Andani, Alghozi dan Aqua Bersatu Bantu Sulsel Tangani Pandemi

Tiga pakar dari Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Nasional Dr Andani Eka Putra, Ahmad Alghozi Ramadhan dan Dr Aqua Dwipayana bersatu membantu Sulawesi Selatan (Sulsel) dalam mengatasi pandemi Covid-19. Dengan keahliannya masing-masing mereka akan totalitas membantu provinsi itu.

Ketiganya mendapat tugas dari Kepala Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Nasional Bapak Letjen TNI Doni Monardo untuk membantu Pemerintah Provinsi Sulsel dalam menangani Covid-19. Makanya mereka sengaja terbang ke Sulsel.

Hal itu terungkap saat ketiganya  menyampaikan sharing komunikasi dan motivasi di Hotel Swiss-Belhotel Makassar yang dijadikan Posko Duta Wisata Covid-19 Sulsel.

Mereka bergantian menyampaikan pengalaman dan motivasi di depan peserta yang terdiri dari puluhan anggota Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Sulsel dimoderatori Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel Ichsan Mustari.

Dr Andani adalah Kepala Laboratorium Diagnostik dan Riset Terpadu Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand) Padang, Sumatera Barat (Sumbar). Dia bersama timnya dengan peralatan dan fasilitas yg sederhana dalam sehari mampu memeriksa hingga 2.600 spesimen. Itu prestasi yang sangat membanggakan dan luar biasa.

Laboratorium yang dipimpin Andani beroperasi mulai 20 Maret 2020 setelah mendapat ijin dari Kementerian Kesehatan. Sampai sekarang seluruh petugasnya hanya libur sehari saat Lebaran Idul Fitri.

Mereka yang berjumlah 60 orang bekerja secara bergantian selama 24 jam. Targetnya setiap hari memeriksa ribuan spesimen.

Kepada seluruh peserta pertemuan, Andani menceritakan pengalamannya saat mendirikan laboratorium itu. Semuanya serba terbatas termasuk dana.

Andani dari dana sisa riset berusaha untuk melengkapi sendiri berbagai fasilitas di laboratoriumnya. Antara lain menambah dua mesin Polymerase Chain Reaction (PCR), elisa reader, winston blood, dan sekat inkubator.

Menurut Direktur Umum dan Sumberdaya Rumah Sakit Unand Padang itu, dia juga banyak menggunakan uang pribadi untuk membeli berbagai peralatan buat laboratoriumnya. Jumlah totalnya mencapai Rp 850 juta.

“Pada Desember 2019 lalu semua peralatan itu saya hibahkan. Sengaja saya melakukan itu agar kalau saya meninggal kelak seluruh barang tersebut masih bisa digunakan,” jelas Andani.

Sesudah hibah itu dilakukan, lanjut Andani, bantuan peralatan mulai berdatangan. Jumlahnya mencapai miliaran rupiah. Seiring dengan itu laboratoriumnya disahkan untuk menangani yang terkait Covid-19.

Sedangkan petugasnya ditawarkan kepada yang punya pengalaman dengan molekuler. Mereka mahasiswa dan dosen dari berbagai bidang studi di antaranya Kedokteran, Farmasi, Biologi, Kimia, Peternakan, dan Pertanian.

Terkait optimalisasi pemanfaatan laboratorium milik Rumah Universitas Hasanuddin Makassar, Andani optimistis dalam waktu dekat bisa dilakukan. Asal semua sarannya dipenuhi.

“Tadi pagi saya sudah ketemu dan diskusi dengan Dirut Rumah Universitas Hasanuddin Makassar Prof Syafri kamsul Arif, Ibu Dr Rizalinda (laboratorium mikro), dan Prof Nasrum Massi (laboratorium mikro/Wakil Rektor 4 Universitas Hasanuddin). Sekaligus melihat laboratoriumnya yang lebih baik dari milik Universitas Andalas,” jelas Andani.

Ghozi Beberapa Hari di Makassar

Sementara itu, Ghozi panggilan akrab Ahmad Alghozi Ramadhan, pakar teknologi informasi menceritakan pengalamannya mengembangkan aplikasi data bernama fightcovid19.id.

Ahmad Alghozi Ramadhan. (Foto: IST)

Karya anak muda berusia 22 tahun itu pertama kali diapresiasi Wakil Bupati Belitung, Bangka Belitung Isyak Meirobie. Setelah sukses digunakan di sana, ditawarkan kepada Gubernur Bangka Belitung Erzaldi Rosman.

“Alhamdulillah aplikasi karya saya digunakan di sana. Saya senang sekali,” ujar Ghozi yang bekerja secara sosial.

Kemudian berlanjut ke Kepulauan Riau dan Surabaya. Sudah menunggu provinsi Kalimantan Selatan dan Sumatera Utara. Ghozi siap mengembangkannya ke provinsi lain.

Menurut laki-laki berperawakan gemuk tersebut butuh waktu lima hari untuk menyelesaikan desain pertama aplikasi tersebut. Dia bekerja siang dan malam bersama teman-temannya.

“Niat saya awalnya cuma membantu penanggulangan Covid-19 ini. Saya sangat sedih saat pertama kali mengetahui ada dokter yang meninggal karena penyakit itu. Hal tersebut mendorong saya dan teman-teman membuat aplikasinya,” jelasnya.

Mereka terus menyempurnakan aplikasi fightcovid19.id. Tujuannya agar dapat menampung ribuan data orang terkait Covid-19.

Menurut Ghozi sistem yang dibuatnya akan memetakan setiap orang yang bergerak di suatu daerah. Semuanya data dikumpulkam dari petugas pemerintah yang menjaga di pintu masuk pelabuhan di darat, laut, dan udara. Kemudian diinput ke dalam sistem.

Untuk melengkapi aplikasi ini penggunaannya didukung gelang penanda. Dipasangkan ke setiap orang yang melintas di pintu masuk.

Tujuannya, tutur Ghozi adalah untuk psikologis orang yang memakainya. Dengan pakai gelang itu mereka jadi ingat terus bahwa saat ini sedang ada wabah Covid-19. Jika ada yang dinyatakan positif melakukan isolasi mandiri dan setiap saat bisa berkoordinasi dengan petugas.

Khusus di provinsi Sulsel Ghozi siap berkontribusi secara optimal. Untuk itu dia selama beberapa hari akan berada di Makassar.

Pendekatan dengan Hati

Sedang Pakar Komunikasi Aqua Dwipayana menekankan bahwa Covid-19 tidak semata-mata masalah medis. Ada yang lebih penting yakni tentang komunikasi.

Aqua Dwipayana. (Foto: IST)

“Begitu Presiden Jokowi memberi amanah kepada Bapak Letjen TNI Doni Monardo untuk menjadi Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 saya sudah membayangkan masalah komunikasi bakal terjadi. Makanya saya mengingatkan Pak Doni tentang itu. Ternyata sekarang jadi kenyataan,” tegas Aqua.

Untuk itu kepada semua anggota Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Sulsel Aqua mengingatkan agar dengan serius dan sungguh-sungguh memperhatikan hal ini. Pendekatannya dengan hati dan selalu hati-hati.

“Sebagai anggota Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Sulsel di manapun berada selalulah menjadi teladan. Dengan konsisten melakukan itu maka insya Allah masyarakat mengikuti semua yang disarankan,” tambah anggota Dewan Pakar Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi itu.

Kepada semua Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Sulsel Aqua menyarankan semua pekerjaan mulianya sebagai ibadah. Dengan begitu tanpa beban melakukan semua aktivitas terkait Covid-19.(rel/esg)