Mading dan Peningkatan Minat Menulis

11
Safitri, S.Pd SMP Negeri 2 Salimpaung

Masa-masa di sekolah, boleh dikatakan masa-masa yang paling indah dengan sejuta kenangan. Ini tidak lepas dari aneka warna kehidupan remaja yang indah mulai dari persahabatan, dan pencarian identitas diri. Bahkan semua itu berubah menjadi puitis.

Ketika masa sekolah menjadi masa merangkai kata dan bermain dengan bahasa. Ungkapan yang indah tersebut tersalur dalam majalah dinding (mading). Majalah dinding sebagai salah satu media di sekolah menjadi sebuah kenangan dan catatan yang begitu indah.

Terbayang betapa tidak kuasanya hati membendung perasaan bangga ketika sebuah mading di suatu sekolah terbit pagi itu. Ratusan anak-anak berseragam putih biru itu tampak antusias saling berebutan ingin membaca dan menyaksikan karya kawan-kawannya yang dimuat.

Terlihat seorang pelajar begitu bahagia dan bangga membusung dada ketika di antara karya itu terpampang hasil pemikirannya, “Aku seorang penulis,” katanya dengan lantang. Majalah dinding sudah menjadi sebuah media penting dalam mengaktualisasikan pemikiran dan gagasan serta hasil kreatifitas untuk dibaca dan dikonsumsi warga sekolah.

Banyak sudah penulis-penulis berbakat bahkan wartawan hebat bermunculan di negeri ini lantaran mulanya hanya iseng menulis di mading sekolah mereka. Keberadaan majalah dinding di sekolah merangsang minat baca siswa.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan dan dimuat di Majalah Pelangi Pendidikan (Pepdiknas), majalah dinding (mading) memberikan pengaruh yang besar terhadap minat baca siswa. Penelitian itu menawarkan majalah dinding sekolah sebagai salah satu media guna meningkatkan minat membaca siswa.

Ternyata setelah dilakukan penelitian didapati hasil yang diharapkan bahwa keberadaan majalah dinding ternyata mampu meningkatkan minat baca siswa di sekolah itu hingga 25 persen. Kita mengupayakan agar mading berpotensi untuk menarik minat siswa untuk membaca.

Pada hakekatnya keberadaan majalah dinding sekolah merupakan sebuah alat komunikasi penting untuk menyampaikan semua ide dan gagasan siswa dalam bentuk tertulis. Sebab, dengan adanya madding, maka siswa memiliki sarana untuk membaca sekaligus mempublikasikan karya tulisan mereka (selain media cetak).

Bahkan mading terasa lebih dekat dengan anak-anak sekolah karena keberadaannya yang langsung dapat diakses siswa di sekolah mereka. Keberadaan mading juga mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam mengarang (menulis). Dengan adanya madding, siswa lebih memiliki tantangan untuk menulis.

Sebab mereka beranggapan bahwa menulis merupakan suatu wujud pengaktualisasian dan pengukuhan nilai dirinya sebagai seorang pelajar. Pelajar mana yang tidak bangga jika karya-karya hasil pemikirannya di muat di halaman suatu mading dan dibaca oleh teman-teman satu sekolahnya.

Jika sudah dipupuknya minat menulis, maka seyogianya mereka kelak lambat-laun juga akan tertarik dengan pengetahuan jurnalistik dan kewartawanan. Dengan demikian, diharapkan keberadaan mading selain menciptakan calon-calon penulis (sastrawan) juga kelak hendaknya bisa memunculkan calon-calon jurnalis masa depan yang layak diperhitungkan.

Realita sekarang bagaimana? Tidak dipungkiri majalah dinding seperti tidak lagi menjadi suatu yang menarik bagi siswa. Tidak banyak sekolah yang sampai saat ini majalah dindingnya hidup dan dikelola dengan baik.

Bahkan banyak pula sekolah yang malah sama sekali tidak memiliki majalah dinding. Hal itu disebabkan oleh iklim dan dinamika sekolah yang terus mendapat pengaruh dan tidak memberi ruang bebas bagi siswanya untuk mengkreasikan diri terhadap majalah dinding.

Selain itu minimnya pelatihan pengembangan jurnalistik khususnya mengenai mading, semakin membuat keberadaan mading di sekolah semakin mati suri. Apa yang harus dilakukan?

Mari kita bangkitkan keberadaan mading di sekolah kembali menjadi media yang dapat untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menulis siswa. Kita bimbing siswa kita untuk membuat dan mengelola sebuah majalah dinding yang baik dan enak untuk dibaca.

Mari diperbanyak perlombaan dan pergelaran berbagai iven kompetisi dengan membuat mading bermutu yang dilakukan secara berkesinambungan. Selain itu, siswa terus kita rangsang untuk melahirkan karya-karya tulisan yang enak untuk dibaca dan dikonsumsi oleh teman-teman mereka melalui majalah dinding sekolah.

Perbanyak pula kegiatan-kegiatan pelatihan pengelolaan mading (Keredaksian dan pengetahuan jurnalistik dasar) bagi para pengasuh majalah dinding sekolah. Ke depan kita pasti akan menemukan banyak mading yang kreatif di sekolah-sekolah dengan harapan akan mampu menopang minat baca dan menulis siswa.

Tidak hanya itu juga tidak salah kiranya kalah kita juga berharap jika kelak akan lahir penulis dan jurnalis yang cerdas dan handal melalui mading ini.(***)