Bangunan masjid yang baru berdiri sejak tahun 2018 tersebut, berada persis di atas Bukit Pantai Jati, dusun Jati Tuapejat. Selain tempat evakuasi tsunami, dari pekarangan Masjid Asyuhada sendiri juga menawarkan pemandang Pulau Awera dan Pulau Panjang tepat arah ke barat Masjid Asyuhada.
Di samping itu, masjid ini juga salah satu masjid tercepat proses pembangunannya. Mulai dibangun tahun 2017 dan diresmikan sekaligus difungsikan tahun 2018. Biaya pembangunan masjid semi permanen tersebut, juga hanya menelan anggaran sebesar Rp 250 juta saja.
Sesuai dengan namanya, masjid berukuran 10 meter x 10 meter itu atas donatur seorang pegawai negeri di Kuala Lumpur, Malaysia bernama Jasmi. Dia bercita-cita bagaimana syiar Islam terus tegak di bumi Mentawai.
Dasril, 58, salah seorang penasihat Masjid Asyuhada yang juga sebagai pewakaf tanah masjid menuturkan bahwa pendirian masjid tidak terlepas dari peran Bapak Jasmi. Di mana, tahun 2016 sepulang umrah dan kembali ke Mentawai, merupakan awal pertemuannya dengan Jasmi yang dikenalkan sebagai seorang dai di Tuapejat.
Sebelumnya, dirinya pernah bercerita kepada dai tersebut akan mewakafkan sejumlah tanahnya untuk pembangunan masjid. Bahkan, jauh sebelum ada yang mau menjadi donatur, dirinya bersama istri tercinta sudah bercita-cita sejak lama membangun masjid di belakang bangunan rumahnya. Paling tidak, membangun sebuah musala.
”Saya dan istri memang sudah berniat sejak lama ingin membangun masjid, minimal musala. Kami buat tabungan, sudah sampai terkumpul Rp 8 juta. Cita-cita kami hanya musala, tapi Allah buat lebih besar menjadi masjid. Subhanallah,” kata lelaki asal Pesisir Selatan tersebut.
Bak gayung bersambut, Jasmi yang kala itu bercita-cita membangun rumah Allah di Mentawai, asalkan ada yang mewakafkan tanah. Dari pertemuan itulah, dia bersama sang istri diminta datang ke Malaysia oleh Jasmi. Sepulang dari Malaysia dia dititipkan Jasmi uang sudah pecahan rupiah sebesar Rp 50 juta. Bahkan, di bandara Malaysia dia sempat ditahan petugas bandara karena kedapatan membawa uang Indonesia dalam jumlah besar.
”Namun, setelah saya jelaskan, bahwa uang tersebut merupakan titipan dari seorang pejabat Malaysia guna pembangunan masjid di Indonesia, tepatnya, di Kepulauan Mentawai. Akhirnya, kami dilepaskan dan diizinkan untuk kembali ke Indonesia,” kenang Dasril.
Nah, Jasmi lewat amanah tersebut, diminta agar digunakan sebisa mungkin sebagai langkah awal pembangunan masjid. Dia berjanji akan menyiapkan kembali anggaran untuk memulai pembangunan masjid. Oleh Dasril, dana tersebut digunakannya untuk land clearing atau mendatarkan lokasi rencana bangunan masjid. Maklum, lokasi masjid berada di atas bukit dusun Jati, Tuapejat, yang juga atas permintaan donatur, mewaspadai bencana tsunami.
Tidak sampai disitu, usai proses land clearing dengan luas tanah 30 meter x 45 meter tersebut, memerlukan pembangunan turap agar tanah tidak turun atau longsor. Nah, pembuatan turap ni, memakan biaya yang cukup besar. Bahkan, melebihi anggaran pembangunan masjid, yakni, Rp 350 juta.
”Pembanguan turap ini menelan biaya Rp 350 juta. Memang, ketinggian turap dan lebarnya cukup luas serta panjang pembangunan turap mencapai 45 meter. Sementara, anggaran pembangunan masjid sendiri, hanya menelan sebesar Rp 250 juta saja. Proses, pembangunan masjid ini, juga sangat dimudahkan Allah,” katanya.
Bahkan, kata dia, saat pendistribusi material dari Padang ke Mentawai, karena akan digunakan untuk pembangunan masjid, banyak yang ikut membantu. Termasuk dari kalangan buruh, maupun yang lainnya. Akhirnya, pada tahun 2018, masjid selesai dibangun sekaligus diresmikan.
Kini, selain aktif menyelenggarakan shalat lima waktu, Masjid Asyuhada juga aktif melakukan pembinaan terhadap para muallaf. Ada sebanyak 13 orang muallaf yang rutin dua kali sepekan mendapat bimbingan di sana.
Ide tersebut, kata Dasril, juga tidak terlepas dari keprihatinan dan peran Kemenag di Kepulauan Mentawai. Di mana, kata dia, setiap ada muallaf yang akan melangsungkan pernikahan, namun, masih didapati mereka belum bisa membaca Al Quran. Kondisi tersebut, kemudian menjadi peluang bagaimana mengaktifkan pembinaan mualaf di masjid tersebut.
”Nah, di masjid inilah, kita juga memulai melakukan pembinaan mualaf. Kegiatan ini, sudah berjalan sejak satu tahun belakangan. Ada 13 orang mualaf yang kita bina di sini. Kita ajarkan, mulai dari belajar bersuci, sholat hingga membaca alquran dengan lima orang guru,” katanya.
Selain itu, kata dia, saat ini, Masjid Asyuhada juga memiliki ratusan santri Taman Pendidikan Anak (TPA). Hanya saja, kata dia, kondisi pandemi Covid-19 ini belum bisa berbuat banyak. Untuk honor penceramah selama Ramadhan dan biaya listrik saja, kata dia, pengurus cukup kewalahan.
”Kita tahu, kondisi masyarakat kita di sini yang hidup pas-pasan. Rata-rata mereka bekerja sebagai nelayan. Infak masjid Jumat dan selama ramadhan ini, hanya bisa menutupi listrik dan honor penceramah saaja. Bahkan, tidak jarang terjadi minus,” ungkapnya.
Selama pandemi Covid-19 ini, kata dia, komunikasi dengan donatur dari Malaysia juga terputus. Untuk itu, lanjut dia, dia berharap ada hamba-hamba Allah yang sedia menyumbangkan sedikit rezekinya. Jika bukan saling membantu sesama muslim, kata dia, siapa lagi yang akan menghidupkan syiar agama Islam di bumi sikerei ini. (arif rahmat daud-Padang Ekspres) Editor : Novitri Selvia