Saya Vinna Melwanti, Ini Kisah Saya yang Positif Covid (2)

1299

Di lorong ini, saya menahan sesak. Ini karena oksigen saya tak terpasang. Dalam sesak itu saya mengobservasi lorong RS dadakan ini. Rumah sakit yang awalnya ialah lahan sepak bola simprug. Lantainya bukan di cor tapi di tutup dengan papan. Sehingga jika berjalan membuat bergelombang dibuatnya. “Ini wing 2 lewat mana? Kanan atau kiri?,” ujar mereka yang sepertinya masih belum terbiasa dengan rumah sakit yang dikebut siap dari April.

Balutan Jepang

Saat menuju ruang rawat saya melewati lorong administrasi dan farmasi. Klop rasanya tebakan saya, bahwa rumah sakit ini berkerjasama dengan konsulat Jepang. Ada beberapa konsultan Jepang yang sedang memberi arahan pada tenaga medis di ruang itu. Dan jika diperhatikan di semua baju tenakes terdapat stiker Jepang di depan baju Hazmat. Tak hanya itu, jika membunyikan bel ke perawat, kalimat awal bunyi sapaan Bahasa Jepang dulu baru tersambung.

Sampai di ruang rawat, saya di datangi dokter. Dan, diberikan pilihan untuk mendapatkan obat dari Jepang. Bukan vaksin bukan pula obat antivirus yang sedang diuji. Kata dokter ini obat yang biasanya digunakan pasien covid dan memang hasilnya berbeda-beda bagi pasien. Maka kita diberikan pilihan mau atau tidak.

Saya yang menyatakan kesediaan. “Mau dok.” Lalu diberikan obat tersebut 5 atau 8 butir. Obat yang saya tak tahu namanya tapi ada cap Jepang, bercampur dengan obat lainnya. Saya minum obat tiga kali sehari, namun kwantitasnya puluhan butir tiap hari.

Tenakes Nusantara

Di sini, di rumah sakit darurat bautan Jepang ini, memang rapi. Bersih dan hening. Nyaman (kalau kita tak sakit).  Semua limbah medis, bekas makan, tisu kita, bungkus roti dan sebagainya, dibakar habis. Rumah sakit dengan 300 tempat tidur terdiri dari lorong-lorong seperti lorong labor.

Paramedis wanita dan pria itu, adalah sukarelawan yang bekerja sepenuh hati. Mereka dengan baik hati membantu saya bangun. “Bu mandinya kita bantu lap ya.” Badan saya dilap. Ganti pakaian. Buang isi kantong kemih plastik.

Dengan tepat waktu antar makanan 3 kali sehari. Kalau mau bicara tekan bel tapi datangnya memang agak lama, karena ruangan mereka jauh. Tak pernah mengeluh, yang sering malah saya. Mereka tak hanya mengganti pakaian saya, tapi juga alas kasur sarung bantal dan selimut.

Tenaga medis ini, adalah anak-anak Nusantara karena memang datang dari berbagai provinsi dan kota di Indonesia, termasuk dari Padang. Ada yang baru empat hari bekerja. “Saya sebelumnya di M Djamil kak. Ada lowongan ya saya isi aja, ternyata ditempatkan di sini,” ungkap Lia sembari menyuntikkan obat pengencer darah ke perut saya.

Lia mengumbar dirinya ditidurkan di sebuah hotel dan dijaga kesehatannya. Bersama dengan perawat lainnya mereka diantar jemput untuk dinas, bekerja dengan sift pagi dan malam. Mereka adalah remaja yang demi sesama, membiarkan ibundanya menangis di kampung demi cinta anaknya. “Teman sekamar Lia kemarin kena covid kak, sedih padahal kita baru kerja seminggu lalu,” tukuknya.

Para perawat tiap hari bercanda dengan saya. Berkisah, walau ada yang tergesa, sebab tugas mereka berat, pasien banyak, tenaga kurang. Bahkan mereka bercerita bisa membuka baju APD setelah 4 jam. Harus menahan ke belakang, shalat pun jadinya dijamak. “Belum pernah jalan-jalan di Jakarta kak. Sejak dari Makasar, dilatih dan karantina, langsung dinas sebulan ini,” kata Ratih yang awalnya dia pikir akan ditempatkan di wisma atlet.

Di sini tak ada televisi, entah kalau di ruang VIP. Jika Anda dirawat di ruang VIP itu artinya biaya bayar sendiri. Jika Anda dirawat di ruang biasa, Anda dibayar negara. Biaya perawatan korban Covid 19 itu kata orang bisa Rp150 juta sampai Rp200 juta.  Betapa banyaknya orang dirawat dan itu ditanggung negara. Karena itu taatilah protokol kesehatan.

Saya yang bertubuh imun rentan ini, sudah berhari-hari dirawat di sini. Masuk ICU, keluar, berangsur sehat. Tubuh ini memang rentan.

Sering demam, pernah malaria, pernah typus, lelah saja demam. Berpanas-panas saja demam, kena hujan saja demam. Manusia demam. Ini makanan empuk corona. Yang terjadi? Saya berangsung pulih. Mukjizat Tuhan.

Tetap Positif

Masih positif covid. Entah hari ke berapa saya diswab oleh dokter. Ya Allah, masih positif. Padahal sudah menunggu hasilnya dua hari. Udara pakai slang masih ke hidung. Batuk masih memukul dada. Obat segenggam sekali makan.  Infus bertali-tali  masih tergantung. Apakah saya akan sehat?

Kata orang, jika positif covid dan Anda punya penyakit suka demam, tubuhnya rentan seperti saya, biasanya sulit ditolong. Saya lawan asumsi itu, saya harus sehat. Saya segera hubungi Mama yang saat itu berada di Payakumbuh. Etek juga. Saya menangis minta maaf dan tangis mama, ternyata membuat saya tegar. Mama yang dijemput si uda, lalu sampai di Jakarta. Mama mengawal saya dengan doa-doanya.

Baca Juga:  31 Pegawai Dishub Positif Covid-19

Alhamdulillah empat hari kemudian, hasil swab negatif. Saya sudah negatif, tapi ini corona. Corona itu, menikam jantung manusia. Membuat sarang di sana, melilitnya. Hingganya dokter punya protokol, saya harus swab sekali lagi, untuk mengkonfirmasi bahwa saya sudah sehat dan bebas covid.

PSBB ke Dua

Menunggu hasil swab kedua rasanya menanti pengumuman kelulusan hidup. Bahkan untuk melakukan swab ke dua harus direntang 10 hari dari swab pertama. Lama, dan saya mulai bosan. Perawatan saya memang beda dengan pasien yang pernah saya lihat di laman-laman medsos. Jangankan berjemur matahari atau olahraga, saya bahkan tak bisa turun dari ranjang.

Hingga di suatu hari, jadwal swab kedua tiba-tiba dipercepat. Kejutan tak sampai di situ, esoknya saya diminta agar pulang saja. Diisolasi di rumah sambil menunggu hasil swab yang akan dikirimkan via email.

“Maaf ibu Vinna. Gelombang kedua ini menyebabkan semua rumah sakit kewalahan menerima pasien covid. Semuanya menumpuk di IGD dan menunggu ruang inap kosong. Jadi kita minta ibu siap kemas-kemas ya, malam ini bisa pulang,” kata dokter jaga ditemani dua suster yang hanya diam saat saya mengatakan keberatan.

Dengan hati yang rusuh saya kembali menghubungi “orang dalam”. Dia kemudian memberikan nomor direktur rumah sakit. Tidaklah mungkin saya pulang dengan tubuh yang lemah dan belum dapat kepastian sudah bersih covid atau tidak. “Maaf ya ibu. Saya hubungi dokter dan kita pastikan ibu sudah terima swab negatif kedua, baru dirumahkan,” kata direktur wanita itu.

Saat menunggu itu beberapa teman mengirim link berita membeludaknya pasien covid di Jakarta. Ada juga video ramainya antrian pasien masuk wisma atlet. Bahkan menggunakan bus sekolah. Lima belas hari lalu saja saya kewalahan mencari rumah sakit, kini tak terbayang betapa sengkarutnya situasi. Ah, saya terjebak dalam waktu yang salah dengan penyakit yang salah.

Protokol Pulang

Swab saya kedua Alhamdulillah negatif. Saya pulang. Masuk dari pintu berbeda, keluar di pintu berbeda pula. Keluar dari kamar, bekas-bekas makanan, tisu, obat dan lainnya saya semua dibakar. Saya diantar keluar, berbelok ke kanan, Mandi!

Bukan di kamar mandi tempat saya dirawat, tapi mandi di pintu keluar.

Ya, satu ruangan disulap menjadi kamar mandi. Pintu masuk dari dalam dan pintu keluarnya ada ruangan transisi sebelum keluar halaman rumah sakit. Sepertinya inilah pintu exit semua penghuni rumah sakit yang akan keluar, mungkin juga para tenakes.

Ransel yang saya bawa dan semua isinya disemprot disinfektan, masuk kantong plastic besar. Ikat. Dan pakaian usai mandi harus dari rumah, bukan dari tas yang saya bawa. Ini protokol jika keluar dari zona merah rumah sakit.

Selesai mandi, saya masuk sebuah ruangan kosong. Saat buka pintu di depannya. Melangkah. Tiba di luar. Tak boleh lagi masuk. Di luar seorang suster menunggu. “Ini obat ibu, ini rekam medis, pulang, sampai di rumah mandi lagi dan jangan kemana-mana 14 hari.”

Sebuah percakapan yang biasanya terjadi di dalam gedung rumah sakit terjadi di halaman belakang parkiran. Dengan rambut yang masih basah, saya mendengar seksama penjelasan suster. Dia hanya memberikan obat dan tak ada tagihan apapun. Luar biasa semua pengalaman ini. Saya mantan pasien covid.

Makna

Kini saya diisolasi di rumah. Harus menunggu 14 hari baru bisa kontak dengan publik. Saya temui hari baru. Kata orang bekas pasien covid takkan bisa sesehat dulu lagi. Bukan itu masalahnya, tapi ini : Mohon jaga Kesehatan Anda semua, jangan pernah mencoba seperti apa yang saya alami. Jika pun mengalaminya, jangan sampai Anda kehilangan semangat hidup. Jangan sampai tak kebagian tempat tidur di rumah sakit.

Menjauhlah dari asumsi ini konspirasi. Kalau Anda sakit, tak ada konspirasi, tak ada politik, tak ada debat. Jika pulang tinggal nama? Ini wabah. Di dunia wabah covid bukan yang pertama. Flu adalah wabah yang vaksinnya belum ditemukan sampai sekarang.

Percayalah, membuat berita covid lebih mudah daripada menjalaninya. Percayalah, tenakes itu berjuang dengan lelah dan payah. Maka sekarang, saya telah di rumah. Berbagi kisah untuk semua. Yang sehat tetaplah sehat. Menjaga dirimu, sama dengan menjaga diri keluarga.

Saya sudah sembuh. Syukur ya Allah… (***)