Literasi digital sangat berperan di tengah keputusan pemerintah mencanangkan penerapan kurikulum baru yaitu kurikulum merdeka. Apalagi dalam kurikulum merdeka menuju merdeka belajar yang dalam prosesnya baik guru dan peserta didik memerlukan konten pembelajaran yang menarik melalui berbagai media digital.
Pada zaman sekarang, Literasi digital merupakan satu dari enam literasi dasar yang harus dikuasai oleh peserta didik. Pengimplementasian dari pencanangan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang sudah dijalankan pemerintah sangat erat kaitannya dengan literasi digital yang diterapkan di Sekolah termasuk
Sekolah Dasar (SD). Pentingnya peserta didik melek dengan teknologi digital merupakan hal yang wajib di zaman sekarang diajarkan ke semua peserta didik, tak terkecuali anak sekolah dasar.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menuliskan didalam modul literasi digital bahwa, literasi digital di SD merupakan kecakapan menggunakan media digital dengan baik, benar, dan bertanggung jawab untuk memperoleh informasi pembelajaran, mencari solusi masalah, menyelesaikan tugas belajar, serta mengkomunikasikan berbagai kegiatan belajar dengan insan pembelajaran lainnya.
Upaya peningkatan literasi di SD menjadi sangat penting karena SD menjadi pondasi dan dasar bagi gerakan literasi berikutnya, yaitu di Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA).
Jadi dalam menghadapi perubahan zaman dan juga kurikulum baru yang mengusung moto merdeka belajar ini salah satu upaya penguatan melek literasi tersebut di tingkat SD adalah dengan penguatan literasi digital.
Penguatan literasi digital di SD, bisa dijadikan alternatif menggunakan internet untuk mencari informasi atau hiburan. Implementasi literasi digital dapat dijadikan alternatif pembelajaran yang menarik dengan menggunakan sumber digital.
Sementara itu, literasi digital dengan penggunaan, etika, penyadaran kolektif bermedsos bagi peserta didik di SD perlu diedukasi sesuai dengan penggunaan yang diperlukan dan terhindar dari perundungan, permainan (game) yang menjadi candu, korban media sosial, dan korban kelalaian dalam pengelolaan waktu.
Tercapai atau tidaknya tujuan literasi digital juga ditentukan oleh kesiapan bahan, baik untuk guru, siswa, maupun bahan untuk pembinaan guru, terutama yang berkaitan bahan pembelajaran.
Mengapa perlu memanfaatkan literasi digital di era merdeka belajar saat ini. Semua ini tidak terlepas dari alasan dari ruang lingkup literasi digital sangat luas, oleh sebab itu literasi digital ini dapat diaplikasikan di sekolah, keluarga (rumah), maupun masyarakat.
Untuk mengakses pembelajaran secara Literasi digital juga sangat beragam, mulai dari referensi bacaan yang banyak, juga bisa belajar melalui video-video pembelajaran yang ada di portal-portal pendidikan.
Peserta didik juga bisa membuat konten-konten pembelajaran sendiri sesuai materi pembelajaran yang sekaligus melatih karakter peserta didik seperti berani dan bertanggung jawab, dan masih juga banyak aplikasi-aplikasi menarik sekarang yang bisa dijadikan sebagai ajang membuat konten-konten literasi digital, seperti akun tiktok selama ini kita kenal hanya sebagai ajang goyang dan joget, namun sekarang aplikasi tiktok bisa dijadikan media menyampaikan konten pembelajaran.
Begitu juga aplikasi canva juga bisa dijadikan oleh guru maupun peserta didik untuk berliterasi digital. Literasi digital ini memiliki beberapa kelebihan antara lain bisa dilakukan kapanpun, di manapun tidak terbatas waktu dan tempat.
Memperoleh informasi dengan cepat, belajar lebih cepat, selalu mengetahui informasi terkini serta yang terpenting mempermudah proses komunikasi antara peserta didik, pendidik dan orang tua.
Media lebih variatif dan kekinian, peserta didik merasa gembira karena zaman sekarang tidak bisa kita pungkiri peserta didik saat ini sangat susah dijauhkan dari gadget dan kenyataannya sudah banyak peserta didik yang memiliki gawai sendiri. Peserta didik saat ini dapat dikatakan sebagai generasi digital, karena mereka lahir setelah adopsi tekhnologi digital.
Dengan literasi digital juga tercipta kemampuan memahami serta mampu berpikir kritis sesuai dengan tuntutan profil pelajar pancasila serta melakukan evaluasi pada media digital dan juga bisa merancang konten-konten komunikasi yang bisa dijadikan sebagai bahan pembelajaran.
Peserta didik yang mendapatkan tugas dari guru, ia bisa mengetahui sumber-sumber informasi terpercaya yang dapat dijadikan referensi untuk keperluan tugasnya. Waktu akan lebih berharga karena dalam menemukan informasi itu menjadi lebih mudah.
Teknologi dalam memanfaatkan literasi digital di manapun selalu menghadirkan pisau bermata dua, bisa sangat bermanfaat jika digunakan dengan bijaksana. Namun, juga bisa sangat berbahaya jika disalahgunakan.
Karenanya kita sebagai guru harus juga bijak untuk menentukan pembelajaran yang seperti apa yang membutuhkan sentuhan teknologi digital serta pembelajaran seperti apa yang membutuhkan pendekatan sosial.
Sebenarnya tugas kita sebagai pendidik dan orangtua sangat berat untuk mengantisipasi dampak buruk dan tantangan pendidikan di zaman Now dari penggunaan internet dan gawai dalam berliterasi digital.
Di lingkungan keluarga, cara yang paling pas dalam mengembangkan literasi digital di dalam keluarga (di rumah) dimulai dari peran ayah dan ibu, karena mereka berdua seyogyanya menjadi contoh literasi dalam menggunakan bahan digital.
Diskusi, saling menceritakan kegunaan media digital yang positif dapat dilakukan orangtua terhadap putra- putrinya. Literasi digital khususnya implementasi pada usia anak-anak usia sekolah dasar, harus mendapatkan pengarahan dan pendampingan dari guru dan orang tua.
Pasalnya anak-anak di masa perkembangan masih minim kemampuan literasinya terhadap media sosial dan video daring seperti youtube. Keluarga merupakan benteng pertama dalam literasi digital, karena anak-anak memerlukan pendampingan orang tua dan mendidik anak-anak agar cerdas dalam mengolah dan menyampaikan informasi sehingga mereka tidak salah dalam menerima dan menyampaikan informasi lewat media sosial.
Jadi mari kita “kuatkan konsep merdeka belajar dengan literasi digital” dengan tetap memberikan pengajaran mengenai pentingnya etika dan rambu-rambu dalam berliterasi digital. Salam Merdeka Belajar. (***) Editor : Novitri Selvia