Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Guru Wali, Sahabat Seperjalanan Murid

A
Penulis: Adriyanto Syafril❯
Murid  SMP Negeri 30 Padang sedang berdiskusi dengan guru Zahratil Husna beberapa waktu lalu. (TIm Laman Guru)
Murid SMP Negeri 30 Padang sedang berdiskusi dengan guru Zahratil Husna beberapa waktu lalu. (TIm Laman Guru)

PADEK.JAWAPOS.COM - Pukul sebelas lewat lima puluh menit, di hari Jumat. Biasanya, lonceng sekolah di jam-jam ini adalah melodi yang paling dinanti murid untuk segera bergegas pulang. Namun, di SMP Negeri 30 Padang, suasana justru berubah menjadi ruang-ruang diskusi yang hangat dan penuh warna. Ada murid yang melingkar di bawah pohon rindang di halaman sekolah, ada yang serius tapi santai di pojok baca, hingga yang memilih teras kelas sebagai tempat bercengkerama.

Advertisement

Pemandangan ini bukanlah jam kosong. Ini adalah wajah dari program unggulan kami: Guru Wali.

Perlu ditegaskan, Guru Wali di sini memiliki “nyawa” yang berbeda dengan wali kelas. Jika wali kelas lebih banyak berkutat pada urusan administrasi kelas, maka Guru Wali adalah guru mata pelajaran (termasuk guru BK) yang bertugas sebagai pendamping holistik. Mereka adalah “kakak”, “orang tua”, sekaligus “sahabat” yang mendampingi murid secara berkelanjutan dari hari pertama mereka terdaftar hingga kelak mereka lulus.

Langkah inovatif ini tidak lahir begitu saja. SMP Negeri 30 Padang bergerak cepat merespons Permendikdasmen No. 11 Tahun 2025 tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru. Didukung oleh Keputusan Kepala Sekolah Nomor 422/SMAN2/226/07/25, kami membangun sistem di mana setiap murid memiliki pendamping setia yang memantau perkembangan mereka dari aspek akademik, kompetensi, keterampilan, hingga karakter.

Kepala SMPN 30 Padang, Bapak Agusrial, S.Pd., adalah sosok di balik layar yang memastikan program ini bukan sekadar tumpukan dokumen SK di atas meja. Beliau memahami bahwa di era sekarang, murid butuh lebih dari sekadar pengajar; mereka butuh pendamping. Melalui visi beliau, sekolah merancang pendampingan yang sistematis guna mendukung pertumbuhan murid, baik di dalam maupun di luar kelas.

Membangun program Guru Wali ini membutuhkan energi yang besar. Dimulai dengan sosialisasi bersama pengawas, kami kemudian melakukan identifikasi profil murid melalui asesmen non-kognitif di awal tahun ajaran. Kami ingin mengenal mereka bukan hanya dari nilai angka, tapi dari siapa mereka sebenarnya.

Advertisement

Setelah SK ditetapkan, Bapak Agusrial memastikan seluruh guru membekali diri melalui workshop intensif. Kami menyusun program kerja, melakukan pemetaan, hingga merancang instrumen administrasi yang rapi. Semuanya terekam secara digital melalui Google form yang disediakan sekolah. Di sana, jurnal, absensi, hingga rincian kegiatan setiap Jumat terdokumentasi dengan apik sebagai bahan evaluasi bulanan bersama pimpinan.

Kegiatan yang paling dinanti tentu saja pendampingan kelompok setiap hari Jumat setelah kegiatan belajar mengajar selesai. Di sinilah letak keunikannya. Sekolah kami seolah berubah menjadi “kampus terbuka”. Bapak Agusrial memberikan kebebasan bagi Guru Wali dan murid untuk menentukan tempat berkumpul.

Maka, jangan heran jika melihat murid asyik berdiskusi dengan Guru Walinya di kantin, perpustakaan, laboratorium, hingga di bawah pohon yang sejuk. Lokasi yang fleksibel ini dirancang agar komunikasi mengalir lebih cair. Murid tidak merasa sedang “diuji”, melainkan sedang berbagi cerita tentang hambatan akademik, pengembangan bakat, hingga penguatan karakter.

Pendampingan ini mencakup empat pilar utama: akademik, keterampilan, karakter, dan kompetensi. Jika seorang murid mengalami kendala tertentu, Guru Wali akan melakukan pendampingan individu secara khusus atau berkolaborasi dengan guru BK dan wali kelas. Inilah sinergi yang luar biasa, sebuah sistem pendukung yang memastikan tidak ada satu pun murid yang merasa berjalan sendirian.


Selama kegiatan berlangsung, suasana sekolah tetap terkontrol. Para wakil kepala sekolah, terutama Wakil Kurikulum, berkeliling melakukan monitoring. Bukan untuk mengawasi dengan kaku, melainkan untuk melihat dinamika yang terjadi di setiap sudut sekolah. Kehadiran pimpinan di lapangan memberikan pesan kuat bahwa setiap proses pendampingan ini sangatlah berharga.

Advertisement
Editor : Adriyanto Syafril
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

UNP Gelar Pelatihan Pengembangan E-Modul Interaktif Berbasis Flipbook Maker untuk Guru

UNP Gelar Pelatihan Pengembangan E-Modul Interaktif Berbasis Flipbook Maker untuk Guru

UNP menggelar pelatihan pengembangan e-modul interaktif berbasis Flipbook Maker bagi guru di SMA Pembangunan Laboratorium UNP.

Tiga Tahun Menenun Cerita, Kini kembali ke Orang Tua

Tiga Tahun Menenun Cerita, Kini kembali ke Orang Tua

SMPN 30 Padang gelar pelepasan kelas IX bertema “Menenun Cerita” dengan nuansa budaya Minangkabau yang penuh haru dan makna.

Siswi SD Semen Padang Juara 2 Cabang Menulis Cerita di FLS3N

Siswi SD Semen Padang Juara 2 Cabang Menulis Cerita di FLS3N

Siswi SD Semen Padang raih Juara 2 FLS3N 2026 cabang menulis cerita lewat cerpen berjudul Pahlawan di Balik Kata-Kata.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer