Demand Oksigen Melonjak Tiga Kali Lipat, Prioritasi Medis dan RS

16
PERMINTAAN TINGGI: Warga antre mengisi tabung oksigen di Depo Oxygen Medical di Kawasan Manggarai, Setiabudi, Jakarta Selatan, Selasa (29/6). (DERY RIDWANSAH/JAWAPOS.COM)

Direktor Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Fridy Juwono menuturkan, saat ini kebutuhan oksigen memang sangat tinggi. Hal itu, menurut dia, di luar prediksi. Karena itu, kecepatan demand (permintaan) tidak terantisipasi. Terjadi keterlambatan dalam distribusi pasokan tabung oksigen ke rumah sakit.

Dia menyatakan, produsen sudah melayani pengisian dan pendistribusian selama 24 jam. Produksi beroperasi 100 persen. “Stok yang ada di pabrik akan terus dikeluarkan sampai titik terendah untuk mengatasi lonjakan demand tiga kali lipat dari kondisi normal,” ungkap Fridy kepada Jawa Pos (grup Padang Ekspres) tadi malam.

Dia memastikan, kebutuhan oksigen untuk rumah sakit akan terpenuhi. Pihaknya sudah menambahkan rasio kebutuhan oksigen untuk keperluan medis dan industri menjadi 90 banding 10. “Prioritas untuk medis.” Kondisi di lapangan, kata Fridy, sebagian masyarakat yang memiliki tabung oksigen meminjamkan ke penderita Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri (isoman).

Tentu, cara penggunaannya dibantu tenaga medis. Artinya, tumbuh rasa gotong royong di masyarakat untuk saling membantu teman, tetangga, dan saudaranya.


Baca Juga:  Survei Lingkungan Belajar AN Dinilai Mirip TWK KPK

“Mudah-mudahkan kepedulian tersebut akan mempercepat penyembuhan bagi yang isoman,” ucapnya.

Data Kemenperin menunjukkan, kapasitas produksi gas oksigen di Indonesia mencapai 650 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, 300 juta ton sudah terintegrasi dengan pengguna. Sementara itu, stok tabung gas oksigen nasional saat ini sebanyak 6,8 juta unit.(jpg)