Terhalang Naik Pangkat Karena Tidak Menulis

12
Rikotmi Hasindi Guru UPTD SMPN 1 Kecamatan Luak.

Allah menyuruh kita membaca dengan kata Iqra’ yang terdapat Q.S 96: 1-5 sekaligus Allah telah mengajarkan manusia dengan perantaraan qalam, apa yang tidak diketahuinya. Kata Iqra’ adalah Fiil Amar, artinya perintah.

Perintah Allah kepada manusia untuk membaca juga sekaligus perintah Allah bagi manusia untuk menulis. Jika kita analisa bahwa kegiatan membaca dan menulis itu penting, apalagi bagi guru yang mengajar peserta didiknya.

Jika guru itu selalu melakukan kegiatan membaca dan menulis, ilmu yang dimiliki oleh guru tentunya akan berkembang dan peserta didiknya juga akan mempunyai wawasan yang lebih luas lagi.

Ilmu yang diberikan selalu ilmu yang terbaru, mengikuti perkembangan zaman peserta didiknya. Banyak di antara guru yang sudah memiliki pangkat yang tinggi tetapi untuk tahap pangkat selanjutnya mereka tidak bisa.

Sudah sekian tahun yang berada di golongan itu-itu saja akibat dari syarat naik pangkatnya tidak bisa terpenuhi. Meskipun sudah tinggi golongannya yakni IV.a, akan tetapi masih bisa dilakukan naik pangkat untuk sampai pada pangkat IV.b dan pangkat selanjutnya, namun terhalang karena tidak melakukan kegiatan menulis.

Mulai dari IV.a ke IV.b syarat menulis yang harus dilakukan 12 (dua belas) angka kredit pada unsur sub publikasi ilmiah dan pangkat selanjutnya juga mensyaratkan untuk menulis sesuai dengan pangkat yang akan dilanjutkan. Ini untuk pangkat/golongan IV.

Sedangkan untuk menulis bagi pangkat/golongan III, diawali pada III.b ke III.c dan selanjutnya. Saat ini, baik pada pangkat/golongan III atau IV banyak terhalang kenaikan pangkatnya akibat tidak menulis.

Apa sebenarnya yang terjadi, apakah guru tidak bisa menulis atau enggan menulis? Permasalahan tidak menulis tersebut akan membuat guru akan berjalan di tempat pada pangkat/ golongan yang dimiliki sekarang.

Jika permasalahan guru tidak mampu menulis, barangkali juga tidak ada permasalahan di sana. Karena guru ketika kuliah barangkali sudah memiliki pengetahuan bagaimana menulis. Jika permasalahannya adalah karena tidak mau menulis atau enggan menulis, mungkin inilah permasalahannya.

Jika guru enggan menulis, tidak mau menulis disebabkan tidak tahu bagaimana menulis ilmiah atau karya inovatif, tentunya harus dipelajari bagaimana menulis tersebut. Minsal, membuat modul, baik syarat atau apa yang harus ada pada modul.

Atau membuat artikel di media massa atau online, tentunya harus kita tahu apa syarat dan artikel tersebut agar masuk ke media massa. Barangkali menurut penulis, inilah permasalahan yang tengah di hadapi oleh guru saat ini.

Beberapa tahun belakangan ini untuk membantu guru agar bisa menulis sudah ada pelatihan-pelatihan yang dilakukan oleh organisasi-organisasi yang dapat membantu guru dalam menulis.

Atau peluang-peluang bagaimana menerbitkan buku di kalangan guru, berupaya satu guru menerbitkan satu buku, sehingga guru mau menulis dan berkarya untuk anak didiknya.

Seperti pesan Hernowo (dalam buku Hendy Hermawan) yang diambilnya dalam buku Hernowo menjadi guru yang mau dan mampu membuat buku, pesanya: “Saya ingin para pengajar di seluruh indonesia dapat menulis buku untuk para muridnya.

Saya ingin sekali para pengajar itu dapat memperkaya para muridnya dengan cerita-cerita yang mengasyikkan, ditulis oleh mereka di karya-karya mereka”.

Jadi, dengan pesan ini hendaknya termotivasilah untuk menulis dan merubah dunia dengan tulisan lewat karya-karya yang diberikan kepada peserta didik. Selanjutnya, dengan menulis naik pangkatpun tidak terhalang.

Untuk memotivasi guru menulis dan agar tidak terhalangnya guru-guru yang saat ini hanya berjalan di tempat harapannya adalah bagaimana unsur pimpinan sekolah memberikan motivasi kepada guru-guru tersebut dengan cara memberikan reword kepada mereka yang mau menulis atau berkarya sebab penghargaan itu sangat penting bagi mereka agar selalu termotivasi untuk berkarya, menuliskan ide-ide, gagasan atau pikirannya dalam tulisan-tulisan yang dilahirkan.

Reward yang diberikan kepada penulis-penulis yang ada di sekolah bukanlah dalam bentuk materi tetapi dengan dalam bentuk pujian atau memberikan penghargaan dalam bentuk sertifikat.

Barangkali juga ini telah memberikan motivasi yang luar biasa bagi mereka, dengan tetap semangat melahirkan karya-karya bagi anak-anak bangsa. Dan juga suatu kebanggaan bagi anak-anak jika gurunya punya karya yang bisa dia dapatkan di perpustakaan sekolahnya. Apalagi kalau seandainya bisa diedarkan di toko-toko buku yang ditemuinya.

Juga mungkin bisa jadi reward diberikan oleh pemerintah daerah bagi guru yang mampu untuk menghasilkan karya-karya terbaik, mendapatkan penghargaan. Barangkali ini akan memberikan nuansa yang bagus bagi guru meningkatkan dan berkaryanya guru-guru untuk tingkat yang lebih baik lagi.

Guru-guru itu mampu dan bisa untuk menulis karena mereka sudah sekian lama berkecimpung di perguruan tinggi, baik dari segi keilmuan atau dari segi cara menulis, barangkali mereka sudah banyak bekal tetapi permasalahannya saat ini mereka masih terhalang naik pangkat. (***)