Bangkit Setelah Pandemi, Songsong Kurikulum Merdeka!

15
Amperawati, S.Pd Kepala SD Negeri 21 Payakumbuh.

Pandemi memang belum berakhir, namun kondisi pendidikan di Indonesia sudah mulai membaik seiring dengan dilaksanakannya pembelajaran tatap muka pada satuan pendidikan di seluruh Indonesia.

Setelah lebih kurang tiga tahun lamanya pembelajaran dilakukan secara daring menggunakan media sosial, sekarang pendidik lebih leluasa kembali melakukan pembelajaran secara tatap muka.

Namun ternyata pembelajaran tatap muka yang dilaksanakan saat ini tidak meninggalkan metode pembelajaran daring secara menyeluruh. Sebagian besar pendidik masih terus melanjutkan pembelajaran dengan memanfaatkan media sosial seperti whatsaap, telegram, youtube bahkan membagikan video tiktok yang memuat materi pembelajaran.

Itu artinya kita akan dihadapkan dengan pembelajaran blendid learning yang memadukan antara pembelajaran tatap muka langsung dengan pembelajaran daring atau dalam jaringan baik secara sinkron maupun asinkron.

Pandemi Covid-19 memaksa pendidik untuk belajar agar bisa menembus ruang dan jarak dengan peserta didik agar dapat memberikan pembelajaran secara maksimal kepada peserta didik.

Sebagai kepala sekolah saya bertanggung jawab untuk memotivasi para pendidik di sekolah yang saya pimpin untuk mengembangan potensi diri dan meningkatkan kompetensi dengan mengikuti berbagai pelatihan mandiri secara daring.

Pelatihan tersebut dapat dilaksanakan oleh pendidik secara virtual ataupun daring dengan berbagai pilihan materi yang sangat bermanfaat.

Sangat beruntung sekali para pendidik yang telah memanfaatkan waktu selama pandemi dengan banyak mengikuti kegiatan pelatihan secara daring sehingga mereka siap untuk menghadapi perubahan paradigma pendidikan setelah pandemi.

Setelah pandemi berakhir, kita akan dihadapkan dengan tatanan baru dalam dunia pendidikan. Seperti yang sudah disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim bahwa masa setelah pandemi adalah saat yang paling tepat untuk memulai proses Merdeka Belajar.

Pandemi Covid-19 juga memaksa pendidik untuk merombak cara belajar dengan memaksimalkan teknologi digital. Akses informasi yang tiada batas menjadikan peserta didik menerima keberlimpahan data dan pengetahuan dalam pembelajaran.

Baca Juga:  Kisah Rahmi Aulia Syafitri, Anak Buruh Yang Punya Mimpi Kuliah ke Turki!

Sistem pembelajaran yang diterapkan oleh pendidik selama pandemi harus mendorong kesadaran siswa untuk mencintai alam dengan memanfaatkan lahan yang ada untuk menanam sayuran buah-buahan dan bahan pangan lainnya, hal ini disebabkan oleh sempitnya ruang gerak selama pandemi.

Tanpa sadar sebagian besar pendidik, peserta didik dan orang tua telah berperan dalam mengatasi kebutuhan pangan. Begitu banyak manfaat yang bisa kita ambil setelah pandemi ini khususnya dari segi pendidikan yang diterapkan oleh pendidik dari sebuah satuan pendidikan.

Saya sebagai kepala sekolah di SD Negeri 21 Payakumbuh, memastikan bahwa pendidik di sekolah saya akan bangkit setelah pandemi dengan bekal pengetahuan, pengalaman dan kompetensi yang telah dimiliki untuk menyongsong hadirnya kurikulum baru yakni Merdeka Belajar.

Sebagian besar pendidik sudah menerapkan pembelajaran berbasis teknologi secara berkelanjutan, memanfaaatkan fitur-fitur yang ada dalam platfom Merdeka Mengajar, peserta didik yang antusias merespon berbagai bentuk pembelajaran yang diberikan serta orang tuapun tidak lagi mengeluhkan lagi masalah kuota karena sudah menjadi kebutuhan bagi mereka.

Bagi orang tua saat ini tidak memiliki kuota artinya mereka akan ketinggalan dalam mengakses informasi pembelajaran. Harapan saya sebagai kepala sekolah kepada semua pendidik, orang tua dan peserta didik, ke depan pendidikan haruslah seirama dengan tatanan dunia baru.

Semua unsur dalam pendidikan harus merespon secara cepat dan tepat semua perubahan dalam dunia pendidikan. Untuk memperoleh hasil akademis yang tinggi tanpa mengabaikan elemen-elemen dalam Profil Pelajar Pancasila mari kita bangkit dan songsong kurikulum baru dengan semangat yang luar biasa dengan motto “bekerjasama dan sama sama bekerja” serta “belajar bersama dan sama sama belajar”. (***)