Boleh Khawatir, tapi Jangan Panik

Kepala Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo. (jawapos.com)

Kepala Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo menegaskan bahwa potensi tingginya angka keterisian tempat tidur atau BOR (Bed Occupancy Ratio) di rumah sakit-rumah sakit rujukan di DKI Jakarta telah diantisipasi oleh pemerintah jauh hari sebelumnya.

Doni mengatakan, sekitar 2 minggu lalu ia sudah melakukan pertemuan virtual dengan pimpinan RS se-Jabodetabek. Dari situlah Satgas menyadari bahwa rasio BOR semakin tinggi. ”Jadi yang dikatakan Gubernur (DKI Jakarta, red) Anies itu benar. Sejumlah RS mengalami kapasitas penuh,” jelas Doni kemarin (13/9).

Namun Doni menyebut, penuhnya kapasitas tersebut hanya terjadi di 20 dari 67 RS rujukan di DKI Jakarta yang hanya memiliki fasilitas ICU dibawa 10 bed. ”Ada yang punya 1, 2, 3 paling banyak 8. Itu (ruangan ICU, red) memang penuh. Tapi RS yang punya ICU lebih dari 10 masih belum penuh,” kata Doni.

Saat ia bertemu dengan Gubernur DKI pada Juli lalu, Doni mengatakan, BOR masih berada di bawah 60 persen. Tetapi, beberapa hari terakhir terjadi peningkatan hingga 78 persen untuk ruangan isolasi, serta lebih dari 85 persen ruangan ICU.

”Betul ini memang mengkhawatirkan. Kalau tidak diantisipasi. 17 September akan penuh, betul. Kalau tidak dilakukan langkah-langkah. Solusinya sudah dilakukan oleh menkes. Beliau minta RS yang mengalami kesulitas ICU (untuk melapor, red) untuk ditambah (ruangan, red),” jelasnya.

Sejak Juli lalu, Doni mengatakan, Satgas sudah mengendus tren peningkatan kasus. Yang awalnya 200-300 per hari, kemudian meningkat menjadi 300-400 per hari. Pada tanggal 23 Juli selepas rapat kabinet Presiden Jokowi juga sudah mengingatkan untuk mengantisipasi lonjakan kasus di DKI.

Sementara dalam 3 minggu terakhir, Doni mengatakan, pihaknya berdiskusi intensif dengan Kadinkes DKI untuk menentukan langkah-langkah untuk mengatasi kekurangan ruang ICU dan Isolasi. ”Boleh kita khawatir, tapi jangan sampai menimbulkan kepanikan. Nanti akan menimbulkan kerugian terhadap kita sebagai bangsa,” jelasnya.

Baca Juga:  Pilgub Sumbar Masuk Kerawanan Tinggi

Persoalan BOR, kata Doni, masih bisa diatasi asalkan kerja sama dan koordinasi dengan semua pihak berjalan baik. Termasuk, unsur TNI yang mengelola RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet. Doni menyebut, Menkes sudah menawarkan para pimpinan RS untuk memindahkan pasien yang sudah dalam kondisi stabil ke Wisma Atlet.

Doni menyebut, saat ini Tower 6 dan 7 wisma atlet disamping memiliki ruangan perawatan pasien ringan/sedang. Juga masih memiliki 39 ruangan ICU, serta 45 Bed untuk isolasi. “Jadi ada sekitar 84 ruangan yang bisa dimanfaatkan. Tower 5 sudah beroperasi sejak tadi malam. Tower 4 menyusul,” jelasnya.

Terpisah, Menko Prekonomian Airlangga Hartarto mengingatkan, sebenarnya PSBB di Jakarta tidak pernah dicabut. Sehingga, dengan kondisi itu seluruh pihak perlu melakukan komunikasi publik yang tidak menimbulkan gejolak, baik di masyarakat maupun kaitannya di sektor ekonomi yang amat rentan terhadap sentiment negatif.

Sebab, hal itu bisa menimbulkan dampak capital outflow dan pelemahan nilai tukar rupiah. “Ekonomi itu faktornya 2 hal, fundamental dan sentimental. Sentimen ini dipicu oleh ketidakpastian dan kepanikan. Harapan kami adalah kita tidak membuat kejutan-kejutan pada hal yang sudah dilakukan,” ujarnya melalui virtual conference, Minggu (13/9).

Meski begitu, dia menjamin bahwa pelayanan kesehatan masih mumpuni. Kapasitas RS masih aman. Kepastian itu diperlukan agar market kembali confidence. “Jadi jangan sampai mengatakan sistem kesehatan kita tidak mampu. Itu tidak (benar),” imbuh dia.“
Ketum Partai Golkar itu juga menjamin kesiapan 67 RS di ibu kota. Bahkan, pemerintah juga menyiapkan RS cadangan di Wisma Atlet yang terus ditingkatkan kapasitasnya.

Dia memerinci, dari 67 RS itu, 40 persennya merupakan RS milik pemerintah. Sehingga, pemerintah disebutnya benar-benar mengetahui kapasitas dan kemampuan seluruh RS tersebut. (tau/dee/jpg)