Dalam Komunikasi Covid-19, Gunakan Kalimat yang Mudah Dipahami

Aqua Dwipayana saat menyampaikan materi dalam diskusi virtual di RSUP Sanglah, Bali. (IST)

Sebuah rumah sakit akan berhasil menangani virus Covid-19 atau korona bila semua elemen yang ada di rumah sakit itu ikut terlibat. Kemudian mereka mampu mengembangkan kepercayaan, karena kepercayaan atau trust itu sangat penting.

Bicara Covid-19 adalah berbicara tentang kemanusiaan. Bagaimana seorang individu mampu mengoptimalkan kekuatan yang dimiliki dan mampu mensinergikannya dengan kebutuhan yang ada. Kemudian menekan ego masing-masing dan melihatnya secara universal sehingga tujuan bersama dapat tercapai.

Demikian disampaikan Pakar Komunikasi Dr Aqua Dwipayana saat menjadi pembicara dalam diskusi virtual dengan tema “Memperkuat Energi dan Sinergi dalam Penanganan Covid-19” di RSUP Sanglah, Bali, Senin (03/08/2020) pagi.

Dalam diskusi yang dimoderatori Dirut RSUP Sanglah dr I Wayan Sudana, Aqua menjelaskan, dalam melaksanakan tugas perlu mengedepankan prinsil 3K.

Pertama, berusaha untuk menjadi manusia yang kredibel yakni manusia yang dapat dipercaya. “Kita dapat dipercaya jika kita mengutamakan integritas, ” sebut motivator nasional itu.
Kemudian, lanjut Aqua, adalah komitmen. Dan terakhir, konsisten. “Banyak orang di muka bumi ini tidak konsisten karena faktor ketakutan yang tidak beralasan. Karena itu kita hidup harus punya keyakinan, ” ujar Aqua.

Sebagai manusia, kata Aqua, bagaimana kita bisa bermanfaat bagi sesama. Bagaimana kita bisa membangkitkan, menggerakkan, mendorong dan memotivasi orang lain. “Sama juga dengan kita yang bertugas di rumah sakit, bagaimana kita menerima dan menunjukkan empati kepada pasien. Dan satu hal yang paling mendasar, bantuan yang diberikan tidak harus berupa materi. Lakukan hal yang sederhana, tapi harus dari dorongan hati sehingga kita mampu berempati, ” tuturnya.

Aqua juga menjelaskan pentingnya koordinasi di dalam penanganan Covid-19. Karena katanya, banyak persoalan yang terjadi karena kurangnya koordinasi. Karena itu menurutnya, perlu menjaga dan memelihara silaturahim.

Aqua menyebut, penanganan Covid-19 dapat dilakukan dengan pendekatan 5S 1T yakni Strategi, Struktur, Sistem, Skill, Speed dan Target. Untuk mencapai target, katanya, semua pihak harus mampu berkolaborasi. Tidak bisa hanya mengandalkan satu orang, tapi semua orang harus memberikan dukungan penuh.

Pasalnya, bicara Covid-19, kita tidak hanya bicara soal penanganan secara medis saja, tapi juga memerlukan penangan secara non medis yakni psikologis, sehingga diharapkan dengan ini dapat mempercepat kesembuhan pasien.

“Kalau kita bicara Covid, medisnya hanya 20 persen, psikologisnya 80 persen. Bagaimana pendekatan-pendekatannya dilakukan secara psikologis,” ucapnya.

Aqua juga memaparkan tentang pola 3K dalam menangani Covid-19. Pertama, semua pemimpin di segala level mutlak harus menjadi teladan (keteladanan). Pemimpin yang maju lebih senang diberi saran, kritikan dibanding pujian.

Kedua, kedisiplinan masyarakat. “Ini terus terang saja masih perlu ekstra keras untuk mewujudkannya, ” imbuhnya.

Lalu keluwesan aparat. Bagaimana pendekatan yang dilakukan secara humanis.

Pahami Cara Berkomunikasi
Aqua menambahkan ketika berkomunikasi haruslah didengar atau dipahami dengan baik. Caranya dengan menggunakan kalimat dan bahasa yang sederhana. “Kita harus menghormati orang lain. Bagaimana kita berempati, merasakan apa yang dirasakan orang lain. Rendah hati dan tidak sombong,” ujarnya.

Baca Juga:  Pemulihan Ekonomi Warga Terdampak Pandemi jadi Fokus Utama Mulyadi

Aqua mengajak untuk menjadi seseorang yang komunikatif menghadapi Covid-19. Caranya yakni mengenali dengan siapa berbicara, tahu bagaimana cara menyampaikan pesan yang mudah dipahami, tidak memiliki pemikiran cepat minder, ramah, murah senyum dan bijaksana, kemampuan berbicara jelas dan to the point, serta selalu berusaha memperbanyak wawasan.

Kemudian Aqua menyebut, bagaimana kita bekerja dengan 4as. Pertama kerja dengan ikhlas. Orang yang bekerja ikhlas biasanya hasilnya optimal.

Kedua, cerdas, bagaimana menjadi manusia yang multitasking, dalam waktu bersamaan bisa melakukan beberapa pekerjaan. Lalu, kerja keras dan harus kerja tuntas.

“Kalau semua itu bisa kita lakukan dengan baik, kita akan mendapatkan hasilnya yakni kerja yang berkualitas,” pungkasnya.

Pembicara lainnya, Savero K. Dwipayana, yang juga Relawan Satgas Covid-19 Nasional mengatakan, sosialisasi sudah dilakukan secara maksimal oleh satgas Covid-19, tapi jika dilihat faktanya masih saja terjadi penambahan jumlah kasus positif di seluruh Indonesia.

Untuk Bali, kata Savero, menunjukkan tren positif. Dimana sejak tanggal 23 Juli sampai 2 Agustus, angka kesembuhan pasien korona selalu lebih tinggi dari penambahan kasus positif. Ditambah lagi, kasus kematiannya beberapa minggu terakhir adalah 0. “Dan itu perlu diapresiasi, ” ujar putra Aqua ini.

Ia mengapresiasi keberhasilan penanganan korona yang telah dilakukan Pemerintah Provinsi Bali dan dinas kesehatan setempat. Savero juga memuji keterbukaan informasi soal Covid-19 yang dilakukan oleh Pemprov Bali.

“Penyampaian informasi pun Pemprov Bali sangat detail dan update, ” ucapnya.

Terkait Covid-19, Savero mengajak semua pihak menjaga gaya hidup dan lingkungan agar tak terpapar virus korona. Hal ini harus dimulai dari diri sendiri.

Semua pihak katanya, harus mengambil peran untuk mengedukasi masyarakat, karena sosialisasi yang dilakukan satgas tidak cukup, perlu dukungan dari semua pihak di daerah.

Ia menyebutkan soal promosi kesehatan dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari media sosial, keluarga, grup WA, RT dan RW dan tetangga. Peran tenaga kesehatan ini katanya, sangat besar sekali untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat menjaga kesehatan dan melakukan semua protokol kesehatan agar terhindar dari Covid-19.

Sebab katanya, apa yang dilakukan langsung oleh masyarakat memberikan edukasi dan pesan-pesan kesehatan, akan lebih terasa bermanfaat dan langsung menyasar tujuannya ketimbang promosi kesehatan yang telah dilakukan pemerintah selama ini. Karena pesan yang disampaikan masyarakat itu mampu menjangkau elemen masyarakat secara luas.

“Untuk penanganan Covid itu perlu kolaborasi semua pihak, tidak hanya tenaga medis tapi seluruh elemen masyarakat,” pungkasnya. (bis)