminta pembaca melakukannya.  Tapi, nasib berkata lain, saya kena juga. Entah dimana.

Tetiba ambulance yang membawa saya, berhenti. Saya tak tahu telah sampai atau singgah menjemput pasien covid lainnya. Yang pasti, oksigen di hidung ini membuat penglihatan saya terus memudar. Ini pertama kali saya pakai oksigen. Pertama pula di atas ambulance. Baju ini makin basah karena demam.

Masuk IGD

Dua petugas di ambulance yang menggunakan baju layak astronot, menurunkan saya di RSPP Modular Ekstension Simprug. Keduanya dengan hati-hati mendorong saya masuk IGD yang sedingin kulkas. Inilah ruangan terdingin yang pernah saya masuki. Tubuh memang meriang tapi ini dinginnya beda.  Saya benar-benar ringkih karenanya.

Saya diberi tempat sebuah dipan. Di sebelah sejarak 2 meter, ada seorang bapak berkacamata, memakai levis. Sendirian. Di tangannya terpasang infus dan batuknya mengganggu ruang IGD berukuran 8×5 meter. Ia kedinginan meminta AC diturunkan, tapi tak bisa, sebab AC-nya sentral.

“Tak bisa pak, alat-alatnya harus dalam kondisi dingin,” jawab petugas medis yang ternyata wanita, karena baju APD yang seragam susah membedakannya jika mereka belum bersuara.

Saya ditidurkan di sini, langsung diinfus, diambil darah lalu disuruh menunggu 3 jam, sebab kamar belum tersedia. Saat menunggu itulah batuk berbusa putih, kini sudah berdarah. Tiap batuk, tiap berdarah. Tiap berdarah berlembar-lembar tisu habis. Sehabis batuk, dada serasa mau pecah. Sakitnya masih ada, batuk terjadi lagi, demikian seterusnya.

Walau sakit yang tak tertahankan, saya memperhatikan sekeliling. Hanya ada dua petugas medis malam dini hari. Satu suster perempuan dan satunya dokter jaga. Dia duduk di meja, di tengah-tengah 8 tempat tidur IGD. Semua pandangan pasien IGD tanpa tirai itu tepat memandang keduanya yang duduk memainkan laptop.

Dua jam berlalu. Saya menunggu dengan pasrah. Tak bisa tidur, batuk terus saja bertalu. Dinginnya tak usah disebut.  Dua selimut yang melekat di tubuh saja tak mampu meredam. Di sisi lain, walau dingin, anehnya baju ini sudah basah lagi. Keringat demam mengucur tak henti. Sudah hampir hal sepekan seperti ini saya alami.

Akhirnya sekitar pukul 03.00 WIB, kamar saya tersedia. Saya pasien terakhir di ruangan IGD. Sejak tadi, satu persatu pasien sudah pergi. Mereka mungkin sudah menunggu sejak pagi. Saya dibantu turun ranjang dan didorong dengan kursi roda. Perawat IGD itu bernama Shinta, sebagaimana tertulis di punggung baju APD nya. Dia meletakan botol infus dan tabung oksigen di pangkuan saya dengan cekatan.

Sambil mendorong kursi roda, dia juga menggotong semua bawaan saya. Sendirian. Padahal ransel saya dan dua tentengan besar yang isinya random itu agak berat. Kok tidak ada petugas lain ya yang membantu, kata saya dalam hati. Bukankah perawat IGD harus tetap standby di IGD. Atau setidaknya begitu pengetahuan saya yang selalu langganan rawat di RS tiap tahunnya. “Tidak kak, sudah SOP tim medis covid ya seperti ini. one person multy duty,” kata Shinta yang terlihat kesusahan membuka pintu koridor ruangan dengan semua bebannya. Luar biasa, bisik saya.

Sepanjang lorong Rumah Sakit, semuanya berwarna putih. Saya seperti masuk labirin. Lurus, belok kiri, belok kanan, lurus, belok kiri. Kursi roda berbunyi berderik dan bergoyang. Kala saya perhatikan lantai ini, ternyata papan. Begitupula dengan semua pembatasnya, semua dari papan yang dicat putih. Sama putihnya dengan baju hazmat tim medis yang berlalu lalang. Saya seperti masuk ke sebuah laboratorium NASA.

Tiba-tiba dorongan kursi terhenti. Saya yang sesak nafas teramat dalam berpikir sudah sampai di depan kamar rawat. Ternyata saya diserahterimakan oleh petugas berseragam sama di tengah lorong. Sembari menunggu keduanya berdiskusi, saya perhatikan labirin ini seperti pabrik yang terorganisir. Banyak petugas medis yang bergerak cepat. Ada yang meletakkan barang di pinggir koridor. Sesaat dia berlalu, petugas lainnya dari lorong sebelah mengambil barang tersebut. Persis seperti semut bekerja. Mereka bekerja dalam diam. Sistematis.

Saya lihat ada tumpukan air mineral. Ada tumpukan kantong limbah medis dan lainnya. Setiap mereka mempunyai HP tablet yang telah disarungi plastik. Kadang mereka mengetik namun acap berkomunikasi dengan mode laudspeaker.  “Ini ibu Vinna langsung masuk kamar wing dua. Atau digabung 3 pasien lainnya pak?” sayup-sayup terdengar saat mereka berkoordinasi, tapi tubuh ini sudah tak bisa diajak kompromi. Sebentar lagi masuk subuh. Dingin, kantuk dan sesak. Saya terus didorong, pintunya susah dikuak. Saya makin batuk, jalan kian jauh. Sepi.

Makin Memburuk 

Saya dirawat dengan kapasitas untuk 3 pasien.  Di sini, di ruangan yang sepi. Tak ada sesiapa. Yang ada mikrofon dan CCTV. Langit-langit putih, kaca tembus pandang tanpa tirai sebagai pengganti dinding dipasang mati. Seperti tahanan namun bak aquarium bisa dipandang dari luar.

Baca Juga:  171 Orang Sembuh, Warga Diimbau Tetap Konsisten Protokol Kesehatan

AC kembali menusuk. Badan saya tetap basah. Kerongkongan kering, bibir pecah. Batuk bertalu-talu. Dada perih, napas tersengal, amat sesak. Lalu pengecap rasa hilang. Lengkap sudah ciri-ciri covid.

Oksigen yang terpasang statis di dinding harus 24 jam terpasang di hidung. Karena itu, saya takkan bisa turun ranjang. Maka, kini saya pakai kateter dan pampers. Pertama dalam sejarah hidup. Perawatan pasien covid ternyata memang intensif, di luar dugaan.

Infus saya ditambah. Obat-obatan diberi tanpa jarak. Tensi diukur, detak jantung, dikeker berulang-ulang. Suhu tubuh. Semua. Ditanyai, apa yang terasa. Suster mencatat. Jika ada 3 orang berbaju hazmat datang, itu dokter.  Dokter umum, atau dokter spesialis. Pasien diperhatikan sejak pukul 06.00 sampai pukul 01.00. Bahkan menjelang subuh pun mereka datang ke ruang perawatan kembali mencatat tensi, suhu dan saturasi darah.

Namun kadang Dokter masuk hanya lewat speaker pengeras suara kamar. “Pagi Ibu Vinna, saya dokter Anda bagaimana kondisi ibu hari ini?” Suaranya terdengar lantang dari intercom yang dipasang diatas dinding. Tapi, saya agak susah menjawabnya sebab suara saya parau. Saya jawab saja sekuat yang bisa.

Saya juga harus jeli membedakan, suster, pria, wanita, dokter, pemberi makanan, tukang sampah atau pembersih kamar. Ini, karena pakaian mereka sama. Putih dan menutupi sekujur tubuh, tak terlihat perbedaan profesi karena seragam. Pandangan mereka pun terhalang karena kacamata tukang las itu, berembun pula.

Hari berikutnya kondisi saya malah kian memburuk. Saturasi darah saya menunjukkan, 80 persen, sehingga saya membutuhkan oksigen bukan di hidung lagi tapi di mulut. Batuk kian berdarah padahal saya tak ada riwayat TBC, jantung, paru. Saya pasrah, tak boleh menangis, tapi ambruk ketika dokter menyebut saya harus masuk ICU. Air mata berderai, jatuh menimpa badan saya. Saya berusaha menolak, tapi dijelaskan dengan rinci. ICU itu berbeda dengan kamar perawatan. Ini satu ruangan untuk satu pasien.

Rawat ICU

Saya di sini ditemani oleh alat-alat pendeteksi nadi, paru, jantung, saturasi, tensi dipasang 24 jam. Tubuh saya ditempeli banyak kabel, suara mesin menimpali setiap detik. Nyaris tak bisa bergerak. Tubuh ini, dipasung oleh semua alat itu. Memegang HP pun hanya bisa dilakukan dengan susah payah.

Darah saya berkali-kali diambil. Hampir tak ada lagi tempat untuk menusukkan jarum di tangan dan di kaki. Kini giliran mengambil darah vena. Lama suster mencari-cari dimana akan diambil. Tiap dicoba, tiap gagal. Bagian-bagian tak lazim, seperti di kaki, juga gagal. Beberapa bekas tusukan jarum sudah membiru dan membengkak. Dapat. Darah vena saya harus diambil, metodenya beda. Jarum harus tegak lurus, menusuk ke dalam. Jauh. Yang terjadi? Inilah sakit yang tak terkatakan. Tangan serasa kena sentrum. Pertama dalam sejarah darah vena diambil.

Tiga jam kemudian: seorang suster tiba-tiba datang. Ia datang dengan mendorong sebuah kotak. “Kita foto rontgen paru ya Kak?”

Refleks saya bersiap-siap karena berpikir akan dibawa ke ruangan lab. Paling awal saya ambil kacamata yang kemudian asal pasang saja. Saya terkejut, sebab suster itu membuka kotak portable. Bagai crane di gedung-gedung bangunan, kerangka besinya naik tinggi. Ternyata foto rontgennya ada dalam kotak ini. Saya didatangi, bukan saya yang pergi ke laboratorium. Pertama saya alami.

Belum habis kaget saya, berselang datang lagi seorang suster. Ia membawa kotak lain. Ini untuk merekam jantung dan paru. Meski para wanita, mereka sesuai job, melaksanakan tugas dengan professional.  Tak peduli alatnya sebesar dan seberat apapun. Sambil dirontgen dan sambil rekam jantung, saya memberikan pujian kepada perempuan muda hebat ber APD itu. Tak lama keduanya pergi, meninggalkan saya yang nyaris tak percaya. Ada wanita muda bekerja seperti ini. Siapa yang tahu?

Sepi lagi. Inilah rasa sepi yang paling dalam. Saya ditemani bunyi alat-alat medis penyambung hidup. Batuk saya tetap mengeluarkan darah. Dada seperti dikukus. Tiap batuk, bunyi alat monitor itu berbunyi kencang pula. Alat itu mengikuti irama jantung saya. Saya berharap tak ada bunyi panjang dan garis datar dalam grafik monitor itu. Huft saya melamun terlalu jauh.

Tiba-tiba HP yang berbunyi. Meraihnya di meja dengan tangan terpasung alat saja susah bukan main. Namun, saya sangat merasa “tertolong”. Sebuah video call kawan-kawan SMA. Saya “terisi”, di saat sedang galau dalam ruang sempit yang putih. HP saya pegang bergantian dengan dua tangan. Tangan saya sudah bertali-tali infus, satu lagi, pakai saturasi, alat ukur detak jantung. Genggaman tangan tak sekokoh waktu sehat.

“Tetap semangat ya Pien. Elu yang biasa kuat, pasti bisa lalui ini. Kita punya agenda kumpul lagi bersama yang harus dieksekusi dan itu harus bersama-sama elu,” papar semua teman sekolah bergantian dengan whatsaap video. Saya seperti sedang berlari-lari di halaman sekolah dulu, tiba-tiba seperti bergandengan ke masa muda yang semangat dan riang. Bahkan ada yang mengirimkan makanan dan jus buah merah papua. Terima kasih kawan-kawan yang baik.

Tak hanya teman, abang saya pun memberikan apa yang bisa dia berikan. Termasuk barang-barang yang tak terbawa. Karena ini rumah sakit pemerintah, tak seluruh keperluan pasien disediakan. Selimut tambahan, sendok, tisu basah, pampers, dan peralatan mandi.

Di ICU, botol infus saya lima sekali digantung.  Lima, bukan satu. Ambil darah makin intens, suntik pengencer darah dan antibiotik juga makin tak berjarak. Setiap setengah jam sekali. Alat pengukur tensi yang dilekatkan di tubuh saya bekerja sendiri. Tiba-tiba meremas kaki kanan saya. Pengukur tensi yang biasanya di lengan. Kini malah di kaki, karena akan menghambat infus dan saturasi yang diletakan di tangan kanan dan kiri.

Di ICU ini juga demam saya sudah di angka 36 dan 37. Obat sirup batuk yang diberikan, sepertinya membantu menghilangkan darah di batuk. Kalaupun berlendir kembali kuning yang basah dan berbusa. Mungkin inilah inti dari virus covid. Segala hal tentang batuk di paru.

Di hari ketiga ICU, saya tiba-tiba diberikan kabar bisa kembali ke ruang perawatan. Dua petugas tiba-tiba datang. Keduanya mengambil semua barang bawaan. Mereka yang tak bisa saya bedakan karena memakai baju hazmat itu meletakan semua barang saya di kasur.

“Kita pindah ya Bu, balik ke ruang perawatan,” katanya. Saya sendiri bingung antara senang atau lega. Ya kembali di dorong bukan untuk pulang, tapi untuk kembali dirawat. Masih lamakah saya di sini?

Di lorong ini, saya menahan sesak. Ini karena oksigen saya tak terpasang. Dalam sesak itu saya mengobservasi lorong RS dadakan ini. Rumah sakit yang awalnya ialah lahan sepak bola simprug. Lantainya bukan di cor tapi di tutup dengan papan. Sehingga jika berjalan membuat bergelombang dibuatnya. “Ini wing 2 lewat mana? Kanan atau kiri?,” ujar mereka yang sepertinya masih belum terbiasa dengan rumah sakit yang dikebut siap dari April. (bersambung)