Penanganan Covid-19 di Sumbar Mirip Korsel, Diprediksi Berakhir Juli

Penanganan virus korona baru (Covid-19) di Sumbar dinilai sudah berada pada jalur yang benar. Bahkan, model penanganannya mirip dengan apa yang telah dilakukan Korea Selatan dan sesuai dengan yang diinginkan Badan Kesehatan Dunia (WHO).

“Sumbar sudah on the track dalam penanganan Covid-19. Belum terlihat tanda-tanda terjadinya outbreak (lonjakan kasus yang besar seperti di Amerika Serikat). Semoga tidak pernah terjadi,” ungkap Kepala Pusat Diagnostik Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (FK-Unand) Dr. dr. Andani Eka Putra.

Di Sumbar, lanjut Andani, identifikasi dini dilakukan melalui pemeriksaan PCR (polymerase chain reaction) yang dilanjutkan isolasi dan perawatan pasien Covid-19 secara sistematis. “Model penanganan Sumbar hampir mirip seperti Korea Selatan,” imbuhnya.

PCR adalah pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi keberadaan material genetik dari sel, bakteri, atau virus.

Lonjakan pasien positif yang pernah ditemukan 23 orang dalam sehari pada Selasa (28/4/2020), dan hari ini total sudah mencapai 149 orang, menurut Andani justru menggembirakan.

“Karena sebagian besar kasus positif itu adalah orang tanpa gejala (ODP dan OTG) yang aspek pentingnya adalah mereka kelompok yang dapat menularkan penyakit pada orang lain,” imbuhnya.

Di sisi lain, kondisi tersebut menggambarkan kemampuan Sumbar dalam pengendalian dan penanganan Covid-19, khususnya dalam memutus rantai penularan terlihat sudah berada pada jalur yang benar.

“Tidak banyak provinsi lain yang bisa melakukannya hingga hari ini. Mereka masih dihadapkan dengan deteksi pasien dalam pengawasan (PDP),” tukas dokter yang memimpin pemeriksaan swab pasien di Laboratorium Biomedik FK-Unand ini.

Ketepatan dan kecepatan Sumbar dalam mendeteksi sumber penularan secara dini menggunakan PCR, katanya bagian dari proses penanganan pandemi Covid-19 yang tujuannya memutus rantai penularan.

Jika upaya pemutusan tersebut sukses, maka Sumbar diperkirakan tidak akan mengalami puncak, seperti halnya di Korea Selatan.

“Keadaan tersebut menjadi berbeda jika jumlah kasus Covid-19 tersebut umumnya adalah PDP, yang tidak ada hubungan dengan sumber penularan. Kalau itu terjadi, maka terjadinya puncak serangan (lonjakan kasus) di Sumbar menunggu waktu,” ujar Andani.

Dia mengingatkan agar tren seperti sekarang terus dipertahankan. Deteksi dini diperluas dan diperbanyak serta isolasi dan karantina dilakukan semua komponen secara bersama-sama secara ketat.

Lalu, pemahaman masyarakat harus terus semakin membaik, dan pengawasan terhadap pendatang dilakukan dengan ketat.

Informasi berkaitan dengan jumlah kasus positif yang dikonfirmasi dan wilayah sebaran juga terus disampaikan kepada masyarakat.

“Jika itu dilakukan, maka diperkirakan pada Juni atau Juli mungkin Sumbar akan terbebas dari Covid-19,” kata Andani.

Indikator yang mulai terlihat saat ini, katanya PDP yang positif Covid-19 semakin menurun. Sebaliknya ODP dan OTG yang positif semakin meningkat.

Pola penanganan seperti itu sama dengan yang diinginkan WHO sehingga kemungkinan outbreak sangat kecil, bila semua pihak bersama-sama berupaya melakukan apa yang sudah berjalan baik.

“Jadi, pada prinsipnya apa yang dilakukan di Sumbar sudah mengarah apa yang direkomendasikan WHO terkait penanganan wabah. Untuk pasien positif, Sumbar sudah menetapkan kasus Covid-19 ringan agar dikarantina di Bapelkes dan diklat, kasus sedang dan berat di rumah sakit khusus covid dan rujukan,” katanya.

Di Sumbar, OTG dan PDP sudah dites swab. Laboratorium Diagnostik dan Riset FK Unand setiap hari menerima 300-400 sampel dari berbagai daerah di Sumbar. Bahkan, terbaru, pihaknya juga menerima uji swab dari Provinsi Bengkulu.

“Laboratorium kami menargetkan mampu memeriksa 700-800 sampel/hari sehingga mampu membantu daerah lain yang fasilitasnya terbatas,” imbuhnya.

Andani berharap masyarakat jangan panik dengan jumlah pasien positif yang melonjak drastis. Hal itu menurutnya akan membawa kebaikan dalam pemutusan rantai penyebaran.

Petugas kesehatan juga harus tetap yakin bisa menanganani karena mereka adalah benteng terakhir perang melawan Covid-19. Tentunya mereka harus disediakan perangkat alat pelindung diri (APD) yang lengkap.

“Kita harus memahami bahwa aspek penting wabah adalah penyebaran. Maka prinsip mengatasinya adalah bagaimana cara mencegah penyebaran,” ingatnya.

Pemeriksaan Masif
Saat ini terdapat beberapa kabupaten dan kota di Sumbar yang masih belum ada penderita Covid-19 yang dilaporkan, seperti Kota Padangpanjang, Kabupaten Agam, Limapuluh Kota, Solok Selatan dan lainnya.

Namun, masih perlu dipastikan apakah benar-benar tidak ada atau karena laporan yang sedikit. Maka, perlu dilakukan pemeriksaan masif di daerah tersebut.

“Kita melakukan test sampling dengan sampel 50-100 per kabupaten atau kota zero area ini. Jika tetap negatif hasilnya, maka Pemprov Sumbar punya dasar kuat membuka segel PSBB di daerah zero Covid-19 tersebut. Agam, Padangpanjang dan Limapuluh Kota bisa hidup normal, tapi tetap lock (terkunci) interaksi dengan orang luar dari daerah tersebut,” ujar Andani.(esg)