Ketabahan Mulyadi di Pilgub Sumbar Cerminan Berdemokrasi yang Matang

76

Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri menyatakan Calon Gubernur Sumbar Mulyadi tidak bersalah atas dugaan pelanggaran kampanye. Bareskrim Polri pun menerbitkan Surat Penetapan Penghentian Penyidikan (SP3) terhadap kasus tersebut.

Surat bernomor B/1152/XII/2020/Dittipidum diterbitkan setelah pencoblosan yang dilaksanakan pada 9 Desember 2020 rampung. Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Pol Andi Rian pun mengonfirmasi kasus tersebut sudah dihentikan sejak diterbitkannya SP3 pada 11 Desember 2020.

Penetapan putusan dugaan pelanggaran kampanye Mulyadi pun berdampak pada elektoralnya. Mulyadi yang sejak sebelum penetapan calon menempati elektabilitas tertinggi harus ikhlas merosot drastis.

Padahal jelang seminggu pencoblosan, Mulyadi menempati posisi elektabilitas teratas dalam berbagai lembaga survei, termasuk survei Poltracking Indonesia pada tanggal 25-30 November 2020.

Sehingga tidak tergoyahkan dan sangat berpeluang memenangi Pilgub Sumbar 2020. Survei tersebut menempatkan Mulyadi dengan elektabilitas tertinggi dengan 37,2 persen jauh di atas kandidat lainnya.

Namun elektabilitas Mulyadi langsung turun drastis akibat penetapan tersangka dugaan pelanggaran pemilu. Padahal faktanya, Mulyadi hanya diduga melanggar jadwal kampanye yang saat ini tidak terbukti dan dendanya hanya Rp 100.000.

Meski demikian, Mulyadi terus menghadapi proses Pemilu Sumbar dengan tegar. Mulyadi berpegang teguh dengan prinsip Badunsanak sehingga tetap menjalani prosesnya dengan tabah.

Baca Juga:  Ramadhan, Nevi Zuarina Serap Aspirasi Masyarakat di Daerah-daerah

Demikian disampaikan Pengamat Politik Arifki Caniago.

“Mulyadi telah memperlihatkan wajah Pilkada Badunsanak Sumbar sebagai dan cara orang Minang berdemokrasi,” kata jelas Arifki.

Jiwa besar Mulyadi dalam menghadapi berbagai dinamika, menurutnya, menjadi cerminan cara berdemokrasi yang matang.

“Ini adalah sikap berbesar hatinya Mulyadi. Sikap kesatria Mulyadi ini adalah teladan dalam politik Sumbar. Beliau tahu kapan bertarung gagasan dan program, dan kapan bersatu kembali membangun Sumbar,” ungkap Arifki.

Mulyadi pun ikhlas dan legawa. Putra terbaik Sumbar yang banyak berkontribusi membangun daerah itu menanggapi santai. Dia pun menyadari pencalonannya bersama Ali Mukhni yang diusung Partai Demokrat dan PAN, yang bukan partai koalisi pemerintah akan menempuh banyak tantangan.

Apalagi Mulyadi-Ali Mukhni sudah menjadi kandidat idola masyarakat yang punya peluang besar memenangkan Pilkada Sumbar.

“Itu risiko politik karena dari awal kita diperkirakan akan menang dan sulit dikalahkan, apalagi dicalonkan oleh partai yang tidak berkuasa. Sehingga instrumen hukum dengan mudah dimainkan, tapi ingat Allah SWT Maha Adil,” kata Mulyadi saat diminta tanggapan. (idr)

Previous articleSikapi Stunting, LPPM Unand Sosialisasikan Manfaat Dadiah
Next articleKhalawi Optimistis Kementerian PUPR Capai Target Bangun 900.000 Rumah