Kasus Positif Meningkat 40 Kali Lipat, BOR Nasional 13,89 Persen

5
Tenaga kesehatan melakukan tes usap PCR di Jakarta, Rabu (2/2/2022). Meningkatnya angka kenaikan COVID-19 membuat sejumlah warga melakukan tes usap untuk mengantisipasi adanya penularan dan penyebaran COVID-19. HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA POS

Satgas Covid-19 melaporkan bahwa kasus positif mingguan bertambah 40 kali lipat dibandingkan dengan awal Januari. Dalam perhitungan harian, pertumbuhan kasus positif mencapai 58 kali lipat.

Selain itu positivity rate kini berada diatas standar WHO yakni 6 persen. Diiringi dengan kematian harian yang meningkat 14 kali lipat. ”Saat ini kasus positif makin meningkat cukup tajam. Dalam waktu singkat kasus meningkat cukup besar dan berkali kali lipat,” kata Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito kemarin (2/2)

Peningkatan kasus positif pada minggu ini kata Wiku adalah yang tertinggi dari minggu-minggu sebelumnya. Kasus mingguan pada awal Januari meningkat perlahan dari 1.400 kasus menjadi 3.000 kasus, kemudian meningkat menjadi 5.400 kasus kemudian meningkat menjadi 14 ribu kasus kemudina pada minggu ini mengalami lonjakan hingga 56.000 kasus atau 40 kali lipat dibanding awal Januari.

Kemudian lanjut Wiku jika dilihat dari kasus positif harian per tanggal 1 Februari lalu, kasus harian terlah mencapai 16 ribu kasus. Lebih tinggi dari penambahan kasus harian pada gelombang pertama di bulan desember 2020 lalu.

”Hal ini menjadikan positivity rate harian dari pemeriksaan antigen dan PCR telah mencapai 6. Telah di atas standar WHO. Sebelumnya pos rate konsisten di angka 0-2,” kata Wiku.

Meski demikian, Wiku mengatakan, peningkatan kasus positif harian yang tinggi tidak diikuti oleh peningkatan kematian yang sama tingginya. Meskipun kematian meningkat hampir 14 kali lipat dibandingkan 1 Januari lalu, namun jumlahnya jauh lebih sedikit daripada gelombang pertama di akhir 2020 lalu.

Kemudian, pasien yang positif memiliki kemungkinan yang tinggi untuk sembuh. Meskipun tetap menjadi ancaman bagi kelompok rentan atau pasien dengan komorbid. Di sisi lain, kenaikan keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) juga mulai terlihat.

Rata-rata BOR nasional kini berada pada 13,89 persen. DKI Jakarta menjadi penyumbang tertinggi dengan BOR 52 persen, banten 22 persen, serta Jawa Barat 16 persen. ”30 provinsi di Indonesia masih mempertahankan BOR di bawah 10 persen,” kata Wiku.

Untuk mengantisipasi lonjakan pasien positif yang membutuhkan perawatan rumah sakit, pemerintah kini meningkatkan jumlah tempat tidur hingga saat ini mencapai total 10.996 tempat tidur di ruang isolasi dan ICU rujukan.

Buka Jalur Internasional

Meskipun dalam situasi kenaikan kasus, pemerintah dipastikan akan mulai membuka Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali untuk menerima penerbangan internasional mulai besok (4/2). Pemerintah beralasan untuk kembali menggencarkan ekonomi Bali yang sudah cukup terdampak akibat pandemi.

Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengungkapkan, pemerintah tetap akan melakukan pembukan secara bertahap bertingkat dan berlanjut. Pembukaan pintu masuk Bali hanya diperuntukkan bagi PPLN non-PMI. Selain peraturan karantina akan tetap mengikuti edaran Surat Edaran yang berlaku.

Menurut Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman, pembukaan ini sah sah saja. Karena dari sisi regulasi maupun science bahwa menutup diri dengan melakukan travel ban itu tidak pernah efektif. ”Yang ada adalah memperkuat skriningnya maupun masa karantinanya,” jelas Dicky.

Harus dipastikan skrining berjalan ketat. Orang yang datang tidak hanya ditanya status vaksinasi. Harus dipastikan pula orang tersebut masih dalam durasi proteksi dari vaksinasi. Dari dosis kedua tidak lebih dari 6 bulan.

”Kalau sudah lebih, ya harus booster. Kalau mau diketatkan lagi harus masih 5 bulan. Ini namanya penguatan skrining,” kata Dicky.

Sementara keputusan pemerintah untuk mengurangi masa karantina menjadi 5 hari kata Dicky sebenarnya juga tidak ideal dan berisiko. ”Tapi itu tadi kalau skriningnya kuat bisa meminimalisir risiko,” katanya.

Baca Juga:  Darizal Basir Sesalkan Penolakan Pemerintah Singapura terhadap UAS

Kementerian Kesehatan percaya diri bahwa pembukaan Bandara I Gusti Ngurah Rai untu PPLN non PMI tidak akan memperbanyak faktor risiko imported casse Covid-19. Hal itu dikatakan oleh Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Maxi Rein Rondonuwu kemarin (2/2) saat dihubungi Jawa Pos (grup Padang Ekspres).

Alasannya karena persyaratan PPLN yang masuk ke Indonesia harus sudah tes PCR dari negara asal dan sudah vaksin lengkap. ”Begitu tiba dilakukan test PCR dan karantina,” katanya.

Selain itu, dia menyebutkan bahwa alur di semua pintu masuk negara sudah siap dalam menyambut PPLN. Misalnya, tempat pemeriksaan dokumen kesehatan, tes, hingga karantina.

Terkait karantina, Maxi tak ingin main-main. Ini sesuai perintah Presiden Joko Widodo yang meminta agar ada atensi pada karantina PPLN. ”Yang pasti kalau ada staf Kemenkes KKP (Kantor Kesehatan Pelabuhan, red) yang main-main dgn urusan karantina PPLN, diberikan sanksi berat sampai pada pemecatan,” ungkapnya.

Pada kesempatan lain, Juru Bicara Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi menyatakan pembukaan Bandara I Gusti Ngurah Rai untuk penerbangan internasional tidak terlalu dikhawatirkan.

Selain harus dilakukan tes PCR sebanyak tiga kali untuk PPLN, masyarakat Bali sudah mendapatkan vaksinasi booster. Ini dianggap bisa menjadi tameng. ”Selama kita jalankan prosedur karantina atau pun mekanisme buble sudah cukup,” katanya saat dihubungi Jawa Pos kemarin.

Dia juga mengimbau agar tidak ada pihak yang memanfaatkan karantina PPLN sebagai ajang penipuan. Sebab aturan karantina sudah ditentukan oleh peraturan. Dia pun mempersilakan penegak hukum untuk bertindak jika ada pelanggaran penyelenggaraan karantina.

Jamaah Umrah

Dibukanya bandara Bali untuk PPLN turut direspon travel penyelenggara umrah. Mereka berharap bandara lainnya juga dibuka, supaya pemberangkatan umrah tidak menumpuk di bandara Soekarno-Hatta Tangerang. Permintaan tersebut diantaranya disampaikan Kabid Umrah Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) Zaky Zakaria Anshary.

”Saat evaluasi bersama Kemenag dua hari lalu, semua asosiasi travel umrah mengusulkan dibukanya bandara lain untuk pemberangkatan dan kepulangan jamaah umrah,” katanya kemarin. Di antara yang diusulkan adalah bandara Juanda di Sidoarjo, serta badnara di Medan dan Makassar.

Dia menegaskan, usulan tersebut mereka sampaikan untuk mengurangi penumpukan pemberangkatan maupun kepulangan jamaah umrah. Saat ini rata-rata pemberangkatan umrah setiap harinya da 500 orang. Jumlah ini setara dengan seperempat PPLN yang masuk ke Indonesia yaitu rata-rata 2.000 orang setiap harinya.

Selain itu, Zaky menyambut baik semakin pendeknya masa karantina PPLN dari tujuh hari menjadi lima hari. Dia berharap kebijakan ini membuat minat jamaah untuk berumrah semakin naik. Meskipun dia mengakui umumnya masyarakat tidak melulu melihat durasi karantina. Ketika karantina masih 14 hari, juga banyak masyarakat yang berangkat umrah.

Kementerian Agama (Kemenag) merespons permintaan travel supaya bandara lain dibuka untuk perjalanan umrah langsung ke Saudi. Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag Hilman Latief mengatakan penggunaan bandar selain Soekarno-Hatta untuk pemberangkatan dan pemulangan jamaah umrah adalah kewenangan Satgas Covid-19.

Sebab pembukaan akses kedatangan PPLN terkait dengan kesiapan fasilitas bandara serta layanan karantinanya. ”Kementerian Agama akan bersurat ke BNPB untuk mengusulkan pembukaan bandara di kota lainnya sebagai tempat pemberangkatan dan pemulangan jamaah umrah,” tuturnya.

Pertimbangannya adalah untuk mencegah penumpukan atau overload di bandara Soekarno-Hatta. Hilman mengatakan saat ini jumlah jamaah umrah yang berangkat sudah mencapai 8.000 lebih. (jpg)