Omicron Kian Mengkhawatirkan: Jumlah Kasus Naik, Pemerintah Keluarkan SE

34
Ilustrasi varian omicron.(NET)

Jumlah penderita Covid-19 di Indonesia terus bertambah. Karena penularan yang cepat dan dikhawatirkan akan berdampak pada pelayanan kesehatan, Kementerian Kesehatan mengeluarkan surat edaran pencegahan dan pengendalian kasus Covid-19 varian Omicron.

SE dengan Nomor HK.02.01/MENKES/1391/2021 ini sudah diteken Menkes Budi Gunadi Sadikin pada 30 Desember lalu dan diedarkan ke pemerintah daerah.

”Poin utama dari aturan ini untuk memperkuat koordinasi pusat dan daerah, serta fasyankes dalam menghadapi ancaman penularan Omicron,” kata Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi.

Penularan Omicron tak hanya imported case atau kasus impor, tapi sudah ada transmisi lokal. Sehingga, setiap daerah diminta siap merespons kejadian ini.

Dalam SE tersebut, pembahasannya seputar bagaimana penanganan kasus Omicron. Misalnya ketika ditemukan kasus probable dan konfirmasi baik yang bergejala maupun tidak, harus diisolasi di rumah sakit yang menyelenggarakan pelayanan Covid-19.

Tracing pun harus diperkuat. Sehingga setiap kasus probable dan konfirmasi varian Omicron yang ditemukan harus segera dilakukan pelacakan kontak dalam waktu 1×24 jam untuk penemuan kontak erat.

Setelah ditemukan, wajib segera dilakukan karantina selama 10 hari di fasilitas karantina terpusat. Di sini pun dilakukan pemeriksaan entry dan exit test menggunakan pemeriksaan Nucleic Acid Amplification Test (NAAT).

Jika hasil pemeriksaan NAAT positif, maka harus dilanjutkan pemeriksaan SGTF di laboratorium yang mampu pemeriksaan SGTF dan secara paralel spesimen dikirim ke laboratorium Whole Genome Sequencing (WGS) terdekat.

Seperti diketahui bahwa sekarang Indonesia memiliki 14 alat WGS. Kemenkes berencana menambah 15 alat lagi dan disebarkan ke luar Jawa. Dalam SE tersebut juga ditentukan kriteria selesai isolasi dan sembuh pada kasus probable dan konfirmasi Omicron.

Pada kasus yang tidak bergejala isolasi dilakukan selama sekurang-kurangnya 10 hari sejak pengambilan spesimen. Selain itu, harus menunjukkan hasil pemeriksaan NAAT negatif selama dua kali berturut-turut dengan selang waktu lebih dari 24 jam.

Sementara pada kasus yang bergejala isolasi dilakukan selama 10 hari sejak muncul gejala. Selain itu, ditambah dengan sekurang-kurangnya tiga hari bebas gejala demam dan gangguan pernapasan, serta hasil pemeriksaan NAAT negatif selama dua kali berturut-turut.

Omicron memiliki tingkat penularan yang jauh lebih cepat dibandingkan varian Delta. Sejak ditemukan pertama kali pada 24 November 2021 di Afrika Selatan, kini Omicron telah terdeteksi di lebih dari 110 negara.

Di level nasional, pergerakan Omicron juga terus meningkat sejak pertama kali dikonfirmasi pada 16 Desember 2021. Kemenkes mencatat terdapat 92 kasus konfirmasi Omicron baru pada 4 Januari lalu sehingga total kasus menjadi 254 kasus. 239 kasus dari pelaku perjalanan internasional dan 15 kasus transmisi lokal.

Nadia mengungkapkan, penambahan kasus konfirmasi Omicron di Indonesia masih didominasi oleh Warga Negara Indonesia (WNI) yang baru kembali dari perjalanan luar negeri. ”Dari hasil pemantauan, sebagian besar kondisinya ringan dan tanpa gejala,” ujarnya.

Selain itu, Nadia juga memberikan penjelasan terkait rencana pemberian vaksin booster atau vaksin ketiga. Pemerintah akan memulai vaksinasi booster pada 12 Januari nanti. Khusus untuk vaksinasi non-program pemerintah atau mandiri diberlakukan pembayaran.

Hingga kini pemerintah belum menetapkan besaran tarif dari vaksinasi booster tersebut.
Nadia mengatakan, pemerintah dalam proses penetapan harga harus melibatkan berbagai pihak seperti Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP). ”Belum ada biaya resmi yang telah ditetapkan oleh pemerintah,” katanya.

Baca Juga:  Darizal Basir Sesalkan Penolakan Pemerintah Singapura terhadap UAS

Sementara jenis dan dosis vaksin yang akan diberikan masih menunggu konfirmasi dan rekomendasi dari ITAGI dan studi riset booster yang sedang berjalan serta sesuai dengan persetujuan izin edar atau Emergency Use Authorization (EUA) dari BPOM.

Pemberian vaksinasi booster tersebut diprioritaskan bagi tenaga kesehatan, lansia, peserta PBI, dan kelompok komorbid dengan immunocompromised.

Pasien Wisma Atlet Bertambah

Munculnya varian Omicron sedikitnya banyak berpengaruh terhadap angka pasien Covid-19 di Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet. Berdasar data yang dihimpun kemarin, total jumlah pasien di rumah sakit tersebut sudah menembus angka 1.206 orang.

Angka tersebut jauh lebih besar jika dibandingkan dengan jumlah pasien sebelum pemerintah mengumumkan varian Omicron telah masuk ke Indonesia.

Kepala Penerangan (Kapen) Kogabwilhan I Kolonel Mar Aris Mudian menyatakan, pasien Covid-19 di RSDC Wisma Atlet saat ini terdiri 570 pasien laki-laki dan 636 pasien perempuan. ”Bertambah 168 orang,” imbuhnya.

Dari angka tersebut, 136 di antaranya pasien Covid-19 dengan varian Omicron. Secara keseluruhan, sampai kemarin sudah 177 pasien Covid-19 dengan varian Omicron yang dirawat di RSDC Wisma Atlet. Sebagian besar terinfeksi virus itu setelah bepergian ke luar negeri.

Sementara itu, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko menyampaikan perkembangan riset Vaksin Merah Putih untuk Covid-19. Dia mengatakan dari tujuh tim yang menggarap riset vaksin Merah Putih, paling maju ada di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Handoko mengatakan yang mengerjakan vaksin Merah Putih ada tujuh tim. Di antaranya LIPI, Lembaga Eijkman dan lainnya. ”Tim yang (lebih, red) maju dari Unair,” katanya dalam temu pemimpin redaksi di Jakarta, Selasa malam (4/1).

Mantan kepala LIPI itu mengatakan, penelitian vaksin Merah Putih di Unair sudah selesai menjalani uji praklinis. Saat ini sudah masuk ke uji klinis. Sementara itu di Lembaga Eijkman belum masuk tahap uji praklinis.

Dia lantas menyatakan kegiatan atau fase uji klinis vaksin Merah Putih Unair diharapkan selesai semester pertama 2022 ini. ”Kalau tidak ada hambatan, dan lolos (uji) terus, bayangan saya sebelum akhir 2022 sudah ada izin edarnya,” kata Handoko.

Tetapi dia mengingatkan dalam setiap tahapan penelitian, selalu ada potensi atau risiko gagal. Termasuk dalam pelaksanaan uji klinis. Dia mengatakan kalau pun Indonesia gagal memiliki vaksin Merah Putih, bukan sesuatu yang memalukan.

Dia mengatakan, banyak negara besar dan dengan budaya penelitian kuat tidak memiliki vaksin Covid-19 sampai saat ini. Dia mencontohkan Jepang dan Jerman tidak punya vaksin Covid-19. Kemudian riset vaksin di Perancis juga tidak berhasil.

Handoko menuturkan dengan integrasi atau penggabungan sejumlah lembaga riset ke BRIN, memiliki dampak terhadap riset-riset. Termasuk dalam riset vaksin Merah Putih tersebut.

Dia mencontohkan masuknya Lembaga Eijkman ke BRIN, bisa membuat riset vaksin yang dilakukan lembaga itu semakin kuat. Sebab, bisa menggunakan fasilitas penelitian yang ada di BRIN. (jpg)

Riset vaksin oleh Lembaga Eijkman bisa diperkuat dengan riset vaksin yang dilakukan LIPI. Sebab, kedua lembaga penelitian ini sama-sama bergabung ke dalam BRIN.

Apalagi dalam waktu dekat Balitbangkes di bawah Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga bergabung ke BRIN. ”Maka ini akan semakin memperkuat pengembangan vaksin Covid-19,” tuturnya. (lyn/syn/wan/lum/jpg)