Peta Pikiran Cara Kreatif dan Solutif

3
Vhelltysia Gamina, S.Pd Guru SDI AL Ishlah Bukittinggi

Sekolah Dasar (SD) merupakan tempat belajar untuk mendapatkan pengalaman pertama dalam memberikan dasar–dasar pembentuk kepribadian individu. Kita lihat pada saat ini anak Sekolah Dasar hanya mendapatkan materi yang disajikan oleh guru dari pendidikan di sekolah.

Di sisi lain, penguasaan cara belajar anak dalam mengaplikasikan keterampilan dan kejeniusan mereka sedikit terabaikan. Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan cara belajar dengan apa yang didapat dari belajar.

Belajar bukanlah aktivitas yang menyenangkan bagi anak dan akibatnya peserta didik tidak dapat mengaplikasikan kemampuan, kreativitas dan potensi terbaik otaknya dalam prestasi belajarnya.

Guru dituntut lebih cermat dan teliti dalam memilih dan memilah metode dan strategi pembelajaran agar proses belajar mengajar di kelas dapat berlangsung dengan efektif. Hal ini dapat dijadikan suatu kemudahan bagi guru untuk dapat melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan, kreatif dan menciptakan pemikiran kritis dari peserta didik.

Nah, mind mapping (Peta Pikiran) merupakan salah satu cara untuk mewujudkan hal tersebut. Mind mapping sendiri merupakan metode dengan mencatat poin–poin penting dari materi yang sedang dipelajari lalu menggambarkannya menjadi suatu bagan yang dibagi sesuai kategori.

Penggunaan mind mapping akan memudahkan peserta didik dalam melihat gambaran besar suatu ide. Selain itu juga dapat mengoptimalkan otak kanan dan otak kiri karena mind mapping menggunakan gambar, bagan, garis–garis, warna serta kata–kata sederhana.

Khusus untuk guru Sekolah Dasar, mind mapping merupakan sebagai cara yang kreatif dan solusi terbaik bagi peserta didik yang menyusun beragam informasi agar lebih mudah dipahami. Mereka juga dapat mempertajam daya analisa dan logika karena tidak lagi dituntut mencatat buku dan menghafalnya.

Ini dapat membuat peserta didik terbiasa menyusun informasi dari suatu ide utama yang dipelajari. Guru akan memberikan arah yang jelas dalam penyajian pelajaran sehingga dapat menyajikan materi pelajaran secara mudah dan sistematis. Dan bagi peserta didik, penyajian lewat mind mapping akan lebih menarik dan menyenangkan bagi mereka.

Baca Juga:  Teori ke Teori Saja, Menulisnya Kapan?

Mind mapping sering saya gunakan di kelas, karena dengan metode ini kita bisa menyajikan materi dengan cara yang lebih sederhana. Misalkan saja sewaktu belajar tematik mata pelajaran IPS tentang proklamasi kemerdekaan yang membutuhkan hafalan tentang peristiwa dan waktu terjadinya.

Di sini, saya membuat dengan banyak simbol, balon-balon kata, garis lengkung serta memberikan visualisasi baik secara manual ataupun melalui presentasi lewat layar laptop menggunakan in focus.

Cukup tuliskan “Proklamasi Kemerdekaan” di bagian tengah kemudian apa saja informasi yang dapat ditemukan dalam proklamasi kemerdekaan tanpa menuliskan kalimat yang panjang. Dengan demikian peserta didik akan lebih mudah untuk menghafal informasi yang dibutuhkan.

Berdasarkan pengalaman saya mengajar, sebelum memulai membuat mind mapping saya mengajak peserta didik menemukan poin penting di setiap bab dan sub bab buku yang dibaca lalu mencatatnya pada kertas.

Pada mind mapping manual saya sering memanfaatkan papan tulis atau kertas karton persegi panjang, spidol berwarna agar kelihatan lebih indah, kreatif dan mudah untuk diingat. Saya tuliskan tema utama dengan huruf besar dan warna yang mencolok dalam suatu lingkaran.

Langkah selanjutnya yaitu membuat cabang dari tema yaitu berupa judul dan membuat cabang berikutnya dari judul tersebut. Untuk bagian atau cabang dari judul cukup hanya menuliskan kata kunci dengan satu kata atau frase, karena kalau kalimatnya panjang peserta didik akan sulit untuk mengingatnya.

Mind mapping sangatlah menyenangkan dan dapat membangkitkan kreativitas karena dapat melibatkan otak peserta didik secara aktif. Ini merupakan salah satu pembelajaran yang sudah memiliki pengaruh yang luar biasa hebatnya dan positif bagi peserta didik mulai kelas rendah hingga kelas tinggi. Oleh sebab itu, peserta didik diharapkan dapat menyerap isi materi pelajaran dan mendapat pengalaman belajar yang lebih baik pula. (***)