Merdeka Belajar Dengan Pembelajaran Diferensiasi

18
Metria Eliza, S.Pd Guru SD Negeri 03 Batubulek

Kurikulum Merdeka Belajar saat ini boleh dikatakan merupakan salah satu topik menarik di masyarakat awam sampai praktisi pendidikan. Kurikulum ini mengacu pada Standar Nasional Pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yang tertuang dalam UUD 1945.

Miskonsepsi yang terjadi pada praktek pendidikan selama ini membuat tujuan pendidikan tersebut semakin jauh dari harapan. Kebijakan ini merupakan salah satu langkah tranformasi di bidang pendidikan untuk menciptakan Sumber Daya Manusia demi kemajuan dan cita-cita bangsa.

Seperti Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Lebih lanjut Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya.

Pendidikan itu berlandaskan kepada tiga dasar yaitu, kemerdekaan, kodrat alam, kebudayaan dan kebangsaan. Sehingga Ki Hajar Dewantara mengingatkan bahwa pendidikan sejatinya memperhatikan kodrat diri anak dengan selalu berhubungan dengan kodrat zaman.

Bila dikaitkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini atau kodrat zaman maka pendidik perlu menyesuaikan pendidikan dengan mengoptimalkan segala potensi yang ada dengan kemajuan tersebut.

Seorang pendidik ibaratkan seorang petani dan siswa seperti benih atau biji yang akan disemai di lahan yang disediakan oleh petani. Jika benih tersebut ditanam di lahan yang subur dengan sinar matahari yang cukup dan perawatan yang baik, maka benih tersebut akan tumbuh dengan baik dan subur.

Sebaliknya sebaik apapun benih yang akan ditanam, jika lahannya gersang dan tidak dirawat maka benih tersebut tidak akan pernah tumbuh dengan baik. Hal inilah yang menyebabkan pentingnya peran seorang pendidik atau guru dalam menentukan kualitas dan keberhasilan pendidikan. Tugas pendidik menuntun segala potensi yang ada dalam diri setiap siswa sesuai kebutuhannya.

Pembelajaran Berdiferensiasi

Setiap siswa memiliki potensi, minat, bakat dan karakter yang berbeda dan tentunya memerlukan perlakuan yang berbeda untuk memenuhi kebutuhannya. Selama ini pembelajaran yang dilakukan, tanpa disadari sering mengabaikan kebutuhan siswa dengan sistem pembelajaran yang monoton dan klasikal sehingga potensi siswa tidak terakomodir dengan baik.

Untuk itu diperlukan keterampilan pendidik dalam memberikan pembelajaran berdiferensiasi sebagai bentuk wadah pemenuhan kebutuhan siswa dalam menggali potensinya. Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan siswa.

Baca Juga:  Laksana Telepon Pintar

Keputusan tersebut berkaitan dengan tujuan pembelajaran yang didefenisikan secara jelas, bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar siswanya, lingkungan belajar yang mengundang murid untuk belajar, manajemen kelas yang efektif, dan penilaian berkelanjutan.

Pembelajaran berdiferensiasi haruslah mengutamakan pada pemenuhan kebutuhan belajar siswa dan respon pendidik terhadap kebutuhan belajar tersebut. Kebutuhan belajar murid tersebut dapat dikategorikan ke dalam tiga aspek yaitu kesiapan belajar (readness), minat, dan profil belajar siswa.

Sebelum pembelajaran perlu diperhatikan kesiapan belajar siswa berupa kesulitan materi yang akan diajarkan dengan keterampilan dan pengetahuan dasar yang dimiliki siswa. Sehingga hasil identifikasi ini dapat digunakan untuk menyesuaikan dengan materi baru yang akan diajarkan dan memodifikasinya sehingga kebutuhan siswa dapat terpenuhi.

Pemetaan minat siswa juga diperlukan dalam pembelajaran berdiferensiasi untuk dapat menyesuaikan pembelajaran berdasarkan minat siswa sehingga belajar menjadi sesuatu hal yang menarik bagi siswa karena sesuai dengan minat dan bakatnya. Terakhir memetakan profil belajar siswa seperti preferensi gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik.

Mengidentifikasi kebutuhan belajar siswa dapat dilakukan dengan berbagai cara baik itu pengamatan langsung, diskusi, tes diagnostik, tes formatif, selama proses pembelajaran, refleksi, dan serangkain aktivitas lainnya. Pembelajaran berdiferensiasi dapat dibedakan menjadi tiga cara yaitu, diferensiasi konten, proses, dan diferensiasi produk.

Diferensiasi konten adalah bagaimana menyusun materi yang diajarkan kepada siswa berdasarkan pemetaan kebutuhan belajar siswa mencakup kesiapan, minat dan profilnya.

Diferensiasi proses bagaimana siswa menemukan pemahamannya dalam proses pembelajaran berdasarkan pemetaan kebutuhan belajarnya seperti melaksanakan pembelajaran berkelompok sesuai karakteristik masing-masing, pembelajaran berjenjang, penugasan sesuai minat dan bakatnya, dsb.

Diferensiasi produk merupakan hasil dari pemahaman siswa terhadap pembelajaran berupa unjuk kerja seperti karangan yang dihasilkan oleh siswa yang memiliki minat menulis, lirik lagu yang dihasilkan siswa yang memiliki minat di bidang seni, dan karya lainnya sesuai pemetaan kebutuhan belajar yang telah dilakukan sebelumnya.

Relevansi Pembelajaran Berdiferensiasi dengan Merdeka Belajar

Dengan pembelajaran berdiferensiasi yang mengeksplorasi semua potensi yang dimiliki, maka siswa dapat merdeka dalam menentukan tujuan, cara, dan hasil belajarnya. Tugas pendidik hanya sebagai fasilitator dalam menuntun berkembangnya potensi siswa sesuai dengan kebutuhannya.

Kurikulum merdeka belajar memberi ruang bagi siswa untuk menentukan kodrat dirinya dan pendidik telah menuntun siswanya untuk mencapai hal tersebut. Sehingga hal ini memiliki relevansi yang sesuai dengan apa yang diharapkan dari tujuan pendidikan nasional. Sudah seyogyanya pendidik selalu memikirkan cara, strategi untuk dapat memberikan pelayanan terbaik bagi siswa dalam pendidikan.(***)