SD Negeri 18 Nagari Tanjungraya, Mereka Yang Tak Punya Ayah dan Ibu

3
PEDULI: Penyerahan santunan untuk anak yatim dan piatu.

Ya, begitu hari hari terakhir sekolah pada bulan Ramadhan kali ini di Kabupaten Agam, seperti biasa, kegiatan penutup diisi dengan penyerahan hadiah lomba bagi pemenang. Dan yang lebih bermakna adalah ketika dilaksanakan penyerahan santunan kepada siswa yatim ataupun piatu.

Ibu Maidar, S.Pdi selaku guru PAI di sekolah ini mengatakan, “Kegiatan ini sudah berlangsung sejak beberapa tahun yang lalu. Kegiatan ini akan tetap kita lanjutkan dan dananya tak akan pernah kita alihkan”. Hal inipun didukung oleh Pak Drs. Hariadi selaku kepala sekolah. “Apa yang sudah kita niatkan harus kita jalankan,” ujar beliau di sela–sela pembagian santunan.

Memberikan santunan pada anak yatim ataupun piatu hanyalah secuil kebahagian yang kita bagi. Karena kebahagian sesungguhnya yang mereka nanti adalah berada di antara orang – orang yang ia sayangi. Namun, keadaan tak mungkin bisa diulang kembali.

Karena, orang tuanya telah dipanggil oleh duluan oleh Tuhan yang Maha Kuasa. Dengan adanya santunan ini, mungkin bisa sedikit mengobati rasa kehilangan orang tua tersebut. “Kita berharap, santunan ini membuat mereka tersenyum kembali,” kata Pak Kepsek.

Pak Kepsek melanjutkan tuturannya. “Sungguh sebuah pahala yang besar untuk kita nanti. Memberikan santunan juga merupakan bentuk penanaman karakter berupa rasa peduli yang diberikan baik untuk majelis guru maupun untuk para siswa lainnya. Dana Sumbangan dikumpulkan setiap Jumat selesai kultum dan dimasukan pada suatu kotak yang hanya akan dibuka setiap satu tahun sekali yaitu saat bulan Ramadhan tiba karena di hari terakhir sekolah akan dibagi yang mana bisa mereka pergunakan untuk menyambut Idul Fitri,” ulas pak Kepsek lagi.

Baca Juga:  PKBM Tahfizul Quran Jadi Prioritas

Jangan sampai kita menutup mata dan telinga terhadap anak yatim dan piatu, karena sungguh kita telah mendustakan agama. Sekecil apapun yang kita lakukan, bila ikhlas, maka akan ada imbalannya di mata Sang Pencipta.

Jangan sampai ada rasa cemburu terhadap mereka. Karena, sungguh andai bisa memilih antara disantuni dengan hadirnya orang tua mereka pastilah mereka memilih kehadiran ayah atau ibundanya.

Bila ia yatim maka ia kehilangan sosok seorang ayah sang pencari nafkah yang mungkin ia tak sempat bermanja. Tak ada sosok pahlawan yang selalu siap siaga karena kematian telah dulu merenggut nyawanya. Andai ia piatu ia kehilangan seorang ibu.

Tak ada tangan yang membelai disaat ia terluka. Tak ada tangan yang mengusap air mata saat sedih datang melanda. Tak ada pelukan hangat yang menenangkan gejolak di dada. Hanya orang – orang yang berbudi berhati mulialah yang dapat merasakannya. (*)