
Penulis : Eva Yanti, S.S., M.Pd. - Guru UPT SMPN 2 Tanjuang Baru
“Apakah ada yang ingin bertanya?”
Kalimat tersebut hampir selalu diucapkan guru di penghujung pembelajaran. Namun, yang sering muncul justru keheningan. Puluhan pasang mata saling memandang, sebagian menunduk, sebagian lagi tersenyum kecil tanpa memberikan respons. Bel berbunyi, pelajaran usai, dan kesempatan bertanya pun berlalu begitu saja.
Fenomena ini bukanlah hal baru. Di banyak sekolah, budaya bertanya masih menjadi tantangan yang belum sepenuhnya teratasi. Padahal, kemampuan mengajukan pertanyaan merupakan salah satu indikator bahwa peserta didik berpikir, menganalisis, dan memiliki rasa ingin tahu. Ketika siswa enggan bertanya, guru tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa mereka sudah memahami materi. Bisa jadi mereka justru bingung, tetapi tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya.
Ada berbagai alasan mengapa siswa takut bertanya. Sebagian khawatir pertanyaannya dianggap sepele atau salah. Ada yang takut ditertawakan teman, malu menjadi pusat perhatian, atau takut mendapat respons yang kurang menyenangkan. Tidak sedikit pula yang sejak awal terbiasa menjadi pendengar pasif sehingga menganggap bertanya bukan bagian dari proses belajar.
Di sisi lain, budaya belajar kita masih cenderung menempatkan guru sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Pembelajaran sering berpusat pada penjelasan guru, sementara siswa lebih banyak mendengarkan dan mencatat. Akibatnya, kesempatan untuk berdialog dan mengeksplorasi rasa ingin tahu menjadi terbatas. Padahal, pembelajaran yang bermakna lahir dari interaksi dua arah yang saling menghargai.
Memasuki era digital dan kecerdasan buatan, kemampuan menghafal bukan lagi satu-satunya ukuran keberhasilan belajar. Informasi dapat diperoleh dengan mudah melalui internet maupun teknologi berbasis AI. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan berpikir kritis, menganalisis informasi, memecahkan masalah, dan mengajukan pertanyaan yang berkualitas. Semua keterampilan tersebut berawal dari keberanian untuk bertanya.
Oleh karena itu, membangun budaya bertanya bukan sekadar mendorong siswa mengangkat tangan di kelas. Yang lebih penting adalah menciptakan lingkungan belajar yang aman secara psikologis. Siswa harus merasa bahwa setiap pertanyaan dihargai, bukan dihakimi. Guru memiliki peran besar dalam membangun suasana tersebut melalui sikap yang ramah, terbuka, dan menghargai setiap usaha peserta didik untuk berpendapat.
Guru juga dapat mengubah cara mengajar agar lebih interaktif. Alih-alih selalu memberikan penjelasan panjang, guru dapat memulai pembelajaran dengan sebuah fenomena, gambar, video singkat, atau permasalahan yang dekat dengan kehidupan siswa. Ketika rasa ingin tahu muncul, pertanyaan akan lahir secara alami. Pembelajaran tidak lagi sekadar memindahkan informasi, tetapi mengajak siswa berpikir bersama.
Selain itu, penting untuk memberikan penghargaan kepada proses, bukan hanya jawaban yang benar. Ketika seorang siswa berani bertanya, guru sebaiknya memberikan apresiasi sederhana seperti ucapan terima kasih atau pujian atas keberaniannya. Sikap seperti ini akan menumbuhkan kepercayaan diri dan memberi pesan kepada siswa lain bahwa bertanya adalah sesuatu yang positif.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




