Tiga Negara Obati Pasien Covid-19 dengan Dexamethasone

157
Dexamethasone bisa didapatkan dengan mudah di toko obat dan harganya pun murah. (Foto: IST)

Khasiat dexamethasone baru diungkap beberapa hari. Meski begitu, beberapa negara sudah menyatakan diri siap menjadikannya sebagai obat untuk pasien Covid-19. Namun, di Indonesia efektivitas obat itu terhadap Covid-19 masih dibahas.
Arab Saudi, Pakistan, dan Inggris adalah tiga negara yang saat ini sudah memastikan akan memakai obat tersebut.

Mereka berharap obat murah yang banyak di pasaran itu benar-benar mampu menekan angka kematian akibat Covid-19. Universitas Oxford, Inggris, mengungkap efektivitas penggunaan dexamethasone pada Selasa (16/6). Inggris tentu saja langsung memastikan memakai saat itu juga. Hanya berselang sehari, Arab Saudi melakukan hal serupa.

Kementerian Kesehatan Arab Saudi setuju penggunaan obat jenis steroid tersebut untuk pasien yang menjalani perawatan di ICU dan pasien yang sudah memakai bantuan oksigen.
“Penggunaan dexamethasone itu akan dilakukan mulai pekan ini,” Demikian bunyi pernyataan Kementerian Kesehatan Arab Saudi seperti dikutip Saudi Press Agency.

Pemerintah Arab Saudi memang harus segera menemukan jalan keluar untuk mengobati para pasien secepatnya. Sebab, kasus di negara tersebut terus melonjak. Hingga Rabu (17/6) penularan harian sudah mencapai 4.919 kasus. Kemarin (18/6) total kasus di Saudi mencapai 145.991 dan korban meninggal 1.139 orang.

Sejalan dengan Saudi, Pakistan memilih untuk mencoba memakai dexamethasone. Selama ini negara tersebut lebih banyak memakai Avifavir buatan Rusia. “Ini (dexamethasone, red) adalah obat anti peradangan yang sudah lama ada serta murah dan kami punya beberapa produsennya di Pakistan,” ujar Menteri Kesehatan Pakistan Zafar Mirza.

Stok dexamethasone di negara tersebut lebih dari cukup untuk memasukkannya sebagai obat standar perawatan pasien Covid-19. Obat tersebut tidak akan diberikan kepada pasien dengan gejala ringan hingga sedang. Pemerintah juga melarang penduduk membeli serta mengonsumsi obat tersebut sendiri tanpa petunjuk dokter.

Berdasar penelitian, dexamethasone bisa mengurangi angka kematian sekitar 35 persen pada pasien yang memakai ventilator. Sedangkan untuk yang membutuhkan oksigen tambahan, obat itu bisa memangkas kematian hingga 20 persen. Harganya yang murah juga menjadi poin plus bagi negara kelas menengah seperti Pakistan.

Dexamethasone dipakai untuk mengurangi inflamasi sejak 1960-an. Ia juga dipakai untuk obat kanker jenis tertentu. Dexamethasone masuk daftar obat penting versi WHO sejak 1977. Obat tersebut tersedia di sebagian besar negara di dunia dengan harga yang relatif murah.

Sementara itu, Inggris langsung meningkatkan stok dexamethasone. Mereka juga tengah memesan 240 ribu dosis sebagai tambahan. Pengobatan dengan dexamethasone akan dipakai Lembaga Kesehatan Nasional (NHS) sebagai standar prosedur perawatan pasien Covid-19 di Inggris. “Obat ini bisa segera digunakan di seluruh dunia untuk menyelamatkan nyawa pasien,” ujar Kepala Penasihat Sains Inggris Sir Patrick Vallance.

Perusahaan-perusahaan farmasi juga mulai melirik obat tersebut untuk diproduksi masal. Salah satunya Cipla yang berbasis di India. Ia adalah salah satu perusahaan obat generik yang terbesar di dunia.

”Kami membuat tetes mata dexamethasone dan kami akan segera membuat tablet obat tersebut untuk India,” terang Chairman Cipla Yusuf Hamied seperti dikutip Financial Times.
Sementara itu, para ahli di Indonesia masih membahas kegunaan dan dampak obat tersebut. Ketua Satgas Covid-19 PB IDI Prof Zubairi Djoerban SpPD menyatakan, dalam riset yang dilakukan peneliti Inggris, ada dua hal yang dapat dipetik.

Pertama, penggunaan klorokuin (chloroquine) yang selama ini diberikan kepada pasien Covid-19 ternyata tidak efektif. Sedangkan dexamethasone dinyatakan bermanfaat bagi pasien Covid-19.

”Dalam laporan riset itu, penggunaan dexamethasone hanya sepuluh hari,” ungkapnya.
Zubairi mengaku akrab dengan obat tersebut. Sebab, ahli penyakit dalam itu sering menggunakan obat tersebut untuk penyakit autoimun. Berdasar pengalamannya, obat itu aman dikonsumsi selama dalam pantauan dokter. “Kalau ada efek samping, semua obat pasti ada. Namun bisa diminimalkan,” ujarnya.

Dexamethasone, jelas Zubairi, merupakan jenis obat G atau berbahaya. Karena itu, pasien tidak boleh membeli dan mengonsumsi obat tersebut dengan sembarangan. Namun, dia tidak memungkiri, bisa saja obat itu diperoleh dengan mudah.

Plt Ketua Program Studi Farmasi Klinik dan Komunitas Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung Neng Fisheri Kurniati mengungkapkan, hingga saat ini pihaknya belum menerima laporan lengkap tentang riwayat penggunaan obat dexamethasone pada pasien Covid-19. Terutama pasien dengan gejala gangguan pernapasan berat. (sha/lyn/tau/byu/c10/c9/oni/jpg)