Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Investment Theory dalam Kelas Bahasa Inggris

A
Penulis: Adriyanto Syafril❯
Devi Triana, S. Pd.
Devi Triana, S. Pd.

Advertisement

Penulis : Devi Triana, S. Pd. - Guru SMP Islam Al Ishlah Bukittinggi

Semua orang mengetahui bahwa bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang harus dikuasai pada zaman sekarang. Tetapi selalu ada satu pertanyaan yang menghantui para pelajar bahasa Inggris: “Untuk apa saya belajar ini?”

Pertanyaan itu bukan tanda kemalasan. Ia adalah tanda bahwa manusia, pada dasarnya, tidak mau berjuang tanpa alasan. Dan di situlah letak fondasi dari sebuah teori yang selama ini mungkin belum banyak dikenal luas di ruang-ruang kelas Indonesia, yaitu Investment Theory atau Teori Investasi dalam pembelajaran bahasa.

Advertisement

Pada tahun 1995, Bonny Borton  pertama kali memperkenalkan Investment Theory sebagai respons atas keterbatasan konsep motivation yang selama ini mendominasi kajian pemerolehan bahasa kedua.

Motivasi sering kali dipahami sebagai sesuatu yang berasal dari dalam diri (intrinsic) atau dari luar (extrinsic), Norton membawa perspektif yang lebih dalam yaitu belajar bahasa adalah sebuah investasi. 

Investasi yang tidak hanya melibatkan waktu dan energi, tetapi juga identitas, harapan, dan impian seseorang terhadap masa depannya.

Advertisement

Seorang pelajar dari desa terpencil di Sumatera Barat yang gigih belajar bahasa Inggris bukan semata karena nilai di rapor. Ia belajar karena percaya, dengan menguasai bahasa itu, ia akan mampu membuka pintu-pintu kesempatan yang selama ini tampak tertutup seperti beasiswa luar negeri, pekerjaan di perusahaan internasional, atau sekadar kemampuan bersuara di hadapan dunia.

Dalam kerangka Investment Theory, pelajar seperti ini sedang berinvestasi. Ia menanamkan modal berupa ketekunan dan waktu, dengan keyakinan bahwa hasil dari investasi itu akan meningkatkan nilai dirinya (symbolic capital) di masa mendatang.

Selian itu, Norton menghubungkan teori ini dengan konsep identity dan power. Menurutnya, seseorang yang belajar bahasa bukan hanya sedang menyerap struktur gramatikal atau kosakata, tetapi juga sedang menegosiasikan identitasnya dalam hubungan sosial.

Pertanyaan yang relevan bukanlah sekadar “Seberapa besar motivasinya?” melainkan “Siapa yang ia ingin menjadi?” dan “Hubungan seperti apa yang ingin ia bangun dengan dunia?” Dua pertanyaan ini jauh lebih kaya dan lebih manusiawi.

Advertisement
Editor : Adriyanto Syafril
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer