17 Persen Warga Yakin tak Tertular

25
ilustrasi. (net)

Kesadaran dan pemahaman masyarakat pada bahaya Covid-19 masih rendah. Hal itu tercermin dari survei Perilaku Masyarakat di Masa Pandemi yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, dari survei tersebut diketahui masih ada masyarakat yang sangat yakin bahwa dirinya tidak akan terinfeksi atau tertular Covid-19. ”Sebanyak 17 dari 100 responden mengatakan bahwa mereka sangat tidak mungkin atau tidak mungkin tertular Covid-19. Jadi ada 17 persen, ini presentase yang lumayan tinggi,” ujarnya di Jakarta, kemarin (28/9).

Suhariyanto menjelaskan, berdasar jenis kelaminnya, baik laki-laki maupun perempuan sama-sama meyakini bahwa dirinya tak akan tertular. Adapun untuk responden laki-laki mencapai 16,9 persen dan perempuan mencapai 17 persen.

Dia melanjutkan, persepsi tidak mungkin tertular itu amat erat kaitannya dengan latar belakang pendidikan yang dimiliki. Mayoritas yang yakin tak akan terinfeksi itu berasal dari jenjang SD yakni sebesar 33,69 persen. ”Ketika pendidikannya rendah, mereka yakin bahwa ‘saya pasti nggak tertular’. Tetapi semakin pendidikannya tinggi, kesadarannya sudah tinggi,” imbuhnya.

Sementara, jika dilihat berdasarkan penerapan protokol kesehatan di tempat umum, sebanyak 17,32 persen responden mengaku bahwa lokasi pasar tradisional dan pedagang kaki lima yang dikunjunginya tidak menerapkan protokol kesehatan sama sekali.
Disusul tempat ibadah (5,78 persen), tempat kerja (2,08 persen), mall/tempat perbelanjaan (1,69 persen), serta pelayanan publik (1,40 persen). ”Catatan khusus untuk pasar/pedagang kaki lima dan tempat ibadah. Dua tempat ini perlu perhatian lebih ketika melakukan sosialisasi protokol kesehatan,” imbuh dia.

Dia melanjutkan, penerapan itu terkait dengan aspek kewajiban jaga jarak, mencuci tangan, menggunakan masker, dan pemeriksaan thermogun. Suhariyanto menambahkan, pemerintah perlu memberikan perhatian lebih pada lokasi-lokasi tersebut dengan langsung memberikan prasarana yang diperlukan.

BPS juga menilai, kepatuhan mencuci tangan dan menjaga jarak perlu ditingkatkan dengan berbagai sosialisasi. Mengingat, masih ada masyarakat yang tidak patuh menerapkan protokol kesehatan. BPS menyampaikan, sebanyak 55 persen responden berpendapat tidak adanya sanksi menjadi asalan masyarakat tidak menerapkan protokol kesehatan.

Sebanyak 39 persen responden menilai masyarakat tidak patuh protokol kesehatan karena tidak ada kejadian penderita Covid-19 di lingkungan sekitar. Sedangkan sebanyak 33 persen responden menilai masyarakat tidak patuh protokol kesehatan karena dianggap mengganggu pekerjaan.

Baca Juga:  Harus Sesuai Langkah dan Strategi Pengendalian

”Satu hal lagi, pendapat dari responden, sebanyak 19 persen tidak menerapkan protokol kesehatan karena aparat atau pimpinan mereka tidak memberi contoh,” ujar dia. Sehingga. ke depan seluruh pimpinan aparat harus memberi contoh di depan agar masyarakat mengikuti.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo menyebut, jumlah 17 persen dari responden BPS yang meyakini tak akan tertular angka yang sangat besar. Jika dianalogikan berdasar hitungan dari persentase penduduk Indonesia, artinya masih ada sekitar 45 juta orang yang merasa yakin tak akan terpapar Covid-19.

”Angka ini suatu angka yang sangat besar sekali. Padahal kita semua tahu bahwa status yang kita hadapi sekarang adalah pandemi. Artinya, tidak ada satu jengkal tanah pun yang akan betul-betul aman atau bebas dari Covid-19,” katanya.

Doni mengingatkan dalam waktu yang sangat cepat, semua bisa tertular Covid-19. Sebab, media transmisi penularan Covid-19 adalah manusia. Berbeda seperti halnya flu burung dan flu babi yang mengantarkan virusnya adalah hewan. Dengan kondisi itu, perlu kesadaran dari seluruh kelompok masyarakat untuk benar-benar menjalankan protokol kesehatan dengan benar. Sebab, hingga kini masih banyak yang belum aware terhadap kondisi pandemi.

”Inilah yang harus kita lakukan bagaimana kita secara bersama-sama menggerakkan seluruh instrumen baik yang ada di pusat maupun di daerah dengan kolaborasi pentahelix berbasis komunitas,” tutur dia.

Menurut dia, data survei tersebut amat penting bagi pengambilan kebijakan yang akan dilakukan pemerintah ke depannya. Dia juga menegaskan bahwa tenaga kesehatan adalah benteng terakhir dalam penanganan Covid-19. ”Dan kita harus menjadikan dokter, tenaga kesehatan benteng terakhir bangsa kita. Apa yang kita lakukan sekarang, apa yang diminta oleh pemerintah oleh WHO dan juga pakar-pakar epidemiologis, pakar kesehatan masyarakat adalah kita harus patuh kepada pada protokol kesehatan,” tegasnya.

Survei Perilaku Masyarakat di Masa Pandemi Covid-19 menggunakan rancangan Non-Probability Sampling yang merupakan kombinasidari Convenience, Voluntary dan Snowball Sampling. Menurut BPS, metodologi ini dilakukan untuk mendapatkan respons partisipasi sebanyak-banyaknya dalam kurun waktu 1 minggu pelaksanaan survei yakni 7-14 September 2020. Adapun jumlah responden dalam survei tersebut yakni 90.967 orang. (dee/jpg)