Kabut Tebal di Rumah Jagal

22
Eva Susweti / Ve Malik YH

Setiap sore lapangan bola kaki itu seperti berkabut. Padahal jam baru menunjukan angka 18. 00 WIB. Lapangan desa itu kelihatan sepi mencekam. Terlihat seorang bapak berperawakan tegap berjalan menyusuri jalan tikus di tepi lapangan bola tersebut.

Wajahnya kelihatan seperti tersenyum dan menyemburatkan aura bahagia. Kabut semakin tebal dan menggelap tanpa sinar apapun. Dan sosok itupun tidak kelihatan lagi. Sosok tersebut berjalan kearah rumah jagal hewan di ujung jalan tersebut.

Rasa penasaran yang dirasakan pak Mail yang baru pindah ke rumah di depan gerbang lapangan desa itu, membuatnya selalu menatap lapangan tersebut. Dia merasakan suatu keanehan. Lapangan tersebut begitu cepat menyambut sang malam.

Lebih duluan menjadi gelap dibanding tempat lain. Kadang pak Mail merasa sedikit bergidik melihat keanehan tersebut, tapi rasa itu disimpannya dalam lubuk hatinya. Dia tidak menceritakan hal itu pada istri dan tiga anak nya.

Dia khawatir keluarganya menjadi takut tinggal di rumah yang baru saja dibelinya. Selama seminggu kedepannya bakalan ada turnamen sepak bola antar kabupaten. Berarti lapangan tersebut bakalan ramai oleh pengunjung. Akankah dia melihat fenomena aneh tersebut?

Pak Mail makin tertantang. Turnamen itu dimulai jam 16. 00 WIB dan selesai sebelum Magrib. Pengunjung cukup ramai di hari pertama turnamen tersebut. Sorakan penonton yang memenuhi tepi lapangan membuat para pemain dan juga semua orang bersemangat.

Suasana gembira mewarnai sore itu. Limabelas menit sebelum azan Magrib lapangan kelihatan sudah kosong. Pak Mail melihat dari kejauhan, sosok aneh itu berjalan kearah rumah jagal hewan.

Dia merasa sedikit merinding,tapi tetap melangkahkan kaki menuju masjid yang tidak jauh dari rumahnya. Hari kedua turnamen, penonton semakin ramai. Pak Mail tetap antusias memberi dukungan pada kesebelasan andalannya. Dia kelihatan begitu bersemangat sekali.

Kadang kadang dia jadi geram karena salah satu pemain sempat dikecoh lawan main. Ada kalanya dia melompat dan bersorak. Di sebelahnya berdiri seorang bapak bapak ikut menatap nanap dan tersenyum dingin. Senyum yang pernah dilihatnya, entah di mana.

Sore itu tetap sama ,lapangan tetap berkabut pekat. Di hari terakhir turnamen, permainan selesai lebih cepat dari biasanya. Dan kesebelasan idola pak Mail menjadi kebanggaan pendukungnya, mereka bersorak bangga. Saling melompat sambil mengepalkan tinju ke udara.

Pak Mail tidak ketinggalan. Dia menunjukkan rasa senangnya dengan ekspresi luar biasa. Tapi tiba-tiba dia terpaku lkarena sosok bapak bapak yang tersenyum dingin juga ada disampingnya tapi dengan wajah datar.

Pak Mail mengalihkan pandangnya ke sosok di sebelahnya diam diam. Diperhatikannya sosok itu lebih seksama lagi. Sosok yang selalu berjalan ke arah rumah jagal hewan ketika sore diselimuti kabut tebal. Wajah dengan senyum khasnya begitu melekat dimemorinya.

Sosok bertubuh kekar dengan jaket selalu membalut tubuh tegapnya. Penampilan yang sama setiap sore. Pak Mail mau menyapa dan ingin memulai percakapan, tapi sosok itu membaur ke kerumunan orang banyak yang mau meninggalkan lapangan yang mulai berkabut.

Baca Juga:  Membangun Budaya Literasi Melalui Pendekatan Sastra

Tanda tanya besar bercokol di kepala pak Mail. Dia tetap tidak ingin bercerita tentang hal itu pada keluarganya. Dia mencoba menetralisir perasaannya dengan memperkuat logikanya. Tanya itu dikubur dalam dalam di hatinya.

Tapi sewaktu melihat ke lapangan yang sudah sepi, sosok itu terlihat lagi. Kali ini baru sekitar jam 17. 45,lapangan tersebut terlihat sangat sepi mencekam. Sosok misterius itu berjalan dari dekat rumah pak Mail, melangkah ke arah rumah jagal hewan, rute yang sama setiap sore.

Tapi tiba tiba pak Mail melihat sosok itu berjongkok sambil mengembangkan kedua lengannya. Seperti sedang berpelukan dengan buah hati yang sudah lama tidak bertemu. Pak Mail makin tergerak netranya untuk memperhatikan lebih seksama lagi.

Sosok itu berdiri seakan akan menggendong buah hatinya dan membentangkan sebelah tangan seakan akan memeluk seseorang. Pak Mail tidak melihat orang lain selain sosok tersebut. Bahasa tubuh yang diperlihatkan sosok itu seperti kebahagiaan sebuah keluarga kecil.

Kadang kadang gerakan seperti orang tertawa dan berbicara terlihat jelas. Tiba-tiba pak Mail merasa sedikit merinding dan aura dingin menyelimuti tubuhnya. Dia terus memperhatikan tapi bayangan itu menghilang dalam kabut tebal di ujung jalan.

Pak Mail coba menggerak gerakkan kepalanya seperti ingin menormalkan isi pikirannya. Dan beristigfar karena didengarnya suara azan dari masjid dekat lapangan itu. Dia tercekat dan langsung berwudhu.

Setelah selesai salat Magrib para jamaah satu persatu meninggalkan masjid. Pak Mail tinggal bertiga dengan haji Lukman sebagai Imam mesjid dan pak Dulloh sang marbod masjid. Pak Mail memutuskan menceritakan kejadian itu sama mereka berdua.

Mendengar cerita pak Mail, Pak Haji Lukman tersenyum bijaksana dan saling pandang dengan marbot masjid. Pak Haji bertanya pada pak Mail sejak kapan melihat kejadian itu. Pak Mail menandaskan sejak dia mulai tinggal di rumah yang baru dia beli itu. Keanehan itu secara tidak sengaja dilihatnya.

Bagaimana kronologi keanehan itu yang dirasakan pak Mail di sampaikan semua pada imam masjid tersebut. Pak Mail merasa sedikit plong setelah bercerita panjang lebar.
Pak Haji mengingatkan agar pak Mail selalu istigfar dan berzikir. Kemudian beliau menjelaskan duduk perkara dari keanehan yang dilihat pak Mail.

Dulu di sisi kanan lapangan bola tersebut ada sebuah rumah yang agak terpencil dari jiran tetangga. Rumah itu terletak di tengah kebun yang lumayan luas. Keluarga sederhana itu hidup seperti layaknya orang lain di desa tersebut.

Keluarga kecil yang terdiri dari orang tua dan seorang anak laki laki yang gagah. Si anak punya cita cita jadi anggota Polri. Alhamdulillah berkat keuletannya dia berhasil jadi seorang polisi. Polisi yang gagah bertubuh atletis.(bersambung)