Siswa Harus Punya Karakter Budaya Minang

5
Sari Oktavia, S. Sos.

Memprihatinkan. Itulah kata yang tepat kiranya untuk mengambarkan Sumbar saat ini. Betapa tidak, nilai-nilai budaya Minangkabau yang diharapkan bisa terimplementasikan dengan baik bagi kalangan generasi muda Tuah Sakato justru sebaliknya.

Karena akhir-akhir ini, persoalan budaya Minangkabau sangat kurang terimplementasi kepada generasi muda, khususnya terhadap pelajar/siswa di Sumbar, termasuk di Kota Payakumbuh.

Baik dalam kehidupan sehari-hari, berprilaku, maupun perkataan, dan sebagainya. Sumbang duobaleh, kato nan ampek dan hal-hal wajib lainnya sebagai bentuk nilai budaya Minangkabau yang perlu dilestarikan generasi mendatang sering diabaikan dalam berinteraksi dengan sesama.

Melihat semakin jauh tergesernya nilai-nilai budaya Minangkabau pada generasi muda termasuk siswa, baik pada pendidikan formal maupun nonformal oleh kemajuan teknologi, sosial media, Kota Payakumbuh melalui Dinas Pendidikan Kota Payakumbuh terus berupaya melakukan kegiatan yang bertujuan menumbuhkembangkan nilai-budaya Minangkabau di kalangan pelajar.

Kegiatan tersebut antara lain dengan menggelar pelatihan dan keterampilan “Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah” bagi anak-anak peserta didik non formal (kesetaraan) Kota payakumbuh seperti PKBM Kembang Delimo, PKBM Tahfizul Quran, PKBM Yatim Duafa, PKBM Al Fati dan SKB Kota Payakumbuh.

Disamping itu, ke depannya, untuk jalur pendidikan formal (SD dan SMP) di Kota Payakumbuh, Dinas Pendidikan Kota Payakumbuh akan mulai memasukkan kembali mata pelajaran BAM (Budaya Alam Minangkabau) ke dalam Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila pada “Kurikulum Merdeka” di tahun pelajaran 2022/2023 terhitung mulai tanggal 11 Juli 2022 mendatang. Mata pelajaran BAM akan masuk kedalam pelajaran Muatan Lokal.

Baca Juga:  SMP Negeri 8 Payakumbuh, Bumikan Kegiatan Literasi!

Dalam menyusun KOSP (Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan) Tahun pelajaran 2022/2023 sekolah-sekolah harus mencantumkan rancangan materi adat dan budaya minangkabau.

“Kembalinya mata pelajaran BAM, bukan berarti kembali pada sistem lama, tetapi adanya penambahan materi nilai-nilai essensial budaya dan adat Minangkabau yang akan membentuk karakter siswa ke depan, serta penguatan nilai-nilai adat budaya Minangkabau yang akhir-akhir ini sudah tercabut karakter minang pada generasi muda di antara penyebabnya adalah globalisasi dan modernisasi,” ulas Kepala Dinas Pendidikan Kota Payakumbuh, Dr. Dasril, S.Pd, M.Pd.

Melalui kegiatan pelatihan Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) serta memasukkan materi kurikulum muatan lokal dalam pembelajaran, adalah untuk menambah ataupun meningkatnya pengetahuan siswa tentang Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).

Ini agar generasi muda terutama peserta didik memahami nilai-nilai adat dan budaya minangkabau. Demi terbentuknya generasi muda yang berbudaya serta untuk memperjelas kembali jati diri Minangkabau kepada generasi muda sehingga dapat menerapkan ABS-SBK ini dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat mengantisipasi penyakit masyarakat yang terjadi belakangan ini. (***)