Sah, Harga Baru Pertamax Rp 12.500

11
KELELAHAN: Seorang sopir truk berbaring di atap mobilnya saat menunggu antrean solar di SPBU KM 15, Jalan Soekarno-Hatta, Balikpapan Utara, kemarin (31/3).

Akhirnya PT Pertamina (Persero) menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) pertamax dari Rp 9 ribu menjadi Rp 12.500 untuk daerah dengan besaran pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) 5 persen mulai 1 April 2022.

Mengutip laman resmi perusahaan, kemarin (31/3), Pertamina menetapkan harga pertamax sebesar Rp 12.500 per liter di tiga daerah. Rinciannya, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Khusus Sumbar, harnganya menjadi Rp 12.750.

Pjs Corporate Secretary Pertamina Irto Ginting mengatakan, harga pertamax di semua daerah yang menetapkan PBBKB sebesar 5 persen naik menjadi Rp12.500. Hal ini termasuk DKI Jakarta. ”(Harga pertamax) berbeda karena pajak. Betul (harga pertamax di DKI Jakarta Rp 12.500 per liter),” jelas Irto.

Pertamina menetapkan harga pertamax naik menjadi Rp 12.750 per liter di 14 daerah. Rinciannya, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.

Sebelumnya, Staf Khusus Kementerian BUMN Arya Sinulingga mengatakan, harga keekonomian pertamax Rp 14.500 per liter. Namun, Pertamina hanya menjual pertamax sebesar Rp 9.500 per liter. ”Bisa dikatakan posisinya, Pertamina subsidi pertamax. Ini jelas artinya Pertamina subsidi mobil mewah yang pakai pertamax, karenanya perlu dihitung ulang,” kata Arya.

Menurut Arya, harga BBM jenis pertamax di Asia Tenggara dibanderol Rp 14 ribu-Rp 15 ribu per liter. Sementara, harga pertamax khusus di Malaysia lebih murah karena pemerintah memberikan subsidi dengan mekanisme tertentu. Kementerian ESDM sendiri membuka peluang untuk menetapkan batas atas harga BBM jenis pertamax sebesar Rp 16 ribu per liter.

Hal ini karena harga minyak mentah dunia masih tinggi di atas US$100 per barel.
Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerjasama Agung Pribadi konflik antara Rusia dan Ukraina menjadi penyebab utama harga minyak mentah dunia terus meningkat. Pasalnya, stok minyak mentah dari Rusia dan Kazakhstan terganggu akibat kerusakan pipa Caspian Pipeline Consortium, sehingga pasokan ke Uni Eropa berkurang.

”Dengan mempertimbangkan harga minyak bulan Maret yang jauh lebih tinggi dibanding Februari, maka harga keekonomian atau batas atas BBM umum RON 92 April 2022 akan lebih tinggi lagi dari Rp 14.526 per liter, bisa jadi sekitar Rp 16.000 per liter,” kata Agung.

Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahaja Purnama menyebutkan bahwa semestinya harga pertamax di bawah Rp 16 ribu per liter. ”Harusnya iya (di bawah Rp 16 ribu, red). Kecuali, ada hal baru yang belum tahu,” kata Ahok—sapaan Basuki Tjahaja Purnama—kepada Jawa Pos (grup Padang Ekspres) kemarin.

Terpisah, pengamat energi Komaidi Notonegoro memandang kenaikan harga pertamax diproyeksikan tidak mencapai Rp 16 ribu per liter. ”Kalau Rp 16 ribu, sudut pandangnya hanya BUMN. Kan sudah tentu harus mempertimbangkan daya beli masyarakat,” tuturnya.

Menurut dia, kenaikan diprediksi berkisar Rp 12 ribu hingga Rp 13 ribu per liter. Sebab, lanjut dia, kenaikan harga tidak akan terlampau jauh jika dibandingkan dengan harga BBM RON 92 yang dijual kompetitor.

Baca Juga:  H-14 Harusnya THR Sudah Cair

Sebagai pembanding, Shell menjual BBM RON 92 di kisaran Rp 12.990 per liter. Sementara, BP-AKR menjualnya di kisaran Rp 12.500 per liter. ”Biasanya kan Pertamina selalu lebih murah daripada pesaingnya,” ujar dia.

Berbagai pihak memandang kenaikan harga pertamax bakal membuat konsumen beralih ke BBM yang lebih murah. Pertalite, misalnya. Komaidi melihat kondisi itu bisa saja terjadi. Namun, persentasenya diramalkan tidak besar.

Sebab, konsumen pertamax merupakan masyarakat menengah ke atas dengan spek kendaraan khusus. ”Mungkin yang pindah itu motor, dari pertamax ke pertalite. Tapi, kalau mobil, kayaknya nggak terlalu,” jelas dia.

Sejalan dengan itu, Presiden Joko Widodo menginstruksikan kelangkaan solar bersubsidi di sejumlah daerah diantisipasi. Sikap presiden itu disampaikan Wakil Presiden Ma’ruf Amin di Surabaya kemarin. Kelangkaan solar bersubsidi dikhawatirkan berdampak pada sektor terkait lainnya.

Misalnya, urusan logistik dan sejenisnya. ”Presiden sudah memberikan instruksi supaya ini segera diantisipasi. Untuk kelangkaan solar (bersubsidi) ini,” kata Ma’ruf.

Dia menuturkan, seluruh kementerian dan lembaga terkait diinstruksikan terus memantau stok solar bersubsidi. Selain itu, para menteri diminta mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi kelangkaan solar bersubsidi.

Ma’ruf mengungkapkan, mungkin kemarin atau dalam waktu dekat langkah-langkah strategis pemerintah disampaikan. ”Saat ini digodok,” katanya.

Terlepas dari peningkatan harga BBM, harga-harga komoditas bahan pangan menjelang Ramadhan tidak dimungkiri menunjukkan tren kenaikan. Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus memantau harga dan ketersediaan bahan pokok di lapangan.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Oke Nurwan menjelaskan, pihaknya menyusun sistem mitigasi pada beberapa kebutuhan pokok. Pertama, untuk komoditas kedelai, harga diakui cenderung tinggi mengikuti harga internasional.

Sebab, 95 persen kebutuhan kedelai nasional dipenuhi dari impor. ”Untuk mitigasi, Kemendag menugasi Bulog agar menjalankan program bantuan penggantian selisih harga pembelian kedelai di tingkat perajin tempe dan tahu,” ujar Oke.

Komoditas selanjutnya yang menjadi perhatian adalah telur dan daging ayam ras. Kemendag juga menugasi Bulog menyediakan 50 ribu ton jagung pakan ternak. ”Langkah ini dilakukan guna membantu pemenuhan kebutuhan peternak, khususnya skala mikro dan kecil,” jelasnya.

Kemudian, harga gula saat ini berada di kisaran Rp 14.500 per kilogram atau naik 2,84 persen bila dibandingkan dengan bulan lalu. Dan, naik 11,54 persen jika dibandingkan dengan periode Lebaran tahun lalu. ”Kenaikan harga gula disebabkan kenaikan harga raw sugar impor hingga mencapai Rp 10.436 per kilogram,” paparnya.

Untuk harga cabai, Oke menyampaikan bahwa terjadi kenaikan jika dibandingkan dengan bulan lalu. Kenaikan ini disebabkan tingginya curah hujan sepanjang Februari sampai awal Maret.

”Kami perkirakan, saat Ramadhan, pasokan telah kembali optimal. Kementerian Perdagangan memantau intensif distribusi di sentra produksi cabai seperti Kediri, Blitar, Tuban, Magelang, Banyuwangi, Situbondo, dan Malang yang siap panen serempak mulai akhir Maret dan awal April,” paparnya. (dee/wan/agf/c14/oni/jpg)