Harus Sesuai Langkah dan Strategi Pengendalian

13
ilustrasi. (net)

Epidemiolog Universitas Andalas (Unand), Defriman Djafri PhD melihat penyebab meledaknya pertambahan kasus positif Covid-19 akhir-akhir ini, tidak sinkronnya langkah-langkah dan upaya pengendalian Covid-19 itu sendiri. Di antaranya, upaya testing selama ini yang dinilai massif tidak diikuti dengan strategi lain seperti tracing, treatment dan isolasi, plus promosi edukasi tentang Covid-19 kepada masyarakat.

”Semua itu adalah satu kesatuan dalam pengendalian Covid-19 tersebut. Sederhananya saja, saya lihat proses isolasi mandiri di rumah terkesan tidak ada pengawasan dari instansi terkait,” jelas Defriman yang juga Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Unand itu..

Defriman menyebutkan, hal ini bisa dilihat dari informasi masyarakat bahwa pasien yang melakukan isolasi mandiri di rumah bisa menjadi pusat penyebaran virus Covid-19 akibat tidak ada pengawasan ketat.

”Testing banyak-banyak dilakukan, tapi setelah di-testing dan hasilnya positif Covid-19 dilakukan isolasi mandiri di rumah. Kemudian, tidak ada yang mengawasi yang penularan akan terulang kembali, jadi putar-putar di situ saja,” ungkapnya.

Melihat kondisi itu, Defriman menyampaikan yang kasihan itu adalah petugas di laboratorium. ”Kita membanggakan testing paling banyak, tapi kasus positif Covid-19 meningkat juga. Jadi seperti main petak umpet,” tuturnya.

Lebih lanjut Defriman menyampaikan, peningkatan jumlah kasus positif Covid-19 ini juga diikuti dengan peningkatan jumlah kematian. Ia menambahkan, selama ini banyak orang menggiring bahwasanya dengan testing banyak, maka kasus positif Covid-19 terkendali. Padahal, kasus positif Covid-19 terus meningkat yang diikuti kasus kematian.

”Yang bagus itu testing banyak dilakukan, namun angka kematian bisa ditekan,” ujarnya. Dengan kondisi saat ini, Defriman melihat, sebenarnya Provinsi Sumbar sudah terlambat dalam hal pengendalian Covid-19.

Defriman mengungkapkan, sesuatu yang baik itu adalah testing tetap konsisten dilakukan dan angka penularan virus Covid-19 rendah. ”Tapi kalau testing-nya rendah, penularan juga rendah, maka sampel tidak dikirim. Nah saat ini kan testing tinggi, jumlah kasus juga naik, ditingkatkan lagi testing, dan hasilnya kasusnya naik lagi, maka sama saja,” tukasnya.

Baca Juga:  Cristiano Ronaldo Positif Covid-19, Absen Lawan Swedia

Ia menyebutkan, mungkin saat ini upaya testing tinggi, namun orang yang diperiksa dan dinyatakan positif Covid-19 itu adalah orang yang berada di urutan terakhir dalam riwayat masa inkubasi infeksi virus tersebut. ”Yang memutus mata rantai penularan virus Covid-19 itu adalah orang pertama yang terinfeksi dan dilakukan isolasi. Upaya itu, tidak akan memberikan kesempatan untuk menginfeksi yang lain,” jelasnya.

Menurut Defriman, ketika masyarakat tidak bisa dikontrol dan dikendalikan melalui semacam perwako atau perda, solusi tepat namun tidak populer yang bisa dilakukan adalah penerapan kembali pembatasan sosial berskala besar (PSBB) seperti dilakukan DKI Jakarta.

Tapi, kata dia, ada konsekuensi dan dampak yang ditimbulkan terutama dalam sektor perekonomian, politik, dan sosial di Sumbar. ”Karena memang faktanya PSBB bisa menekan angka penularan virus Covid-19 itu, tapi dengan konsekuensi yang ditimbulkannya tadi,” tukasnya.

Sementara Kepala Laboratorium Fakultas Kedokteran Unand, Dr Andani Eka Putra kepada Padang Ekspres, Rabu (14/10) mengatakan, banyaknya jumlah kasus positif Covid-19 yang mencapai ratusan dalam satu hari, akibat massifnya tracing dan testing dilakukan oleh pemerintah dan laboratorium FK Unand.

”Sampel yang kami terima dalam satu hari ini berkisar antara 3.000 sampel 3.500 sampel. Sebenarnya dengan banyak kasus yang ditemukan, maka semakin besar harapan untuk mengendalikan kasus Covid-19 tersebut,” ujarnya.

Namun, untuk upaya pencegahan penyebaran Covid-19 di Provinsi Sumbar, Dr Andani menyarankan agar Pemprov Sumbar untuk mengeluarkan surat edaran (SE) seperti pembatasan-pembatasan yang lebih detail.

Ia mencontohkan, seperti yang dilakukan oleh DKI Jakarta atau minimal lebih detail lagi mengatur aktivitas masyarakat seperti larangan pesta pernikahan, penerapan protokol kesehatan Covid-19 ketat di industri, perkantoran, dan tempat usaha. (a)