Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Bangun Budaya Positif Melalui Sakato Mangaji

A
Penulis: Adriyanto Syafril❯
Mery Lusi Yanti, S.Pd.SD
Mery Lusi Yanti, S.Pd.SD

Advertisement

Penulis : Mery Lusi Yanti, S.Pd.SD - Kepala UPTD SDN 06 Kubang.

Sekolah bukan hanya tempat mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kebiasaan, dan nilai kehidupan. Dalam dunia pendidikan saat ini, keberhasilan sekolah tidak hanya diukur dari tinggi­nya nilai akademik siswa, melainkan juga bagaimana sekolah mampu membangun budaya yang positif, religus, disiplin, dan menyenangkan bagi seluruh warga sekolah.

Budaya sekolah merupakan kumpulan nilai, kebiasaan, aturan, dan tradisi yang tumbuh serta dijalankan secara konsistendalam kehidupan sehari-hari di lingkungan pendidikan. Budaya tersebut terlihat dari cara guru mengajar, sikap siswa terhadap guru, kedisiplinan warga sekolah, kebersihan lingkungan, hingga kebiasaan saling menghormati dan menghargai sesama.

Advertisement

Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang begitu cepat, penguatan karakter peserta didik menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan. Tidak sedikit anak-anak yang mulai mengalami penurunan disiplin, kurangnya kepedulian sosial, hingga berkurangnya kebiasaan religius dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, sekolah perlu menghadirkan budaya positif yang mampu menjadi benteng pembentukan karakter generasi muda.

Salah satu langkah penting dalam membangun budaya sekolah yang positif adalah melalui penguatan nilai-nilai religius. Dalam konteks ini, program “Sakato Mengaji” yang menjadi program unggulan pemerintah daerah di bawah kepemimpinan Bupati menjadi salah satu bentuk dukungan nyata terhadap penguatan pendidikan karakter di sekolah. Program ini tidak hanya mengajarkan kemampuan membaca Al-Quran, tetapi juga menanamkan nilai kedisiplinan, akhlak, tanggung jawab, dan kecintaan terhadap nilai-nilai keagamaan sejak usia dini.

Di UPTD SDN 06 Kubang, program Sakato Mengaji menjadi bagian penting dalam membangun budaya sekolah yang religius dan berkarakter. Kegiatan mengaji dilakukan secara rutin sebagai pembiasaan positif sebelum proses pembelajaran dimulai. Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya belajar membaca Al-Quran, tetapi juga belajar tentang ketenangan, kesopanan, kedisiplinan, dan rasa hormat kepada guru maupun orang tua.

Advertisement

Pembiasaan seperti membaca doa bersama, budaya salam dan senyum, literasi pagi, menjaga kebersihan ling­kungan sekolah, serta kegiatan gotong royong terus dikem­bangkan sebagai bagian dari budaya sekolah. Guru menjadi teladan utama dalam memberikan contoh sikap disiplin, santun, dan bertanggung jawab. Keteladanan inilah yang menjadi kunci keberhasilan dalam membentuk karakter peserta didik.

Program Sakato Mengaji juga memperkuat hubungan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Pendidikan karakter tidak akan berhasil jika hanya dilakukan di lingkungan sekolah tanpa dukungan orang tua di rumah. Oleh karena itu, sinergi antara sekolah dan wali murid menjadi sangat penting agar nilai-nilai religius dan budaya positif dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari siswa.

Budaya sekolah yang positif memberikan dampak besar terhadap peningkatan mutu pendidikan. Lingkungan seko­lah yang tertib, religius, aman, dan nyaman akan membantu siswa lebih fokus dalam belajar serta membangun hubungan sosial yang sehat. Siswa tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak baik, peduli terhadap lingkungan, dan memiliki rasa tanggung jawab.

Pada akhirnya, pendidikan tidak hanya bertujuan mencetak siswa yang pintar secara intelektual, tetapi juga membentuk generasi yang memiliki karakter kuat dan nilai moral yang baik. Program Sakato Mengaji menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat budaya sekolah sekaligus me­nanamkan nilai religius dalam kehidupan peserta didik.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Krisis Keteladanan di Era Digital, Siapa yang Digugu dan Ditiru?

Krisis Keteladanan di Era Digital, Siapa yang Digugu dan Ditiru?

Anak semakin dekat dengan dunia digital. Keteladanan guru, orang tua, masyarakat, dan influencer penting untuk membentuk karakter.

Maulid Nabi di UNP, Sekjen Kemenag Ingatkan Mahasiswa Pentingnya Tujuan Jelas dan Karakter Kuat

Maulid Nabi di UNP, Sekjen Kemenag Ingatkan Mahasiswa Pentingnya Tujuan Jelas dan Karakter Kuat

Sekjen Kemenag Kamaruddin Amin mendorong mahasiswa UNP memiliki tujuan jelas serta memperkuat komunikasi, karakter, akhlak, dan ketekunan.

5 Cara ASPIKOM CARE 2026 Bangun Kepercayaan Diri Siswa SD Bustanul Ulum Semen Padang

5 Cara ASPIKOM CARE 2026 Bangun Kepercayaan Diri Siswa SD Bustanul Ulum Semen Padang

ASPIKOM CARE 2026 menghadirkan lima kegiatan edukatif untuk memulihkan trauma dan membangun kepercayaan diri siswa SD Bustanul Ulum Semen Padang.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer