
Penulis : Mutiara, S.Pd., Gr. - Guru UPT SMPN 3 Sungayang
Pelestarian warisan budaya tidak hanya dilakukan melalui dokumentasi dan penelitian, tetapi juga melalui pewarisan pengetahuan secara langsung kepada generasi muda. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Workshop Silek Kumango yang diselenggarakan pada 9–10 Juni 2026 di SMPN 3 Sungai Tarab. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Provinsi Sumatera Barat dan masyarakat Nagari Kumango, yang dikenal sebagai tempat lahir dan berkembangnya Silek Kumango, salah satu aliran silek yang menjadi kebanggaan masyarakat Minangkabau.
Workshop yang berlangsung selama dua hari ini diikuti peserta didik tingkat SMP, khususnya siswa-siswi SMPN 3 Sungai Tarab. Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan sejarah, filosofi, nilai budaya, serta teknik dasar Silek Kumango agar generasi muda tidak hanya mengenal, tetapi juga mampu menghayati nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Acara diawali dengan registrasi peserta dan dilanjutkan dengan pembukaan resmi. Kepala SMPN 3 Sungai Tarab, Rizal, S.Pd., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap pelaksanaan workshop ini. Menurutnya, kegiatan semacam ini sangat penting memperkuat karakter peserta didik melalui pemahaman terhadap budaya lokal yang menjadi identitas masyarakat Minangkabau.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Wali Nagari Kumango, Iis Zamora, S.Pd., NLP. Ia mengungkapkan rasa bangga dan terima kasih kepada Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat serta seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan. Ia menegaskan, Silek Kumango bukan sekadar seni bela diri, melainkan warisan budaya yang mengandung nilai pendidikan, kedisiplinan, etika, kesabaran, serta penghormatan kepada guru dan sesama.
Kegiatan ini dipandu oleh Mutiara, S.Pd., Gr., guru UPT SMPN 3 Sungayang, yang bertindak sebagai moderator. Kehadirannya membantu menciptakan suasana diskusi yang interaktif sehingga peserta dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan antusias.
Sebagai narasumber utama hadir pelaku seni Nagari Kumango yang akrab disapa Pakcik, yaitu Roni Marpaung. Dengan pengalaman panjangnya dalam melestarikan dan mengembangkan Silek Kumango, ia menyampaikan materi mengenai sejarah lahirnya Silek Kumango, filosofi gerakan, serta nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Materi disampaikan secara komunikatif sehingga mudah dipahami para peserta didik.
Nagari Kumango memiliki posisi yang sangat penting dalam sejarah perkembangan silek di Minangkabau. Nagari ini dikenal sebagai kampung asal lahirnya Silek Kumango yang diwariskan secara turun-temurun oleh para guru dan pelaku seni bela diri tradisional. Silek Kumango tidak hanya mengajarkan teknik pertahanan diri, tetapi juga menanamkan nilai-nilai adat, etika, kesabaran, kedisiplinan, serta penghormatan kepada guru dan sesama. Oleh karena itu, pelaksanaan workshop di lingkungan sekolah menjadi langkah strategis memperkenalkan kembali warisan budaya tersebut kepada generasi muda agar mereka mengenal, mencintai, dan turut menjaga keberlangsungannya.
Dalam pelaksanaannya, Roni Marpaung didampingi oleh tim pelatih, yaitu Azmi dan Alfi. Keduanya berperan aktif mendemonstrasikan berbagai gerakan dasar Silek Kumango sekaligus membimbing peserta saat sesi praktik berlangsung. Antusiasme peserta terlihat ketika mereka mengikuti setiap instruksi dan mencoba mempraktikkan teknik-teknik dasar yang diajarkan.
Ketua pelaksana kegiatan, Ahmad Iqbal, S.Sn., M.Sn., yang juga merupakan putra Nagari Kumango dan pelaku seni, menyampaikan bahwa workshop ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan menjaga eksistensi Silek Kumango di tengah perkembangan zaman. Sebagai akademisi seni, ia menilai bahwa pelestarian budaya perlu dilakukan melalui pendekatan pendidikan agar generasi muda punya rasa memiliki terhadap warisan leluhur mereka.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




