Padang Kembali Zona Orange

66
Kondisi Pasar Raya Padang penuh sesak pengunjung. Pertengahan bulan Ramadhan ini, Pasar Raya diserbu pengunjung untuk membeli keperluan menyambut Lebaran. Akibatnya prokes diabaikan. (IST)

Kota Padang kembali berstatus zona orange penyebaran Covid-19. Sebelumnya Kota Padang masuk ke dalam zona kuning dengan risiko penularan rendah. Hal itu berdasarkan dari 15 indikator penilaian epidemiologis, dimana Kota Padang berada pada nilai 2,33 dengan risiko sedang. Artinya penularan Covid-19 berada pada zona orange.

“Pada Rabu (28/4) kemarin, jumlah kasus Covid-19 di Kota Padang mencapai 17.455 orang, dengan sembuh 16.405 orang dan meninggal 320 orang,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang Ferimulyani di Media Center Balaikota Padang, Rabu (28/4).

Kondisi ini tentunya berdampak terhadap zonasi Kota Padang karena kalau dilihat dari akhir November, Desember sampai awal April kasus terkonfirmasi Covid-19 di Kota Padang bisa dikendalikan.

Namun memasuki minggu pertama April mulai terjadi peningkatan dan peningkatan itu tidak terkelompok pada satu klaster. “Temuan kasus kita yang meningkat ini karena kita bekerja. Daripada kita biarkan orang tanpa gejala tidak diketahui tentu lebih baik kita temukan, walaupun secara statistik kita berubah dari zona kuning menjadi zona orange,” kata Ferimulyani.

Oleh karena itu, pihaknya melakukan upaya pengendalian dengan melakukan tracing dan testing masif. Sebagaimana diketahui, peningkatan kasus di Kota Padang berasal dari sekolah boarding school (sekolah berasrama) Ar Risalah.

“Kita mencurigai ada kasus beberapa anak yang pulang karena demam. Setelah diperiksa ternyata positif Covid-19. Nah itulah dasar kita pada awalnya untuk melakukan pemeriksaan epidemiologi lebih lanjut di sekolah tersebut,” ungkapnya.

Dari 3 kasus positif Covid-19 yang terungkap, pihaknya melakukan pemeriksaan kontak erat. Ada sekitar 30 kontak eratnya yang diswab. Dan dari 30 anak itu, sebanyak 25 anak positif Covid-19.

Mendapati temuan kasus tersebut, Pemko Padang tidak mau mengambil risiko lebih banyak lagi, maka selanjutnya dilakukan pemeriksaan massal di sekolah tersebut. “Semua orang yang ada di pesantren itu kita lakukan swab. Lebih kurang ada 1.500 orang yang kita swab. Dimana tahap awal kita melakukan pemeriksaan sebanyak 614 orang. Hasilnya 122 siswa dan 3 tenaga pendidik positif Covid-19,” tutur Ferimulyani.

Inilah yang menyebabkan terjadinya lonjakan kasus positif di Kota Padang. Tetapi lonjakan kasus ini hanya terkonsentrasi pada sekolah tersebut dan tidak tersebar ke masyarakat.
Sehingga menyebabkan positivity rate Covid-19 di Sumbar 16 persen. Itu tidak saja kontribusinya Kota Padang tetapi seluruh kabupaten/kota yang ada di Sumbar.

Baca Juga:  Positif Covid-19 bakal Melonjak usai Lebaran, Tempat Isolasi Dibuka

Hari berikutnya kembali dilakukan swab. Total sampai hari kemarin sebanyak 239 positif Covid-19 dan masih ada beberapa lagi yang hasilnya telat keluar. “Mungkin hari ini (kemarin, red) kita bisa tahu jumlahnya. Masih bertambah sekitar 245 orang yang positif,” jelasnya.

Semua yang positif tersebut kemudian diisolasi di sekolah tersebut agar mereka tidak menulari ke orangtua atau keluarganya di rumah. “Nantinya mereka yang positif ini setelah dua kali dilakukan swab dengan hasil negatif maka mereka dikembalikan ke orangtua,” katanya.

Ferimulyani menyebut, langkah ini dilakukan sebagai upaya untuk memutuskan penularan Covid-19. “Jadi temuan kasus yang tinggi adalah upaya kita memutus penularan. Temuan kasus tidak akan ada kalau kita tidak lakukan swab massal,” ungkapnya.

Namun ada konsekuensinya, dimana akan ditemukan kasus positif yang lebih banyak. “Jadi ini saya sampaikan supaya kita mempunyai mindset yang sama terhadap pemahaman, dimana semakin banyak kasus positif bukan berarti semakin jelek. Kalau misalnya kita tidak melakukan swab maka tidak ketemu kasus positif. Pilih mana? Kita temukan atau tidak kita temukan, maka kita memilih untuk menemukannya supaya bisa memutus mata rantai penularan Covid-19,” bebernya.

Sehingga untuk penghitungan pada minggu ke-56 dari kejadian Covid-19 ini, Kota Padang pindah dari zona kuning menjadi zona orange untuk satu minggu ke depan. “Jadi Pesantren Ramadhan yang diselenggarakan di 1.600 masjid dan mushala di Kota Padang belum ada ditemukan kasus positif penularan dari kegiatan Pesantren Ramadhan ini. Hal itu karena kita menerapkan protokol kesehatan yang ketat dan pengawasan yang berlapis,” jelasnya.

Ferimulyani mengakui, memang ada 1 kasus di Gunung Pangilun dimana 1 orang garin dan 1 orang pengurus masjid positif, tetapi itu kejadiannya sebelum Pesantren Ramadhan diadakan.

“Semua kontak erat dengan mereka kita swab termasuk peserta pesantren sebanyak 26 orang, alhamdulillah hasilnya negatif. Artinya tidak ada klaster penularan Covid-19 di masjid tersebut,” ucapnya.

Menyikapi meningkatnya kasus positif Covid-19 saat ini, ia mengingatkan masyarakat untuk selalu mematuhi protokol kesehatan. “Jangan abai dengan protokol kesehatan yakni memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun dan menjauhi kerumuman,” imbaunya. (eri)

Previous articleKans Besar Mercedez dan Red Bull
Next articleGiliran Raize dan Rocky jadi Andalan