Vaksinasi April-Mei Aman, Vaksin Nusantara Dinilai Berisiko

21
ilustrasi. (net)

Kemarin (18/4), bahan baku vaksin Covid-19 dari Sinovac kembali datang. Ada enam juta bulk atau bahan baku vaksin yang dibawa pesawat Garuda Indonesia. Di sisi lain, penelitian Vaksin Nusantara masih menuai polemik.

”Kedatangan vaksin ini merupakan yang kedelapan sejak 6 Desember lalu. Ini bagian dari pengiriman 140 juta bulk vaccine yang akan kita terima tahun ini,” ujar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Total yang sudah di terima Indonesia dari Sinovac adalah 59,5 juta bulk vaccine.

Enam juta dosis bahan baku vaksin tersebut akan diolah dan diproduksi oleh PT Bio Farma. Hingga saat ini, dari kurang lebih 46 juta dosis vaksin yang telah diolah oleh Bio Farma. Sebanyak 22 juta dosis vaksin telah diterima dari BUMN.

”Diharapkan dalam satu bulan ke depan, kita bisa menerima tambahan sekitar 20-an juta dosis lagi hasil produksi dari Bio Farma,” ungkapnya. Pertambahan ini dari 6 juta bulk yang baru datang. Budi berharap vaksinasi April dan Mei bisa berjalan.

Pada Ramadhan ini, Budi mengatakan, pemerintah akan tetap menggelar vaksinasi massal secara gratis kepada masyarakat. ”Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga telah mengeluarkan fatwa bahwa vaksinasi yang dilakukan selama bulan Ramadhan tidaklah membatalkan puasa,” katanya.

Dia berharap vaksinasi kali ini tidak membuat euforia. Artinya, harus tetap waspada. Sebab, Covid-19 tetap masih ada. Untuk itu masih butuh protokol kesehatan. Dalam kesempatan lain, Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Daeng M Faqih menyatakan, vaksinasi harus dibantu banyak pihak. ”Dengan upaya yang proaktif ini diharapkan dapat membantu pemerintah,” ujarnya. Vaksinasi Covid-19 ini, menurutnya, harus ada upaya gotong royong.

Penelitian vaksin di dunia terus berkembang. Salah satunya Vaksin Nusantara yang terdapat perdebatan sejak awal. Peneliti vaksin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Soedjatmiko menyatakan pembuatan Vaksin Nusantara terlalu berisiko. ”Darah diambil kemudian dipisahkan dibiakkan sel dendritik dengan bahan-bahan impor di laboratorium,” ujarnya.

Baca Juga:  Positif Covid-19 bakal Melonjak usai Lebaran, Tempat Isolasi Dibuka

Menurutnya, jika Vaksin Nusantara dilanjutkan maka membutuhkan biaya yang mahal. Sebab untuk membuat vaksin bagi puluhan juta penduduk Indonesia, maka semua penduduk harus diambil darahnya. Soedjatmiko meragukan hal ini dapat berlangsung.

”Kemudian diproses di laboratorium khusus oleh tenaga khusus yang bisa memisahkan dendritik. Tidak bisa oleh petugas lab biasa,” ucapnya. Dia menegaskan, cara ini bisa berisiko terkontaminasi bakteri.

Selanjutnya dia menjelaskan proses dendritik ini responsnya sangat individual. Ini berkaca dari pengalaman pengobatan untuk kanker. ”Hasilnya berbeda untuk setiap orang,” kata Soedjatmiko.

Selanjutnya, dia juga mengkritisi terkait proses penelitian. Bukti vaksin benar-benar aman dan efektif dapat diketahui setelah uji klinis fase 3 ditambah pengamatan beberapa bulan. Sebelum fase ini belum selesai, bakal vaksin gak boleh disuntikan ke orang lain di luar subjek penelitian. ”Kalau uji uji klinis fase 1 belum terbukti aman dan belum ada bukti meningkatkan kekebalan, maka belum bisa dilanjutkan ke fase 2,” ucapnya.

Sementara vaksinasi untuk para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) terus diperluas. Untuk kali pertama, sebanyak 126 pekerja dari dunia perfilman tanah air mengikuti vaksinasi di Graha Persahabatan, Pondok Indah, Sabtu (17/4). Jumlah tersebut meliputi pelaku film, musik, seni pertunjukan dan bioskop, televisi, serta iven.

Menteri Parekraf Sandiaga Uno menuturkan, bakal berupaya mengakselerasikannya agar para pelaku parekraf bisa mendapat prioritas vaksin. Yakni, dengan berkoordinasi dengan kementerian maupun pihak swasta. ”Terutama, mereka yang pekerjaannya di luar rumah sehingga intensitas interaksinya tinggi,” kata dia.

Pemerintah memang telah menargetkan bakal memvaksin 30 juta orang yang bekerja di sektor parekraf secara bertahap. Dengan begitu, mereka bisa kembali melakukan produksi dan beraktivitas. Walaupun, dalam bingkai protokol kesehatan yang ketat dan disiplin. Dan, kondisi perekonomian masyarakat yang bertumpu pada sektor parekraf bisa kembali bangkit. (lyn/shf/jpg)

Previous articleMasjid Al Imam Kotobaru Kambang, Jadi Lambang Kesatuan Agama dan Adat
Next articleMU Tersingkir, Jawara Baru Datang