Siswa Kini Merdeka Belajar, Apakah Mereka Dulu Terjajah ?

10
Devi Lolasari, S.S, S.Pd GURU SDN 19 UJUANG GUGUAK KECAMATAN BASO.

Apakah selama ini siswa telah kehilangan kemerdekaannya? Ataukah, sebelumnya siswa-siswi kita di sekolah merasakan belajar dalam suasana terjajah? Mengapa Kemendikbud meluncukan kembali sebuah kurikulum dan menamainya dengan kurikulum Merdeka Belajar?

Bila ditelusuri arti kata merdeka sendiri berasal dari bahasa Sanskerta, maharddhikeka yang berarti kaya, sejahtera dan kuat. Dikutip dari KBBI, kata merdeka berarti bebas (dari perhambaan, penjajahan dan lainnya), berdiri sendiri, tidak terkena atau lepas dari tuntutan dan tidak bergantung kepada pihak tertetu.

Bagaimanakah pelaksanaan kurikulum Merdeka Belajar tersebut di Sekolah Dasar, apakah siswa dibiarkan melakukan sesuatu sesuai dengan yang mereka inginkan? Ataukah mereka akan benar-benar memerdekakan diri dengan melakukan sesuatu senaknya saja tanpa adanya aturan yang mengikat mereka? Jawabannya tentu saja tidak demikian.

Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan, Merdeka Belajar adalah suatu pendekatan yang dilakukan supaya siswa bisa memilih mata pelajaran yang disukainya serta bisa mengoptimalkan bakatnya dan bisa memberikan sumbangan yang paling baik dalam berkarya.

Seperti yang dilansir dalam GTK Kemdikbud Merdeka Belajar diartikan satuan pendidikan dalam hal ini sekolah, guru dan siswa punya kebebasan dalam berinovasi dan bertindak selama proses pembelajaran.

Guru yang merupakan pemimpin dalam pembelajaran di kelasnya sangat dianjurkan untuk tidak lagi menggunakan metode pembelajaran usang yang masih bepusat pada guru, tetapi menggantikan dengan metode belajar yang berpusat pada siswa.

Kurikulum tidak lagi berpusat dalam ruang kelas sebagai tempat belajar, namun bisa dilaksanakan juga di luar kelas yang bisa disesuaikan dengan kondisi dan keadaan lingkungan pendidikan masing-masing.

Implementasi kurikulum Merdeka Belajar tidak jauh berbeda dengan kurikulum sebelumya yaitu dimulai dari tahap perencanaan kurikulum, pelaksanaan kurikulum dan penilaian atau evaluasi terhadap pelaksanaanya.

Beberapa perbedaan lainnya antara lain dalam hal mata pelajaran (mapel) adanya penggabungan dua mata pelajaran yang sebelumnya terpisah yaitu IPA dan IPS menjadi Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial.

Kata merdeka seolah menjadi polemik bagi guru-guru karena tidak adanya sosialiasi secara lansung. Guru- guru hanya disuguhkan beragai macam link yang dapat digunakan untuk mempelajari kurikulum Merdeka Belajar tersebut dan diminta untuk bisa belajar secara mandiri.

Menurut Penulis dalam setiap kebijakan tentu ada pro dan kontra serta kelebihan dan kekurangan tentu senantiasa mengiringi dan harus disikapi dengan bijaksana.

Dinas Pendidikan Kabupaten Agam sudah mengeluarkan edaran agar pendidik dalam hal ini guru di semua jenjang pendidikan untuk segera mempersiapkan diri menggunakan kuriulum Merdeka Belajar pada awal tahun pembelajaran 2022/ 2023 nantinya.

Menurut penulis sebagai pelaksana di lapangan, dengan adanya kebebasan dalam kurikulum Merdeka Belajar ini akan sangat sejalan dengan program guru penggerak dan sekolah penggerak.

Dalam kurikulum ini pembelajaran mengacu pada pendekatan bakat dan minat yang dimiliki, siswa dihadapakan pada sebuah project maupun problem yang harus diselesaikan.
Sehingga siswa akan lebih kreatif, aktif dalam mengeksplorasi diri.

Guru bisa melaksanakan, memilih dan memadukan berbagai teori pembelajaran diantaranya Discovery Learning, project Based Learning, Problem Based Learning maupun Inquiry Learning dengan merdeka. Guru berperan sebagai fasilitator, motivator dan inspirator sesuai dengan kriteria guru dan abad 21.

Merdeka belajar sangat relevan dengan perkembangan zaman, anak- anak tidak didikte untuk melakukan sesuatu sesuai keinginan guru, namun siswa akan bebas berekspolrasi dalam mencari imu pengetahuan dan menemukan jawaban atas sebuah masalah yang diberikan.

Dengan berbekal keyakinan kita guru-guru di Indonesa harus mampu untuk melaksanakan kurikulum Merdeka Belajar ini. Tersimpan sebuah harapan yang sangat besar bahwa kurikulum penyempurna ini akan mampu mendongkrak semangat siswa dan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, sehingga mucullah generasi milenial yang mumpuni di setiap bidangnya kelak.(***)