Tak Nyangka, Berkiprah di Internasional

5
BERWAWASAN: Para siswa dan siswi SMAN 3 Padangpanjang bertekad untuk menjadikan sekolah tersebut menjadi sekolah literasi di Padangpanjang.

Tak terbayang sebelumnya, saya yang hanya guru biasa bisa berkiprah di dunia internasional. Saya yakin semua itu adalah berkat Rahmat Allah.

Tanpa campur tangan Allah, semua itu mustahil saya peroleh. Di samping itu, doa yang kuat dan dukungan semua pihak sangat membantu dalam memperoleh anugrah tersebut.

Profesi guru saya tekuni dengan penuh perjuangan. Semua itu saya jadikan bumbu dalam melaksanakan amanah negara. Pahit manis dalam menjalani profesi ini saya jadikan pengalaman berharga serta sebagai cambuk untuk bisa berbuat yang terbaik.

Pernah suatu hari, kira-kira tahun 2010, saya pernah ditanya oleh salah seorang siswa, “apakah saya sudah pernah ke luar negeri?”

Wah pertanyaan itu membuat hati saya sedikit berkecamuk, maklumlah saya seorang guru Bahasa Inggris yang sudah berkali-kali menyuarakan betapa pentingnya Bahasa Inggris. Tapi, saya tidak kecewa dengan pertanyaan itu, sebaliknya saya menjawab dengan percaya diri.

Ananda semua, saya belum pernah ke luar negeri tapi saya selalu berharap semoga suatu hari saya bisa menginjakan kaki di luar negeri. Saya butuh doa kalian semua. Luar biasa, saya merinding waktu satu lokal mengaminkannya dan membuat mata saya berkaca-kaca.

Meskipun saya cuma seorang guru bisa tapi saya memiliki impian besar sesuai dengan harapan siswa saya tersebut. Saya mulai melakukan sedikit-sedikit perubahan peningkatan kompetensi dan profesional saya seperti, menulis, melakukan penelitian bahkan menciptakan media dan model pembelajaran, menjadi nara sumber dan pembicara di konferensi Internasional.

Memang benar yang dikatakan orang bijak, langkah besar berawal dari ribuan langkah kecil. Mustahil langkah besar ada tanpa diawali dari langkah kecil yang dilakukan.

Ini memang benar adanya seperti dengan jejak perjalanan karir saya menjalani profesi sebagai guru lebih kurang 17 tahun. Berawal dari keikutsertaan mengikuti lomba guru berprestasi di tingkat kota, provinsi bahkan mengikuti program pertukaran guru luar negeri.

Alhamdulillah, berkat Rahmat Allah dan dukungan dari berbagai pihak sedikit demi sedikit satu persatu bisa diraih. Semua itu tidaklah semudah membalik telapak tangan, butuh perjuangan, kesungguhan, niat yang baik dari hati nurani bahkan doa yang kuat untuk bisa memberikan yang terbaik di dunia pendidikan tanah air.

Saya mencoba melakukan petualangan baru dengan mengikuti program pertukaran guru Indonesia-Korea pada tahun 2019 kerjasama Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan teknologi Republik Indonesia dengan APCEIU, UNESCO yang disponsori oleh Kementerian Republik Korea yang diikuti 12 orang guru Indonesia.

Ke dua belas orang tersebut ditempatkan di sekolah Korea yang sudah ditetapkan selama 3 bulan. Program yang luar biasa ini membuka wawasan, ilmu, pengetahuan dan pengalaman untuk bisa menjadi global citizen (masyarakat dunia) sesuai yang diharapkan.

Baca Juga:  PKBM Tahfizul Quran Jadi Prioritas

Bahkan, ini juga harus ditularkan kepada peserta didik. Pada tahun 2021 lalu, saya juga memperoleh kesempatan untuk mengikuti Program pertukaran guru Indonesia- Korea. Tapi bed a sekali dengan program yang saya ikuti 2019 lalu.

Karena pandemi, 4 orang guru Indonesia yang ikut program tidak bisa berkunjung ke Korea tapi melaksanakan beberapa rangkaian kegiatan berdasarkan instruksi dari APCEIU, UNESCO. Tepat pada tahun 2022, saya dan teman guru Indonesia mendapatkan kirim an paket buku untuk siswa terkait “Masyarakat Dunia”.

Bagaimana siswa mampu nantinya menciptakan kehidupan bersama dengan harmonis dengan menjunjung nilai- nilai yang ada. Saya memberikan pembelajaran yang terkait dengan buku tersebut.

Saya memberikan kesempatan bagi siswa membaca buku dari APCEIU, UNESCO , membuat resume dan melakukan diskusi terkait bagaimana mewujudkan masyarakat dunia yang bisa hidup aman damai, memiliki empathy, toleransi, menghargai perbedaan (baik agama, ras, suku maupun warna kulit), bagaimana cara menyelamatkan lingkungan bahkan masih banyak lagi yang dibahas terkait Sustainability Development Goals (SDG’s) dalam bahasa Indonesia tujuan pembenagunan berkelanjutan.

Saya tidak pernah menyangka bahwa yang saya lakukan ini akan memberikan sesuatu yang berharga. Bagi saya amanah APCEIU, UNESCO dan Kementerian Pendidikan kebudayaan Riset dan Teknologi ini harus saya lakukan semaksimal dan sebaik mungkin.

Ternyata, semua itu berbuah manis. Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah S.W.T atas segala Rahmat dan Karunia-Nya sehingga di awal bulan Maret 2022 ada kesempatan emas untuk mengikuti seleksi Global SDG’s Woman ambassador Award dengan mengirimkan (report)/ laporan terkait kegiatan terkait SDG’s yang dilakukan dalam rangka memperingati International Women’s day dari Penyelenggara (Global Ambassadors of Sustainability) United Arab Emirates Saya mencoba untuk mengikuti seleksi tersebut.

Saya pun langsung membuat laporan terkait kegiatan pembelajaran dengan buku referensi APCEIU, UNESCO beserta dokumentasi pelaksanaan pembelajaran tersebut.
Alhamdulillah, saya berhasil memperoleh penghargaan tersebut.

Saya memperoleh email dari panitia seleksi yang memberitahukan berdasarkan penilaian juri, saya berhasil memperoleh penghargaan (Global Ambassadors of Sustainability)sebagai salah seorang wanita penerima award dari 5 orang penerimanya di antaranya: Ms.Puttaroo Amiirah Bibi Rushaa (dari Port Louis, Mauritus), Dr. Renuke Thakore (dari United Kingdom), Dr. Wessam Essam Elssawy, (dari Egypt) dan Ms. Heba Almomani (dari Jordan).

Saya sangat bahagia mandapatkan awards tersebut. Suka bercampur haru berkecamuk di dalam hati. Kebahagian yang luar biasa saya rasakan karena bisa memberikan sesuatu buat Indonesia tercinta.

Membawa merah putih sejajar dengan 4 negara lainnya. Sertifikat penghargaan sebagai Global SDG’s Woman ambassador Award diperoleh tepat tanggal 11 maret 2022. Ini saya persembahkan bagi Kota Padangpanjang, Sumatera Barat dan Ibu Pertiwi. (***)