YKC Padang Peringati Hari Kanker Anak Indonesia 2021

Yayasan Komunitas Cahaya Padang (YKC Padang) yang dikelola oleh sebagian orangtua dengan anak pengidap kanker ini, menjadi satu-satunya lembaga yang dirujuk oleh masyarakat dalam mencari informasi dan mendapatkan support.

“Selama 3 tahun lembaga ini berdiri telah melakukan banyak hal mulai dari menyediakan layanan dukungan psikologis, konsultasi keluarga, dukungan obat, bantuan konsumsi dan akomodasi, menggalang donasi, bantuan sosial anak, layanan ambulan gratis, bedah rumah dan lain sebagainya,” ujar Ketua Pengurus YKC Padang Dedi Kurnia Putra, Selasa (16/2/2021).

Memperingati Hari Kanker Anak Indonesia setiap 15 Februari, YKC Padang menyiapkan rangkaian acara yang dimulai dengan seremoni sederhana di ruang pertemuan Bangsal Anak dan Kebidanan RSUP M Djamil Padang. Kegiatan ini dibuka Direktur Umum, SDM dan Pendidikan Dr Dovy Djanas dihadiri oleh tim dokter onkologi anak, kepala instalasi kebidanan dan anak dan beberapa perwakilan pejuang kanker dan orangtuanya.

Ketua pelaksana HKAI 2021 YKC Padang, M Irfanisshadiqmenyampaikan peringatan HKAI mengangkat tema “Stay Strong, Berjuang di Tengah Pandemi”.

“Acara dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD), 20 Februari dengan beberapa orangtua pasien dalam rangka melakukan mapping terhadap persoalan yang dihadapi dalam mengakses pengobatan anak mereka, penggalangan donasi masyarakat bekerjasama dengan BEM FHUA dalam bentuk Musical Virtual Project dan akan ditutup dengan kegiatan Sehari Bersama Gubernur Sumbar yang akan dihadiri oleh perwakilan orangtua dan anak-anak pengidap kanker,” ujarnya.

Salah seorang orangtua anak pengidap kanker, Martina menyampaikan harapannya semoga perhatian pemerintah dan pihak makin bertambah terhadap kanker anak seiring dengan bertambahnya fasilitas kesehatan yang ada untuk memudahkan akses perawatan dan pengobatan bagi anak-anak pengidap kanker.

Fakta lapangan memperlihatkan keluarga dengan anak pengidap kanker masih mengalami berbagai kesulitan dalam penanganan kanker pada anak. Hal ini tercermin dari beberapa situasi seperti, pertama, masih rendahnya pengetahuan keluarga dalam hal deteksi dini kanker pada anak, sehingga hal ini berdampak terhadap keterlambatan keluarga dalam melakukan penanganan terhadap anaknya.

Kedua, kesulitan keluarga dalam mendaptkan akses terhadap pengobatan disebabkan masih terbatasnya fasilitas yang memadai dalam penanganan kanker anak maupun jauhnya jarak akses keluarga ke fasilitas yang ada.

Ketiga, dibutuhkan waktu pengobatan yang panjang sehingga tak jarang bagi keluarga miskin mereka harus merelakan tidak melakukan pengobatan secara teratur karena harus melakoni pekerjaan dalam memenuhi nafkah keluarga dan bagi sebagian lagi yang lain terpaksa berhenti bekerja demi pengobatan anak, akan tetapi kesulitan dalam memenuhi kebutuhan finansial keluarga.

Keempat, kesulitan keluarga dalam pengobatan akibat belum mendapatkan jaminan kesehatan dan kelima, lemahnya resiliensi (kemampuan menghadapi tekanan) keluarga dalam menghadapi persoalan ini. Hal ini tentu saja juga dialami oleh keluarga Pasien Kanker Anak di Sumatera Barat. (rel)