Kerumunan sebelum Lebaran Harus Diantisipasi

15
Pasar Tanah Abang, Jakarta, mulai dipadati warga untuk berbelanja berbagai kebutuhan menjelang lebaran, kemarin (2/5). (jpg)

Pemerintah telah melarang adanya kerumunan dan mudik. Namun, nampaknya tak dihiraukan. Presiden Joko Widodo mengimbau agar seluruh pihak tak menganggap remeh kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia yang melandai.

Menjelang Hari Raya Idul Fitri, warga mulai mempersiapkan segala kebutuhannya. Kondisi itu membuat beberapa pusat perbelanjaan di ibu kota ramai. Salah satunya, Pasar Tanah Abang.

Pasar yang dikenal sebagai pusat tekstil grosir terbesar di Asia Tenggara itu dikunjungi oleh banyak orang meski pandemi. Bahkan, saking ramainya, protokol kesehatan di sana tidak berjalan.

Atas kondisi tersebut, Pemprov DKI melakukan koordinasi dengan Perumda Pasar Jaya. Tujuannya, agar setiap pengelola pasar lebih mengetatkan pengawasan protokol kesehatan. Dengan begitu, pasar tidak menjadi lokasi transmisi Covid-19.

Sekprov DKI Marullah Matali menuturkan, dirinya telah meminta BP BUMD DKI Jakarta untuk menginstruksikan Perumda Pasar Jaya untuk mengawasi protokol kesehatan. Sebab, meskipun kegiatan pasar dibuka agar roda perekonomian berjalan, protokol kesehatan tetap harus dipatuhi.

”Segala potensi terjadinya lonjakan kasus akan terus kami antisipasi. Termasuk kegiatan di setiap pasar menjelang Lebaran Idul Fitri. Mulai hari ini hingga seterusnya, kami akan menempatkan Satgas Covid-19 untuk mengatur pengunjung dan menertibkan pelanggar protokol kesehatan. Intinya, setiap pengunjung dilarang memasuki area pasar jika tidak mengenakan masker,” kata Marullah.

Kemarin, Presiden Joko Widodo mengingatkan masih berbahayanya Covid-19. Dia meminta agar seluruh pihak tak menyepelekan Covid-19. ”Yang sudah divaksin atau belum, yang berasal dari zona merah, oranye, kuning atau hijau, harus tetap disiplin protokol kesehatan,” ujarnya.

Kasus Covid-19 di Indonesia memang sudah melandai. Jokowi menyatakan itu dampak PPKM mikro dan vaksinasi Covid-19. Terlihat, jumlah kasus aktif berkisar 100 ribu. ”Tapi jangan dulu optimisime berlebihan jangan merasa situasi terkendali jangan merasa sudah aman,” ucapnya.

Untuk semakin menekan kasus aktif, penerintah mengaku tak bisa bekerja sendiri. Ini tergantung dengan kedisiplinan seluruh pihak. ”Saya minta gubernur, bupati, dan wali kota untuk mengingatkan warganya mematuhi protokol kesehatan dan melarang warganya mudik pada lebaran kali ini,” ucapnya.

Salah satu antisipasi utama untuk mencegah terjadinya lonjakan kasus dan termasuk juga mengatasi penularan varian baru adalah dengan pembatasan mobilitas. ”Kita melihat bahwa mobilitas yang tinggi akan menyebabkan lonjakan kasus sementara mobilitas yang rendah itu akan menekan laju penularan,” kata Juru Bicara Kemenkes terkait Covid-19 Siti Nadia Tarmizi.

Seharusnya dengan peningkatan kasus yang terjadi di berbagai negara menjadi kewaspadaan bersama. Kasus di India sudah hampir mencapai angka 18 juta kasus dengan 200 ribu sampai 300 ribu konfirmasi kasus positif. Di Jepang sudah mencapai 1000 kasus infeksi barunya. Ada juga Singapura yang terdapat 16 kasus komunitas. ”Perlu kembali kami tekankan bahwa negara-negara ini sudah melakukan kewaspadaan,” ujarnya.

Baca Juga:  Andre Rosiade Tolak Kerja Sama Freeport dengan Smelter China

Daerah sudah menyiapkan posko Covid-19. Selain itu, Babinkamtibmas juga diimbau membantu menegakkan protokol kesehatan. Meski demikian, Nadia menyatakan masih perlu peran masyarakat agar melakukan protokol kesehatan.

Vaksinasi juga perlu digenjot. Terutama bagi lansia. Mereka rawan karena kondisinya. Selain itu, berpotensi tertular dari mereka yang mudik. ”Kami kerjasama dengan swasta, datang ke panti-panti hingga meminta pemerintah desa untuk membuat jadwal vaksin,” ucapnya. Perlu juga langkah kooperatif untuk keluarga lansia agar mendorong vaksinasi.

Di tengah program vaksinasi Covid-19, banyak yang mempertanyakan efektifitasnya. Seperti diketahui vaksin tersebut tujuannya adalah untuk merangsang pembentukan antibodi atau imunitas dalam tubuh. Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza mengumumkan inovasi alat kesehatan untuk melakukan deteksi antibodi kuantitatif. Selain itu juga ada inovasi Rapid Diagnostic Test (RDT) antigen.

”Inovasi deteksi antibodi kuantitatif memiliki fungsi untuk mengukur kadar antibodi yang terbentuk setelah seseorang menjalani vaksinasi Covid-19,” katanya. Menurut dia inovasi teknologi deteksi antibodi itu sangat penting. Supaya bisa mengetahui apakah seseorang memiliki ”bala tentara” dalam badannya yang cukup untuk menangkal infeksi Covid-19.

Hammam menjelaskan di tengah pandemi Covid-19 yang belum selesai di Indonesia, vaksinasi menjadi kebutuhan masyarakat. Sayangnya selama ini masyarakat belum bisa mengetahui apakah antibodinya sudah terbentuk setelah divaksin. Jangan sampai orang yang sudah divaksin merasa kebal terhadap Covid-19 dan melupakan kewajiban menjalankan protokol kesehatan.

”Padahal, kita belum tahu apakah antibodi sudah terbentuk apa belum di tubuh kita,” jelasnya. Untuk itu Hammam mengatakan inovasi deteksi antibodi itu cukup penting. Hammam mengatakan, cara kerja untuk mengukur pembentukan antibodi tersebut tidak butuh lama.

Dia menjelaskan, BPPT akan terus melanjutkan kegiatan inovasi untuk penanganan Covid-19. ”Kami berfokus pada pelacakan, pengujian, dan pengobatan,” katanya. Dengan adanya adanya test kit deteksi antibodi kuantitatif itu, Hammam berharap program vaksinasi bisa berjalan lancar. Test kit juga diharapkan melihat kemampuan herd immunity sejak dini kepada masyarakat, usai pemberian vaksin.

”Kami akan segera luncurkan test kit antibodi ini,” jelasnya. Selain itu juga mendorong kesuksesan program vaksinasi. Dengan program vaksinasi yang massif dan terukur, maka diharapkan akan segera terbentuk kekebalan kelompok atau herd immunity. Dia juga mengatakan herd imunity pun harus dimonitor dari waktu ke waktu. (lyn/wan/rya/jpg)

Previous articleIPEMI Sumbar Buka Puasa Bersama Santuni Anak Yatim Piatu
Next articleMutasi Virus Korona India Masuk ke 17 Negara