Semen Padang Gelar Webinar Kesehatan tentang Asam Lambung

35

PT Semen Padang menggelar webinar kesehatan dengan tema “Penyakit-penyakit terkait dengan Asam Lambung” dengan menghadirkan narasumber dokter spesialis penyakit dalam dari Semen Padang Hospital,  Dr dr Saptino Miro SpPD-KGEH, FINASIM, Rabu (20/7/2022).

Digelar melalui aplikasi microsoft teams, webinar kesehatan tersebut diikuti ratusan karyawan Semen Padang Group, serta pihak asuransi kesehatan Ramayana.

Saptino Miro menjelaskan bahwa penyakit asam lambung ini banyak diderita masyarakat umum. Penyebabnya, stres, makan terlalu banyak, langsung berbaring setelah makan, dan makan terlalu dekat dengan waktu tidur.

Kemudian, sebut Saptino, makan makanan tertentu seperti jeruk, tomat, coklat, mint, sampai makanan pedas lainnya, serta minum teh, kopi, soda, alkohol, merokok, serta efek samping dari minum obat-obatan juga dapat menyebabkan terjadinya asam lambung.

“Harusnya, makan 3 jam sebelum tidur. Makan sering tidak apa-apa, asalkan sedikit. Karena, makan terlalu banyak bisa memproduksi asam lambung berlebihan,” kata Saptino.

Saptino juga membeberkan penyakit terkait asam lambung, yaitu Gerd dan Maag/Dispepsia. Gerd, kata Saptino, adalah kondisi ketika asam lambung naik ke kerongkongan secara berulang-ulang dalam jangka waktu yang panjang. Rasa terbakar di dada dan rasa pahit di mulut adalah tanda khas dari Gerd.

“Seseorang dikatakan menderita Gerd jika mengalami reflux asam yang persisten, dimana terjadi lebih dari dua kali seminggu. Bahkan sebuah penelitian dari hasil survei online, menunjukkan 57,6 persen dari 2045 responden di Indonesia memenuhi kriteria Gerd,” katanya.

Baca Juga:  Jalankan Amanah Prabowo, Andre Rosiade Jemput Aspirasi ke RST Reksodiwiryo

Dosen tetap Fakultas Kedokteran Universitas Andalas itu juga menyampaikan prevalensi Gerd. Kata dia, 2 dari 5 orang di Amerika pernah mengalami Gerd dalam hidup mereka, dan 1 dari 3 orang di antaranya mengalami Gerd dalam 1 minggu terakhir. “Kelompok wanita paling banyak mengalami Gerd,” ujarnya.

Jika mengalami Gerd, Saptino menyarankan untuk melakukan terapi non-farmakalogi atau tanpa obat-obatan dengan melakukan modifikasi atau mengurangi berat badan, dan meninggikan kepala lebih kurang 15-20 cm pada saat tidur, hentikan merokok dan minum alkohol, serta kurangi makanan dan obat-obatan yang merangsang asam lambung.

Kemudian terkait Maag, Saptino menyampaikan bahwa Maag beda dengan Gerd. Maag ini gejalanya adalah rasa tidak nyaman atau nyeri pada ulu hati, bengah, kembung dan perasaan cepat kenyang. Penyakit Maag ini disebabkan oleh luka di lapisan dalam lambung.

“Penyakit tukak lambung dan tukak usus 12 jari, gastritis atau radang lambung, gangguan fungsional serta stres, gangguan cemas dan depresi juga dapat menimbulkan Maag/Dispepsia. Untuk pengobatannya, tidak jauh berbeda dengan Gerd,” kata dokter spesialis kelahiran 31 Maret 1970 ini. (*)