
PADEK.JAWAPOS.COM-Lembaga pendidikan formal bukan sekadar tempat mentransfer ilmu pengetahuan demi mengejar angka pada ijazah ataupun predikat, pangkat, dan kedudukan di masa depan sebagai bekal keberlangsungan hidup.
Sekolah merupakan benteng pertahanan kebudayaan terdepan. Perpaduan nilai-nilai budaya dalam kurikulum dapat menjadikan sekolah sebagai tempat identitas generasi dibentuk, diuji, serta menjadi harapan untuk mempertahankan budaya itu sendiri.
Dalam pelaksanaan sosialisasi nilai-nilai kearifan lokal yang termuat dalam pembelajaran muatan lokal di SD Negeri 21 Payakumbuh, guru memegang peran krusial sebagai agen kebudayaan.
Guru bertugas menjembatani kekayaan nilai masa lalu dengan masa depan yang serba digital di tengah transformasi teknologi yang semakin canggih. Guru tidak boleh hanya menjadi penonton pasif di tengah arus globalisasi, melainkan harus menjadi pemandu yang mengarahkan murid-muridnya agar tetap berpijak pada kearifan lokal.
Murid perlu memahami berbagai bentuk kebudayaan beserta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sehingga dapat diterapkan sebagai panduan karakter dan keluhuran budi dalam kehidupan sehari-hari.
Upaya nyata guru dalam melestarikan budaya lokal sering kali dimulai dari ruang-ruang kelas melalui pembiasaan literasi yang terkontrol dan berkelanjutan.
Sebagai agen di lembaga pendidikan formal, guru memiliki otoritas untuk merancang pembelajaran yang menyisipkan nilai-nilai tradisi, mulai dari cerita rakyat, filosofi seni tradisional, hingga sejarah terbentuknya komunitas lokal.
Namun, tantangan terbesar muncul ketika guru menyadari bahwa metode lisan atau hafalan yang monoton tidak lagi efektif menarik minat generasi masa kini yang cenderung menyukai kecepatan dan visualisasi.
Kesadaran inilah yang mendorong para guru untuk melangkah lebih jauh, yakni mentransformasikan pengetahuan budaya ke dalam bentuk karya tulis yang abadi, menarik, dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Keterlibatan guru sebagai pelestari budaya melalui jalur literasi menjadi sangat penting. Seorang guru menyadari bahwa niat baik saja tidak cukup. Karena itu, guru memilih mengambil langkah progresif dengan berpartisipasi aktif dalam berbagai pelatihan, lokakarya, dan komunitas kepenulisan guna meningkatkan wawasan serta kemampuan literasinya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


