Kekurangan Oksigen di RS Masih Terjadi, Pemda Harus Simak Saran Andani Ini

58

Kekurangan oksigen masih menjadi persoalan yang dihadapi rumah sakit-rumah sakit yang ada di Sumbar.

Kondisi tersebut diperparah kurang jelasnya koordinasi dan komunikasi lintas sektoral dalam penanganan Covid-19.

Hal tersebut setidaknya tergambar dari situasi yang mengemuka dalam GWA Kawal Covid-19 Sumbar, yang beranggotakan para kepala daerah di Sumbar, akademisi, aktivis, dokter, kepala rumah sakit, pejabat pemerintahan, unsur kepolisian, tokoh masyarakat, media dan instansi vertikal.

Seperti yang terjadi pada Jumat (18/8/2021) pagi, seorang dokter RS Achmad Muchtar Bukittinggi (RSAM) dr Deddy menyampaikan bahwa oksigen habis.

“Kami kehabisan oksigen di seluruh Bukittinggi, apakah ada yang bisa membantu mengirimkan ke Bukittinggi bapak-bapak dan ibu-ibu?” ungkap dr Deddy di GWA Kawal Covid-19 Sumbar, Jumat (13/8/2021) pagi. “Tidak berguna banyak bed kalau oksigennya tidak ada pak,” imbuhnya.

Lebih lanjut, dia juga menyampaikan kondisi RSUD di Bukittinggi mencari-cari oksigen karena kendala kekosongan pasokan.

“RSUD cari-cari oksigen. Kemarin ke RS Madina cuma datang 9 tabung, pasien butuh oksigen banyak, bukan hanya yang Covid termasuk bukan Covid. RSAM juga pinjam pinjam oksigen,” ungkapnya.

Seharusnya, kata dia, oksigen konsentrator atau generator bisa juga membantu, tapi supaya tidak rusak, dipakai 3 jam dan 1 jam pakai oksigen tabung.

Deddy juga menceritakan kondisi saat dia menelepon dokter anestesi untuk memasukkan pasien yang butuh ventilator, tapi ternyata oksigen tidak cukup.

“Jadi, kita meminjam tabung oksigen. Jadi pasien yang akan dirujuk untuk ventilator dari RSUD tidak bisa kita rujuk, menunggu oksigen datang,” bebernya.

Deddy juga memposting foto satu orang pasien saturasi 66 yang terpaksa diberikan oksigen di rumah karena RS penuh.

Merespons informasi itu, Kepala Dinas Kesehatan Sumbar Arry Yuswandi mengatakan bahwa RSAM dapat tambahan 20 tabung oksigen.

Namun, ternyata pasokan tersebut tidak cukup. Kalau satu pasien butuh lima tabung oksigen dalam satu hari, maka pasokan 20 oksigen tersebut hanya cukup untuk empat orang. “Kalau 1 orang, butuh 15 liter per menit pak,” kata dr Deddy.

“Stok dari penyedia yang ada saat ini untuk bantu RSAM 20 tabung. Semoga pagi ini dapat suplai liquid tambahan. RSUD M. Natsir pagi ini dapat tambahan 30 tabung,” kata Arry.
Arry menambahkan bahwa distributor sedang menunggu suplai liquid. “Semoga saja segera datang,” tukasnya.
Arry juga menyampaikan bahwa pihaknya tidak hanya membantu rumah sakit pemprov saja, tapi seluruh rumah sakit.
“Semua RS kita bantu. Tidak hanya RS Provinsi. Ini (oksigen) prioritas untuk RSUD Bukittinggi dan RSAM,” tambahnya.
Menyikapi kondisi tersebut, Kepala Laboratorium Diagnostik dan Riset Terpadu Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Unand Dr Andani Eka Putra mengajak Satgas Penanganan Covid-19 Sumbar belajar dari kondisi Jawa-Bali dan rapat koordinasi di kementerian.
“Saya menyarankan, jangan menyelesaikan masalah untuk jangka pendek. Selesaikan secara komprehensif. Rasanya usulan ini sudah sering saya sampaikan, kasihan nanti jika terjadi kasus seperti di Yogya dan Magelang, di mana terjadi kematian massal akibat oksigen habis,” ingatnya.
Masukan tersebut, kata Tenaga Ahli Menkes itu, berdasarkan pengalaman yang ada. Pertam, perlunya rapat rutin logistik. “Kapan perlu tiap tiga hari. Jangan berpikir jangka pendek untuk logistik ini. Harus berpikir jangka panjang, minimal 1 bulan ke depan,” tegasnya.

Kedua, tentukan berapa kebutuhan oksigen mingguan per provinsi, kabupaten dan RS serta rerata kasus aktif atau minimal kasus dirawat.

Baca Juga:  Lima Ahli Bahas Keperawatan Pascapandemi di Padang

Ketiga, sambungnya, harus dibuat proyeksi dengan pergerakan kasus aktif atau kasus dirawat.

“Keempat, buat bilik kecil dengan tokoh Sumbar. Rapat dipimpin oleh pimpinam daerah yang agendanya,¬† bagaimana kebutuhan yang dirancang bisa masuk ke Sumbar dari produsen. DKI Jakarta sudah mulai berkurang kebutuhannya, sehingga nego langsung dengan¬† produsen menjadi mungkin, lobi politik penting di sini,” jelas Andani.

Kemudian saran kelima, dalam menjalankan berbagai upaya itu, katanya, pemda juga mesti tetap berkoodinasi dengan Kemenkes bik diminta atau tidak.

“Indikator ini berhasil, hanya satu saja, yakni tidak ada rumah sakit menjerit atau menolak pasien karena oksigen atau tidak ada pasien wafat karena oksigen,” tandasnya.

Andani juga mengingatkan dinas kesehatan bahwa saat ini banyak pasien tidak bisa masuk rumah sakit karena penuh, khususnya ruang intensif.

“Tolonglah semua RS buka 40% untuk isolasi. Saya rasa RSAM belum sampai 40% dibuka. Mohon dicek lah. Kasihan masyarakat meninggal di rumah karena tidak dapat penanganan di RS,” pintanya.

Hal itu didasarkan laporan yang bahwa cukup banyak yang wafat di luar RS. “Tapi kita belum punya data akurat, ini sama dengan kejadian Jawa-Bali. Kasus Jawa- Bali adalah pelajaran bagi kita,” ingatnya lagi.(idr)