1,5 Juta Nakes Prioritas Pertama Dapat Vaksin

23
ilustrasi. (jawapos.com)

Vaksin menjadi salah satu harapan dalam penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Penelitian dan pengujian terus dilakukan. Tak terkecuali di Indonesia. Menlu Retno Marsudi menjelaskan, pemerintah telah berkomunikasi dengan tim uji klinis Universitas Padjajaran Bandung. Hingga saat iniuji klinis tahap III dinyatakan berjalan dengan lancar. ”Dan tidak diperoleh efek yang berat,” terangnya usai rapat kabinet terbatas virtual yang dipimpin presiden Joko Widodo kemarin.

Pihaknya juga terus memantau persiapan Bio Farma untuk memproduksi vaksin hasil kerja sama dengan Sinovac itu. Tim ahli Sinovac juga telah datang ke Bandung pekan lalu untuk meninjau gedung 21 dan 43 yang menjadi production site vaksin Bio Farma. Sekaligus, mengobservasi pelaksanaan uji klinis fase ketiga di Bandung dan sekitarnya. Bio Farma sendiri saat ini memiliki kapasitas produksi 250 juta dosis vaksin per tahun.

Sebaliknya, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) juga akan melakukan on site visit ke fasilitas Sinovac di Beijing. BPOM akan melihat secara langsung kualitas vaksin tersebut. ”Ini merupakan salah satu bagian dari kehati-hatian dalam mempersiapkan vaksin yang akan digunakan di Indonesia,” lanjut Retno.

BPOM juga sudah bertemu otoritas UEA dan sepakat untuk berbagi data terkait uji klinis. Sharing data sangat penting bagi BPOM dalam rangka rencana penggunaan vaksin dari Sinofarm dan G42. BPOM harus memastikan keamanan, efikasi atau khasiat, dan kualitas vaksinnya.

Yang jelas, tambah Retno, pemerintah berupaya melakukan vaksinasi secara tepat waktu. ”Vaksinasi akan dilakukan secara hati-hati dan seksama,” tambahnya. BPOM akan mengawasi dan mengotorisasi, sementara Kemlu memfasilitasi komunikasi dengan pihak luar.

Awal bulan ini, Menteri BUMN sekaligus Ketua Pelaksana Komite Penanggulangan Covid-19 Eric Tohir memastikan 93 juta orang akan menerima vaksin. Dia menegaskan bahwa 1,5 juta dokter dan tenaga medis lainnya akan mendapat paling awal. Alasannya karena mereka bekerja di garda terdepan. Dia berharap imunisasi Covid-19 ini akan selesai dalam enam bulan.

Baca Juga:  Ubah Kebiasaan Lama, Saatnya Anak Muda Berkontribusi Hadapi Covid-19

Humas PB IDI Abdul Halik Malik menyatakan bahwa lembaganya menyetujui pemberian vaksin Covid-19 pada dokter. ”Terkait prioritas penerima vaksin Covid sudah dikoordinasikan bersama Satgas dan organisasi profesi kesehatan lainnya,” ungkapnya kemarin (28/9). Dia menyatakan bahwa vaksin ini dikhususkan kepada tenaga medis yang bertugas di pelayanan garda depan.

Sebelumnya, Ketua PB IDI Daeng M Faqih mengatakan bahwa vaksin memiliki kekuatan untuk melindungi. Namun ada keterbatasan waktu dalam memberikan imunitas. Setidaknya kekebalan akan terbentuk maksimal hingga 2 tahun. Sehingga, dia mendesak agar pemberian vaksin dilakukan serentak.

Daeng juga berjanji membantu mengkoordinasi pemberian vaksin ke masyarakat. Menurutnya, dokter, perawat, dan bidan biasa untuk melakukan vaksinasi. ”Kami bantu satgas dalam penyuntikan vaksin dan dikoordinasikan hingga tingkat kecamtaan,” ujarnya.

Peran TNI dalam penanggulangan pandemi virus korona di tanah air dipastikan tidak akan berhenti. Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto menegaskan hal itu. Menurut Hadi, seluruh angkatan sudah disiapkan untuk mendukung operasi kemanusiaan terkait Covid-19. Mulai distribusi peralatan kesehatan sampai nanti vaksin diberikan. ”Sejak awal penanganan Covid-19, TNI mendukung semua langkah yang ditempuh pemerintah,” ungkap Hadi.

Menurut Hadi, TNI hadir untuk memastikan supaya penyebaran virus korona tidak meluas. Dia sudah keliling dan bertemu pimpinan TNI di daerah untuk memastikan kesiapan operasi tersebut. ”Termasuk ketika kelak (TNI) harus mendistribusikan vaksin ke seluruh daerah,” terang mantan kepala staf angkatan udara (KSAU) itu. Dia memastikan bahwa tri matra TNI siap melaksanakan tugas tersebut.

Semua prajurit berikut peralatan angkut yang mereka miliki sudah disiapkan untuk bergerak. ”TNI sendiri, sekali lagi, siap untuk mendukung segala upaya dalam menghadapi wabah Covid-19,” imbuhnya. Namun demikian, Hadi juga menyebut, perang melawan Covid-19 tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Semua pihak harus turut serta. Termasuk di antaranya masyarakat. Dia berpandangan, tanpa masyarakat perang itu akan terasa kian berat. (byu/syn/lyn/jpg)