Kasus Kematian Harian Capai Angka Tertinggi

27
ilustrasi korona. (Shutterstock)

Pertambahan kasus kematian mencapai angka tertinggi, kemarin (28/1). Yakni 476 kasus kematian dalam sehari. Jumlah kematian kumulatif tanah air mencapai 29.331 orang.
Meski demikian, menurut Jubir Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito, secara prosentase nasional mingguan, angka kematian cenderung menurun sebesar 3,0 persen dibandingkan minggu lalu yang mengalami kenaikan sebesar 37,4 persen. ”Ini perkembangan yang cukup baik. Angka kematian mengalami penurunan bersamaan dengan menurunnya angka kasus positif mingguan,” jelas Wiku kemarin.

Meski demikian, ia berharap pada semua pihak jangan berpuas diri dengan penurunan angka kematian ini. Meskipun mengalami penurunan, Kematian adalah kematian. ”Satu angka saja terhitung nyawa dan tidak dapat ditoleransi,” katanya.

Wiku menuturkan bahwa hingga saat ini belum ada satu orang ahli pun yang bisa menjamin dan memprediksi apakah virus Covid-19 bisa benar-benar dihilangkan dari Indonesia bahkan setelah proses vaksinasi dan tercapainya kekebalan komunitas.

”Banyak dari kita yang berandai-andai untuk bisa beraktivitas normal sebagaimana sebelum pandemi. Padahal, sampai saat ini belum ada ahli yang bisa menjamin dan memprediksi sampai kapan virus ini bisa benar-benar dihilangkan dari Indonesia,” jelasnya.

Selain itu, Wiku mengatakan juga tidak ada yang tahu sampai kapan kekebalan yang dihasilkan oleh vaksin akan bertahan. Layaknya vaksinasi tetanus yang harus secara berulang diberikan karena penyakit ini belum bisa ter eradikasi dari Indonesia secara sempurna.

Tapi menurutnya semua pihak harus tetap optimis, bahwa semakin banyak yang divaksinasi, maka resiko penularan semakin kecil. ”Kemudian kita semua dapat hidup produktif dengan pelonggaran bertahap selama laju penularannya bisa dikendalikan dengan baik,” jelasnya.

Sementara itu Menristek Bambang Brodjonegoro menyampaikan kegiatan riset dan pengembangan tahun ini masih berfokus pada penanganan pandemi Covid-19. Khususnya terkait kemampuan tracing atau pelacakan dan vaksinasi. Dalam paparannya soal outlook Kemenristek 2021, sedikitnya ada tiga riset inovasi soal pelacakan dan vaksinasi Covid-19.

Di antaranya adalah kotap penyimpanan vaksin portable hemat energi oleh Universitas Indonesia. ”Inovasi ini mendukung agenda vaksinasi,” kata Bambang, kemarin (28/1). Dengan berbentuk penyimpanan portable, maka bisa mengatasi sulitnya akses listrik serta infrastruktur jalan dalam pendistribusian vaksin.

Inovasi lain di terkait vaksinasi Covid-19 adalah kit pendeteksi antibodi. Seperti diketahui tujuan vaksinasi Covid-19 adalah membangkitkan antibodi di dalam tubuh. Nah dengan adanya kit tersebut, bisa digunakan untuk mengetahui apakah sudah muncul antibodi pada seseorang yang sudah divaksin. Selain itu untuk mengetahui apakah antibody yang muncul masih banyak atau sudah lemah. Sehingga perlu di-boosting vaksinasi kembali.

Kemudian, Bambang mengatakan riset penting lainnya adalah inovasi ventilator ICU pertama di Indonesia. Dia menjelaskan ventilator ICU berbeda dengan ventilator pada umumnya. Ventilator ICU ini mutlak membutuhkan tahapan uji klinis kepada pasien langsung. ”Uji klinis ini tidak mudah,” katanya.

Ada lima lembaga yang menjalankan riset inovasi ventilator ICU itu. Yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), serta Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Satu lagi digarap oleh perusahaan swasta.

Bambang berharap, tahun ini inovasi ventilator ICU bisa lolos uji klinis sehingga bisa segera digunakan. Ventilator ICU digunakan untuk pasien Covid-19 dengan keparahan yang tinggi atau kritis. Dengan adanya ventilator ICU diharapkan bisa mengurangi ketergantungan dengan impor.

Untuk pelacakan kasus Covid-19 Bambang mengatakan saat ini sedang diteliti inovasi alat deteksi Covid-19 berbasis air liur. Sehingga, proses pengambilan sampel tidak serumit swab yang harus dimasukkan sampai ke ujung lubang hidung. ”Tetapi kita tetap mengutamakan keakurasian hasil,” katanya. Selain itu swab tetap menjadi acuan utama.

Bambang juga mengatakan, LIPI saat ini sedang melakukan riset RT-Lamp. Inovasi ini bisa mempermudah pembuatan laboratorium RT PCR. Sehingga, keberadaan laboratorium sekelas RT PCR bisa dibangun di banyak tempat.

Kepala LIPI Laksana Tri Handoko mengatakan inovasi RT-Lamp adalah teknologi uji virus yang langsung mendeteksi keberadaan virus SARS-CoV-2 penyebab pandemi Covid-19. Sehingga, tidak perlu lagi mesin RT-PCR. ”Saat ini sedang uji validitas awal. Sudah ada izin edarnya,” katanya.

Baca Juga:  Covid-19, Semen Padang Fasilitasi Karyawan Vaksin Booster Gelombang Ketiga

Namun, tim masih menunggu izin produksi dan hasil uji validitas yang lebih masih. Handoko mengatakan, inovasi RT-Lamp tersebut digarap LIPI bersama PT BioSM.

Desak Gebrakan Konkret

Sementara itu, legislatif dari pihak oposisi mendesak pemerintah melakukan gebrakan mengingat kasus positif Covid-19 telah mencapai angka 1 juta di Indonesia. Anggota legislatif dari Fraksi PKS menyarankan agar PPKM diperketat atau diperbaiki hingga opsi lockdown.

Anggota Komisi IX DPR dari Fraksi PKS Netty Prasetiyani menyatakan bahwa penanganan pandemi dari hulu ke hilir masih berantakan. Beberapa persoalan yang masih menjadi PR antara lain 3T yang belum merata, protokol kesehatan yang longgar, hingga insentif tenaga kesehatan yang belum 100 persen.

Ia menyatakan, adanya moral hazard di mana pengelolaan anggaran pandemi menjadi ajang bagi-bagi juga memperburuk tata kelola penanganan pandemi. ”Jadi kalau pemerintah menyebut telah mengendalikan krisis pandemi dan ekonomi dengan baik, menurut saya ini asumsi-asumsi yang patut dipertanyakan kebenarannya,” jelasnya secara tertulis kemarin.

Netty mendesak pemerintah memperbaiki penanganan dari hulu ke hilir tersebut. Serta, memastikan aturan pembatasan warga negara asing yang masuk betul-betul dilaksanakan, tidak memberi pengecualian apalagi yang berpotensi membawa virus varian baru ke dalam Indonesia.

Senada, Anggota Fraksi PKS Mardani Ali Sera menilai, penanganan belum optimal. Terbukti dengan masih longgarnya penerapan protokol kesehatan dan pembatasan sosial, maka diperlukan solusi yang lebih efektif. ”Akan sulit jika pemerintah hanya mengandalkan vaksin untuk mengatasi pandemi,” jelas Mardani.

Dia menyarankan pemerintah secara nasional menarik rem darurat dan bila perlu menerapkan lockdown. Juga meminta pemerintah pusat secara tegas melaksanakan pembatasan masuknya warga negara asing. Ini sekaligus menjadi kritik bagi masuknya 153 WN Tiongkok di tengah masa pembatasan hingga 8 Februari mendatang.

Pertumbuhan kasus baru serta kebutuhan tenaga kesehatan untuk membantu vaksinasi juga mendorong TNI untuk menambah tenaga kesehatan. Belum lama, Mabes TNI merekrut ratusan perwira prajurit karir. Kemarin, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto melantik mereka. Secara keseluruhan 164 perwira berlatar belakang tenaga kesehatan yang dilantik. Mereka berasal dari tiga matra TNI. Yakni TNI AD, TNI AL, dan TNI AU.

Panglima TNI menyatakan bahwa saat ini tenaga kesehatan sangat dibutuhkan. Karena itu, instansinya melaksanakan rekrutmen. ”Sejak awal tenaga kesehatan TNI sudah berperan sebagai ujung tombak dalam penanganan pandemi Covid-19,” kata dia. Tidak hanya di rumah sakit darurat (RSD) yang dibuat khusus untuk menangani pasien Covid-19, mereka juga berada di garda depan di 109 rumah sakit milik TNI yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kepada ratusan perwira prajurit karir yang kemarin dilantik, Hadi menyampaikan bahwa pelantikan adalah pintu gerbang menuju medan tugas. Setelah dilantik, mereka punya kewajiban untuk bertugas demi bangsa dan negara. ”Bearti para perwira akan mempersembahkan yang terbaik dalam pengabdiannya,” pesan mantan kepala staf angkatan udara (KSAU) tersebut. Dia memahami, tugas berada di garda depan melawan Covid-19 tidak mudah. Namun, itu harus dilakukan.

Hadi meminta mereka memegang teguh sapta marga, sumpah prajurit, serta delapan wajib TNI yang sudah mereka ucap. Dia percaya, kehadiran para perwira tersebut memberi suntikan tenaga untuk petugas medis yang sudah bekerja sejak awal pandemi. Orang nomor satu di tubuh TNI itu pun menyatakan, para perwira yang baru dilantik bakal turut berperan dalam vaksinasi yang tengah berlangsung. ”Sebagai bentuk kontribusi nyata TNI menyukseskan program nasional itu,” ujarnya.

Secara terperinci, Hadi menyebutkan, 164 perwira prajurit karir khusus tenaga kesehatan yang dia lantik kemarin terdiri atas 100 personel TNI AD, 42 personel TNI AL, dan 22 personel TNI AU. Setelah dilantik, mereka langsung disebar untuk menjalankan tugas di berbagai daerah. Hadi ingin mereka tidak cuma bekerja sebaik mungkin, melainkan terus menambah kemampuan dan senantiasa bekerja sama dengan petugas medis dari instansi lainnya. (tau/wan/deb/syn/jpg)