dr Dewi: Berisiko Tinggi, Waspadai Covid 19 Klaster Keluarga

38
dr Widya Pratiwi Radam, Dokter Umum di SPH

dr Dewi Nensi Putri MARS dalam Webinar Series #2 yang digelar PT Semen Padang, Jumat (26/2/2021) menyampaikan bahwa saat ini klaster keluarga semakin merebak, dan menyebabkan laju kecepatan penyebaran virus Covid-19 semakin cepat dan luas.

Klaster keluarga menjadi trend, kata dia, disebabkan beberapa faktor. Di antaranya, karena tanpa disadari ada keluarga tertular dari orang/pasien yang tidak bergejala dan adanya anggota keluarga yang tidak menerapkan protokol kesehatan 3M.

Kemudian, perawatan pasien yang melakukan isolasi mandiri di rumah dilakukan oleh keluarga dan adanya kegiatan sosial bersama yang dilakukan oleh keluarga. “Kegiatan sosial bersama ini termasuk risiko tinggi penularan Covid-19,” ujarnya.

Dewi Nensi Putri juga membeberkan bahwa klaster keluarga sangat berbahaya dalam penularan Covid-19, dan itu disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, karena transimi Covid-19 telah masuk ke satuan unit terkecil dalam sebuat society, yaitu keluarga.


Artinya, segala kebijakan, prokol dan sistem monitoring yang diterapkan oleh pemerintah, tempat publik dan perusahaan tidak bisa menahan transmisi virus ke lingkungan terkecil, yaitu keluarga.

Kedua, dalam lingkup dan kultur sosial bangsa Indonesia yang mengutamakan silahturahmi, transmisi satu keluarga ke keluarga lainnya, membuat penularan semakin masif. “Contohnya di Bogor. Di sana, terdapat satu RT yang hampir seluruh warganya positif Covid-19,” katanya.

Penyebab ketiga, adanya warga yang bergejala, enggan melakukan tes swab, karena takut stigma (takut dikucilkan oleh masyarakat). Namun pada akhirnya, warga yang bergejala itu berperan sebagai spreader (penyebar,red)

Ia  menyebutkan bahwa penularan Covid-19 yang berasal dari klaster keluarga terus mengalami peningkatan yang signifikan. Di Jakarta dan Cirebon misalnya. Pada tahun 2021 ini, di Jakarta sebanyak 44 persen penularan Covid-19 berasal dari keluarga. Sedangkan di Cirebon sebanyak 78 persen.

Baca Juga:  Ketika Gubernur Menyapa Puluhan Pasien Covid-19 di RS Terbesar Sumbar

“Dengan adanya klaster keluarga yang begitu meningkat, tentunya rumah bukan lagi tempat yang paling aman dari penularan Covid-19. Salah satu cara mengantisipasinya, selain menerapkan 3M, usahakan juga untuk tidak menerima tamu dari luar rumah,” ujarnya.

Dokter Dewi Nensi Putri juga membeberkan potensi terinfeksi Covid-19 di dalam lingkungan rumah tangga. Menurut penelitian yang dilakukan di Wuhan, Cina, setiap satu orang terpapar Covid-19, kemungkinannya 15,6 persen akan menularkan ke anggota keluarga satu rumah lainnya.

Kemudian, anggota keluarga yang usianya di atas 60 tahun memiliki risiko terinfeksi yang lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya. “Artinya, risiko penularan dan timbulnya gejala akan meningkat seiring dengan usia anggota keluarga,” bebernya.

Sedangkan untuk bayi berusia 0-1 tahun, lanjut Dewi Nensi Putri, lebih mudah terinfeksi dibandingkan anak-anak berumur 2-12 tahun, karena sistem imunitas bayi usia 0-1 tahun belum sekuat anak-anak yang berumur lebih tua.

Dewi Nensi Putri juga membeberkan profil risiko penularan Covid-19 di setiap keluarga. Kata dia, orang yang tinggal sendirian di rumah, termasuk risiko paling rendah terpapar Covid-19. kemudian keluarga kecil yang membatasi mobilitas dan hanya keluar rumah jika ada hal penting, termasuk risiko sedang penularan Covid-19.

Selanjutnya anggota keluarga yang masih sering berkegiatan di luar rumah, termasuk keluarga yang memiliki risiko tinggi penularan Covid-19. “Sedangkan risiko sangat tinggi penularan Covid-19, adalah orang yang tinggal di rumah tangga multi generasi (kakek, nenek, ibu, bapak, anak atau bayi), dan tinggal di lingkungan padat penduduk,” tuturnya. (*)