Ini Dia Rahimnya Pancasila!! di Ende, Lahirlah Dasar Hukum Negara!

11
WAHANA EDUKASI: Guru SDIT Attaqwa Pusat menjelaskan kepada siswa mengenai Pancasila di Rumah Kebangsaan Pancasila, Desa Jogjogan, Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, kemarin (1/6).FOTO: SALMAN TOYIBI/JAWA POS

Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, kemarin (1/6) ramai. Rombongan Presiden Joko Widodo melaksanakan upacara Hari Lahir Pancasila sekaligus melihat peninggalan Soekarno selama diasingkan di Ende. Masyarakat pun antusias.

Sebab, Jokowi merupakan presiden kedua setelah Soekarno yang datang di tempat tersebut. Salah seorang warga Ende, Fransisca, mengungkapkan terima kasihnya kepada Jokowi yang sudah meluangkan waktu ke Ende.

”Ini hadiah terbesar bagi masyarakat Ende,” tuturnya. Hal serupa diutarakan Fadila, pelajar yang ikut dalam upacara Hari Lahir Pancasila.

”Kami mau nonton, tapi katanya tidak bisa masuk sembarang orang,” ujarnya.
Kisah Bung Karno selama tinggal di pengasingan dipaparkan Staf Dinas Pariwisata Kabupaten Ende Nocent W. Doy. Tugas itu membuat Nocent harus bangun pagi.

”Sebelumnya tegang karena kata Paspampres (Pasukan Pengamanan Presiden, Red) harus sesuai dengan teks. Tapi, setelah Pak Jokowi tanya, saya langsung cerita mengalir. Beliau tertarik,” bebernya.

Nocent menceritakan bahwa Jalan Soekarno dipenuhi warga sejak pagi. Selain itu, pelajar, mahasiswa, TNI, Polri, dan tokoh agama turut dalam upacara. Acara yang rutin dilaksanakan tiap tahun, menurut Nocent, kini terasa lebih khidmat.

”Malam setelah Pak Jokowi tiba ke Ende, kabarnya beliau blusukan. Banyak video yang beredar di media sosial memperlihatkan masyarakat senang,” katanya. Dia berharap perayaan Hari Lahir Pancasila di Ende membuat kota kelahirannya itu semakin terkenal. Dengan begitu, pembangunan dan pariwisata di Ende semakin maju.

Pada kesempatan lain, Bupati Ende Jafar Achmad menyatakan, antusiasme warga bisa terlihat bahkan sebelum upacara dimulai. Parade laut yang dilaksanakan sebelum Hari Lahir Pancasila cukup sukses. Kegiatan yang berlangsung sejak enam tahun lalu itu semakin meriah. ”Bicara soal Pancasila, Ende adalah rahimnya,” ungkapnya.

Dalam upacara di Lapangan Pancasila tersebut, Jokowi bertindak sebagai inspektur upacara. Dia mengenakan pakaian adat Ende bernama Ragi Lambu Luka Lesu dengan kain motif perpaduan merah dan hitam. Tepat pukul 08.00 Wita, rangkaian upacara dimulai.

Komandan upacara adalah Kolonel Inf Tunjung Setyabudi, sedangkan Ketua MPR Bambang Soesatyo berperan membacakan teks Pancasila. Lalu, Wakil Ketua DPR Lodewijk Freidrich Paulus membacakan teks Pembukaan UUD 1945.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy memimpin pembacaan doa selepas penyampaian amanat oleh inspektur upacara. Dalam amanatnya, Jokowi mengajak semua komponen bangsa untuk membumikan Pancasila.

”Dari Kota Ende, saya mengajak seluruh anak bangsa di mana pun berada untuk bersama-sama membumikan Pancasila, mengaktualisasikan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” ujarnya.

Menurut Jokowi, selain sebagai pemersatu, Pancasila telah menjadi bintang penuntun ketika bangsa Indonesia menghadapi tantangan dan ujian. Hal tersebut sudah dibuktikan berkali-kali dalam perjalanan sejarah bahwa bangsa dan negara Indonesia bisa tetap berdiri kukuh dan menjadi negara yang kuat karena semua sepakat untuk berlandasan Pancasila.

”Pancasila kita wujudkan dalam sistem kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan. Kita implementasikan dalam tata kelola pemerintahan dan menjiwai interaksi antar sesama anak bangsa,” imbuhnya.

Mantan gubernur DKI Jakarta itu juga mengajak seluruh pemimpin bangsa, terutama para pejabat pemerintahan, tokoh agama, dan tokoh masyarakat, untuk menjadi teladan serta contoh dalam aktualisasi nilai-nilai Pancasila.

”Mengajak seluruh rakyat untuk bergerak aktif memperkukuh nilai-nilai Pancasila dalam mewujudkan Indonesia maju, mewujudkan cita-cita proklamasi kemerdekaan,” tegasnya.

Jokowi dan rombongan juga berkunjung ke Rumah Pengasingan Bung Karno. Mereka melihat berbagai macam barang peninggalan Bung Karno bersama keluarga. Misalnya, lukisan tangan Bung Karno serta naskah drama sandiwara yang terukir kesan mendalam akan nilai persahabatan, kerakyatan, dan cintanya terhadap alam.

Dalam lawatan ke Ende, Jokowi mendapat penganugerahan gelar adat Mosalaki Ulu Beu Eko Bewa. Artinya, pemimpin wilayah seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
Terpisah, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mohammad Mahfud MD turut menekankan bahwa Pancasila merupakan kesepakatan leluhur bangsa Indonesia.

Dia pun mengenang kembali peran Bung Karno dalam lahirnya Pancasila. Menurut dia, pada 1 Juni 1945, dalam sidang BPUPKI, Bung Karno berpidato tentang dasar negara yang dia usulkan. Yakni, Pancasila.

Kemudian, pada 22 Juni 1945, Bung Karno memimpin Tim 9 yang mengolah usul tersebut menjadi mukadimah yang dikenal sebagai Piagam Jakarta. ”Setelah melakukan perbaikan dengan kesepakatan, baru pada 18 Agustus 1945 disepakati mukadimah menjadi Pembukaan UUD 1945 yang memuat lima sila dasar negara,” beber dia.

Baca Juga:  PLN Siapkan Infrastruktur dan Stimulus, Perkuat Ekosistem Mobil Listrik

Mahfud pun menegaskan kembali peran besar Bung Karno di balik lahirnya Pancasila. Pada 18 Agustus 1945, lanjut dia, Bung Karno memimpin sidang pengesahan pembukaan UUD yang memuat Pancasila dan batang tubuh UUD. Sila pertama diperbaiki lagi menjadi Ketuhanan yang Maha Esa.

”Jadi, semuanya ada peran besar Bung Karno. Jangan dipertentangkan seakan-akan Bung Karno anti-Piagam Jakarta karena Piagam Jakarta yang membuat Bung Karno,” ujar Mahfud.

Lebih lanjut, Mahfud menekankan bahwa Pancasila adalah bukti kesepakatan luhur yang menjadikan Indonesia sebagai negara dengan kesepakatan dalam perjanjian kolektif. ”Dengan Pancasila, kita bersatu dalam titik temu, bersatu dalam keberagaman,” tegas mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu.

Konser Virtual Untuk Pancasilais

Kampus Santa Ursula BSD menyambut Hari Lahir Pancasila dengan cara berbeda. Mereka menggelar konser virtual bertajuk Menuai Benih Pancasilais. Bagi mereka, memupuk benih Pancasila dapat dilakukan sejak usia dini.

Pada jenjang taman bermain dan taman kanak-kanak (TB-TK), bisa dilakukan upaya merawat Pancasila di dalam dunia mereka yang masih sangat belia. Kemudian, berlanjut di jenjang SD, muncul rasa syukur atas ragam suku, agama, dan kepercayaan yang begitu kuat.

Lalu, di jenjang SMP, peserta didik mulai menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan dan pemahaman nilai Pancasila tecermin dalam dialog keseharian mereka.

Jenjang SMA menjadi pendidikan menengah yang terakhir. Selain menerapkan nilai-nilai Pancasila, siswa di jenjang itu bisa mengaitkannya dengan 10 nilai yang diutamakan Sekolah Santa Ursula BSD.

Jenjang SMA adalah tahapan terakhir kesiapan benih-benih untuk dituai menjadi masyarakat yang Pancasilais. Salah satu lagu yang dibawakan dalam konser virtual itu adalah Garuda Pancasila yang ditulis Sudharnoto.

Ada juga lagu Syukur karya Husein Mutahar. Konser virtual tersebut digagas Sr Francesco Marianti OSU, koordinator Yayasan Santa Ursula BSD. Dia mengatakan, Pancasila adalah bagian penting dalam kehidupan bangsa Indonesia.

Bagi dia, merayakan Hari Lahir Pancasila adalah cara menjaga kehadirannya dalam diri. ”Dan menjadikannya landasan bersikap dalam hidup kita,” tuturnya.

Francesco Marianti mengatakan, sekolah sebagai lembaga pendidikan menjadi tempat yang tepat untuk menyemai nilai-nilai Pancasila. Kemudian memupuknya. Dengan demikian, buahnya kelak dapat dituai dengan baik.

Kegiatan konser virtual Menuai Benih Pancasilais mencerminkan upaya mempersiapkan benih-benih penerus bangsa yang berkompetensi dan berjiwa Pancasilais sejak usia dini. Guru ilmu sosial SMA Santa Ursula BSD Ignatius Bayu Sudibyo menyatakan, rintisan pemikiran Pancasila dimulai pada 1926 oleh Soekarno.

Waktu itu sang proklamator menuliskan nasionalisme yang bermakna bersatu. Kemudian islamisme bermakna ketuhanan. Lalu marxisme yang disederhanakan sebagai keadilan sosial.

Dia juga menyampaikan pentingnya Ende dalam sejarah lahirnya Pancasila oleh Soekarno. ”Merenung di bawah pohon sukun, Soekarno larut dalam kesadaran religius,” katanya. Waktu itu Bung Karno terbawa kesadaran terhadap agama dan nilai-nilai kemanusiaan. Sejalan dengan karakteristik masyarakat Ende yang multikultural.

Grebeg Pancasila di Blitar

Rangkaian peringatan Hari Lahir Pancasila juga berlangsung meriah di Kota Blitar, tempat pemakaman Bung Karno. Puncaknya, kemarin (1/6) digelar Kirab Gunungan Lima berupa hasil bumi. Kirab tersebut dimulai dari Alun-Alun Kota Blitar menuju Makam Bung Karno.

Dilanjutkan dengan kenduri Pancasila di Perpustakaan Proklamator Bung Karno. Sejumlah pejabat dan anggota forkopimda turut hadir. ”Alhamdulillah, berkat rahmat dan berkah Allah SWT, rangkaian kegiatan Grebeg Pancasila berjalan sukses. Antusiasme masyarakat begitu tinggi untuk menyaksikan kirab,” ungkap Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Blitar Edy Wasono kepada Jawa Pos Radar Blitar kemarin.

Edy menjelaskan, Grebeg Pancasila merupakan salah satu tradisi warga Kota Blitar dalam memperingati Hari Lahir Pancasila. Diawali dengan ritual Bedhol Pusaka yang meliputi teks proklamasi, teks Pancasila, bendera merah putih, dan lukisan Bung Karno.

”Sudah dua tahun kegiatan Grebeg Pancasila kami tiadakan. Tahun ini kembali digelar dan animonya luar biasa,” terangnya.

Disparbud juga bakal menggelar Brokohan Hari Lahir Bung Karno pada 6 Juni mendatang. Malamnya ada pentas seni wayang kulit. Kemudian, pada 21 Juni ada ziarah ke Makam Bung Karno untuk memperingati haul Bung Karno.

Disparbud berharap seluruh rangkaian kegiatan di Bulan Bung Karno berjalan lancar. ”Harapannya, pertumbuhan ekonomi masyarakat membaik dan bisa meningkat,” tegasnya. (lyn/syn/mia/c19/oni/wan/sub/ady/c18/jpg)