Ketua IDAI Sumbar: Hepatitis Akut dan Vaksin Covid-19 Tak Ada Hubungannya

30
Ketua IDAI Sumbar Finny Fitry Yani

Kasus hepatitis akut pertama kali dilaporkan Inggris pada 5 April 2022. Tiga hari kemudian, tiga negara lain juga melaporkan kasus serupa. WHO pada 12 April menetatapkan hepatitis akut sebagai KLB (kejadian luar biasa). Setelah dinyatakan KLB, kasus ini terus bertambah. Bahkan 21 April, WHO menyebut lebih dari 170 kasus hepatitis akut terjadi di 12 negara.

Pada 1 Mei 2022, WHO menduga telah terjadi 228 kasus hepatitis akut yang kemungkinan terjadi di 20 negara dan dari jumlah tersebut, lebih dari 50 kasus masih dalam investigasi. Kasus paling banyak, terdapat di Inggris dengan total 163 kasus per 3 Mei 2022 dan 72 persen dari kasus yang terjadi di Inggris, ditemukan adenovirus.

Bahkan dari jumlah kasus di Inggris, ada 11 kasus yang harus transpalantasi hati, karena fungsi hatinya sudah sangat terganggu. “Di Indonesia pada 16-30 April 2022, diduga ada tiga kasus dan satu kasus di Sumatera Barat masuk kepada pending klasifikasi, sehingga, belum terbukti hepatitis akut,” kata Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sumbar Dr. dr. Finny Fitry Yani, Sp.A (K).

Dokter Finny yang pernah tampil sebagai narasumber pada webinar hepatitis akut yang digelar PT Semen Padang pada Jumat (13/5) itu, mengatakan, WHO telah membuat klasifikasi kasus hepatitis akut yang terdiri dari konfirmasi, probable dan epi-linked. Namun yang jelas, untuk klasifikasi konfirmasi hingga kini belum diketahui, karena para ahli di dunia masih meraba-reba penyebabnya. Sebab, pada pemeriksaan sample darah tidak ditemukan kecurigaan pada virus hepatitis A, B, C D dan E.

Penyakit hepatitis akut yang tidak diketahui penyebabnya ini banyak menyerang pada anak usia usia di bawah 16 tahun dengan perjalanan penyakit yang cepat memburuk dalam waktu yang singkat atau 1 minggu. Namun untuk hipotesis penyebabnya, kemungkinan oleh adenovirus biasa seperti karena jarang terpapar adenovirus waktu pandemi, pengaruh obat atau toksin.

Baca Juga:  Padang Dapat 100 Dosis Vaksin PMK! Penyuntikan Dilakukan Selasa Esok!

Kemudian, juga karena adenovirus varian baru, sindrom post-infeksi SARS-CoV-2, karena patogen baru: sendiri atau ko-infeksi, dan varian baru SARS-CoV-2. “Sampai kini, kita belum bisa mengambil kesimpulan mana hipotesis yang bisa dipercaya. Namun sebagian besar kasus tersebut, ternyata ditemukan adenovirus F41. Tapi belum bisa disimpulkan penyebabnya,” ujarnya.

Untuk faktor risiko, dokter Finny menuturkan hingga kini belum jelas dan masih diselidiki, serta belum ada bukti yang kuat. Namun, memang ada 2 kasus yang dicurigai tertular. Tapi, 75 persen kasusnya terdapat pada balita dan balita tersebut belum vaksin Covid-19. Tentunya, ini menjadi salah satu yang menguatkan kalau kasus hepatitis akut ini tidak ada hubungannya dengan vaksin. (*)