RS Darurat Dibangun di tiap Provinsi

19
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan. (NET)

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan memerintahkan seluruh potensi produksi oksigen di mobilisasi untuk keperluan medis pasien Covid-19. Selain kebutuhan oksigen, jumlah tempat tidur (TT) perawatan dan isolasi juga terus ditambah.

Selain itu, untuk mengatasi kekurangan kapasitas rumah sakit, pemerintah akan membangun rumah sakit darurat di setiap provinsi. Perintah tersebut diberikan pada rapat koordinasi yang dipimpinnya pada Sabtu (3/7).

”Saya minta 100 persen produksi oksigen untuk kepentingan medis terlebih dahulu, artinya seluruh alokasi industri harus dialihkan ke medis,” kata Luhut sebagaimana keterangan resmi Kemenko Marves, kemarin (5/7).

Dalam waktu dekat pemerintah melalui Kementerian Perindustrian dan Kementerian Kesehatan akan membuat database produsen dan distributor untuk ketersediaan oksigen, baik dengan memproduksi dari dalam negeri maupun melakukan impor.


”Saya kira kita bisa kerahkan oksigen produksi dalam negeri dan oksigen konsentrator untuk pasien isolasi. Oksigen konsentrator ini bisa kita impor melalui Kemenperin kalau sudah di-approve Kemenkes,” terang Luhut.

Ia juga berharap agar oksigen dan konsentrator bisa tersedia di hari Selasa atau Rabu minggu ini. Untuk itu, ia menugaskan Kemenperin untuk segera memastikan kapasitas dan sumber untuk oksigen impor sekaligus memastikan kedatangan oksigen tersebut.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memastikan bahwa kapasitas oksigen fasa cair akan dioptimalkan 100 persen untuk kebutuhan medis. Selain memobilisasi oksigen produksi dalam negeri, pemerintah juga membuka opsi untuk melakukan impor.

”Sementara terkait impor, sedang dilakukan konsolidasi dengan produsen untuk bisa memastikan kapasitas dan sumber oksigen,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa keamanan dan kebersihan oksigen bisa terjamin dan diperiksa dengan menggunakan teknologi analisis hazard operability.

Data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menunjukkan bahwa terjadi kenaikan permintaan oksigen menjadi 5 (lima) kali lipat. Untuk itu, Menko Luhut dalam rapat ini langsung berkoordinasi dengan Kemenperin agar pencatatan kebutuhan oksigen dirapikan di setiap kota.

”Sekarang kita butuh data yang detail. Kita bikin konversi oksigen industri semua full ke oksigen farmasi. Kekurangan kita ini bisa nanti terpenuhi, jika oksigen industri itu semua kita fokus ke oksigen farmasi,” tegasnya.

Menanggapi hal tersebut Kemenperin menyatakan bahwa para produsen gas oksigen sudah 100% diwajibkan untuk menggeser produksi oksigennya ke oksigen medis. Sehingga bisa didapat 1.700 ton per hari nasional, di mana 1.400 ton per hari dari nasional digunakan untuk Pulau Jawa. Industri oksigen kecil juga sudah mulai dikerahkan juga untuk mengkonversi produksi gas oksigennya ke oksigen farmasi.

Selain itu, beberapa perusahaan juga ikut mengirimkan Iso Tank untuk penanganan pasokan oksigen. Terdapat 21 unit kapasitas 20 ton Isotank dari IMIP Morowali akan tiba di Tanjung Priok pada 06 Juli 2021. Kemudian, 5 unit Isotank dari Balikpapan (merupakan Iso Tank baru) yang akan tiba pada 9 Juli di Pelabuhan Tanjung Priok.

Sedangkan 4 unit 20 feet dari Pertamina (ex LNG perlu dibersihkan) sedang dalam perjalanan dari Belawan kira-kira 4 hingga 5 hari perjalanan laut. Terakhir, ada tambahan 3 ton oksigen cair per hari dari Krakatau Steel, Cilegon. PT Matesu Abadi dari Qingdao juga direncanakan pada 10 Juli 2021 tiba di Surabaya dan membawa 2.300 tabung kecil berkapasitas 1 meter kubik.

Beberapa industri oksigen seperti Samator Group, LINDE Indonesia, Petrokimia Gresik dan LINDE Indonesia, Air Products Indonesia, Air Liquide Indonesia, dan Iwatani Industrial Gas Indonesia juga berkomitmen untuk memasok oksigen medis di Pulau Jawa yang jika ditotal mampu mencapai 1.315 ton per hari.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa saat ini pemerintah tengah memaksimalkan kapasitas produksi oksigen nasional untuk memenuhi kebutuhan medis. ”Kami telah mendapatkan komitmen dari Kementerian Perindustrian agar konversi oksigen industri ke medis diberikan sampai 90 persen,” kata Budi.

Dia menjabarkan di Indonesia kapasitas produksi oksigen per tahunnya mencapai 866 ribu ton/tahun. Di mana, 75 persen digunakan untuk industri dan sisanya yang dipakai medis. Melalui konversi ini, maka jumlah oksigen yang bisa didapatkan untuk memenuhi kebutuhan nasional mencapai 575.000 ton.

”Untuk saat ini, kapasitas oksigen yang ada akan dimaksimalkan di tujuh provinsi di Jawa-Bali,” ucapnya. Ini karena meningkatnya kasus dan pasokan oksigen di RS semakin berkurang.

Berdasarkan data Kemenkes, saat ini total kebutuhan oksigen untuk perawatan intensif dan isolasi pasien Covid-19 mencapai 1.928 ton/hari. Untuk saat ini, kapasitas yang tersedia ada 2.262 ton/hari. ”Penyebab terjadinya kelangkaan stok oksigen di beberapa daerah karena rantai distribusi yang belum optimal,” bebernya.

Dia menambahkan, kesulitan lain yang dihadapi dalam proses distribusi oksigen adalah kurang liquidnya proses pengisian oksigen. Hal ini disebabkan karena banyaknya RS yang menggunakan tabung. Waktu pengisian gas ini yang juga menjadi kendala.

Untuk memenuhi ruang-ruang perawatan darurat di RS, Kemenkes telah berkoordinasi dengan Kemenperin untuk melakukan impor tabung oksigen sebanyak enam meter kubik ditambah satu meter kubik dalam waktu dekat.
Asrama Haji

Selain memastikan ketersediaan suplai oksigen, pemerintah juga akan terus menambah kapasitas tempat tidur (TT) untuk perawatan dan isolasi. Dalam waktu dekat Asrama Haji Pondok Gede akan dikonversi menjadi RS Darurat Covid-19. Asrama tersebut memiliki kapasitas 1 gedung untuk perawatan intensif, 5 gedung untuk perawatan pasien Covid-19 gejala sedang, dan 2 gedung untuk asrama perawat dengan total kapasitas tempat tidur sebanyak 785 buah.

Kemenag ikut merespons kebutuhan itu. Menag Yaqut Cholil Qoumas memberikan izin penggunaan asrama haji dan rumah sakit haji di seluruh Indonesia untuk penanganan pasien Covid-19. Yaqut mengatakan, saat ini tidak kurang dari 25 unit asrama haji dengan total kapasitas 1.054 pasien disiapkan untuk penanganan Covid-19.

Dia mengatakan, sudah menerbitkan instruksi untuk optimalisasi pemanfaatan asrama haji dalam penanganan Covid-19. Dia berharap, seluruh pengelola asrama haji bisa menjalankan instruksi tersebut dengan baik.

”Selain asrama haji, kita juga punya RS haji. Dipersilakan dimanfaatkan sebagai tempat (penanganan, red) pasien Covid-19,” katanya kemarin. RS haji umumnya berdekatan dengan asrama haji. Sebab, selama ini fungsi utama RS haji sebagai tempat layanan kesehatan calon jamaah yang akan berangkat ke Arab Saudi. Di antara, RS haji yang lokasinya dekat asrama haji adalah RS Haji di Jakarta dan RS Haji di Surabaya.

Khusus di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, Kemenag menambah jumlah gedung untuk penanganan pasien Covid-19. Sebelumnya ada tiga gedung yang digunakan untuk pasien Covid-19. Tetapi sekarang ditambah dua gedung lagi, sehingga total ada lima gedung dengan kapasitas 988 pasien. Gedung yang digunakan adalah gedung A, B, C, H, dan D5.

Selain menyiapkan lima gedung untuk pasien Covid-19, Kemenag juga menyiapkan dua gedung untuk akomodasi petugas kesehatan. Kedua, gedung ini adalah D3 dan D4. Total kapasitas untuk akomodasi petugas kesehatan ini sebanyak 376 ranjang. Sebelumnya, Kemenag juga sudah menggunakan Gedung Arafah untuk penanganan pasien Covid-19 bergejala sedang dan berat di bawah RS Haji Jakarta.

Baca Juga:  Produksi Oksigen, RSUD Dr M Zein Diapresiasi

Menurut Yaqut, upaya menghadapi pandemi Covid-19 tidak bisa dilakukan secara sendiri. Untuk itu, Kemenag bekerja sama dengan Kemenkes, Kementerian BUMN, Kementerian PUPR, dan instansi terkait lainnya untuk penyiapan asrama haji. Contohnya, untuk pelayanan kesehatan di Asrama Haji Jakarta mendapatkan dukungan dari Pertamedika, Kemenkes, dan Kementerian PUPR. ”Semoga hari Rabu (besok, red) sudah siap dipakai,” paparnya.

Wisma Haji Pondok Gede ditargetkan mampu menerima 600 hingga 700 pasien komorbid yang nantinya bisa ditindak di sini dan dimulai hari ini. Dengan kapasitas seperti ini, tenaga kesehatan nantinya juga akan didatangkan dari luar Pulau Jawa untuk membantu menangani pasien yang ada di sini.

”Tenaga kesehatan yang datang dari luar Pulau Jawa ini nantinya akan membantu di RS Lapangan Wisma Haji. Kami sudah koordinasi dengan MenPUPR agar disediakan tempat tinggal bagi mereka,” papar Menkes Budi.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Men PUPR) Basuki Hadimuljono sudah menyiapkan Rumah PU di kawasan Pasar Jumat yang mampu menampung para tenaga kesehatan yang dikirim dari luar Pulau Jawa.

Sementara itu untuk beberapa tempat yang juga dijadikan RS Lapangan seperti Rusun Nagrak, Pasar Rumput, dan Wisma Atlet yang dijadikan tempat isolasi. Rusun Nagrak dan Pasar Rumput sudah mulai terisi dan beberapa tower juga sudah mulai penuh. Mereka yang masuk adalah pasien dengan kriteria OTG atau ada gejala ringan, tetapi tidak memenuhi tiga syarat, tidak memiliki komorbid, memiliki saturasi diatas 95 persen, dan tidak sesak nafas.

Luhut juga memastikan agar proses vaksinasi berjalan dengan baik untuk dapat mencapai target vaksinasi satu juga orang per hari di bulan Juli dan dua juga di bulan Agustus. ”Saya minta Kemenkes, Pemprov, TNI, dan Polri menentukan titik-titik sentra vaksinasi yang akan terus beroperasi sampai 31 Desember 2021 disertai kapasitas vaksinasi harian dan jumlah tenaga vaksinator tersedia,” tuturnya.

Ia juga meminta Kemenkes untuk dapat mengerahkan mahasiswa kedokteran tingkat akhir untuk meningkatkan jumlah tenaga vaksinator yang ada. ”Saat ini masih banyak titik-titik yang beroperasi hanya 2-3 minggu saja, hal ini menyebabkan capaian vaksinasi harian mengalami fluktuasi,” lanjut Luhut.

Untuk itu, Menko Luhut kembali menegaskan bahwa pelaksanaan vaksinasi harus bisa berjalan lancar tanpa ada batasan. ”Mengenai vaksinasi saya pikir semua KTP berlaku dimana-mana, jangan sampai orang mau vaksin itu gak boleh karena KTP,” tuturnya.
Vaksinasi 3 Juta per Hari.

Menkeu Sri Mulyani Indrawati menuturkan, Presiden Joko Widodo telah menambah target vaksinasi menjadi 3 juta per hari. Target itu mengingat pentingnya akselerasi vaksinasi menjadi syarat penting agar pemulihan kesehatan dan ekonomi bisa berjalan maksimal.
Ada dua target dalam vaksinasi, yaitu meningkatkan kekebalan masyarakat terhadap varian baru virus Covid-19 dan juga pendorong pertumbuhan ekonomi.

”Untuk itu keketatan imunitas yang bisa diluncurkan di masyarakat melalui vaksinasi menjadi syarat yang penting, dan juga pelaksanaan protokol kesehatan. Sehingga kondisi dari Covid-19 bisa dikendalikan, namun pemulihan ekonomi tetap bisa dipertahankan,” ujarnya usai sidang kabinet paripurna, kemarin (5/7).

Ani melanjutkan, untuk mengakselerasi target itu, maka pada Agustus nanti target vaksinasi akan dinaikkan menjadi 2 juta per hari. Bahkan, agar herd immunity bisa tercapai sebelum akhir tahun 2021 maka target vaksinasi akan dinaikkan menjadi 3 juta per hari.

”Bahkan kalau kita ingin menyelesaikan sebelum akhir tahun ini, maka diperlukan vaksinasi hingga 3 juta per hari pada periode Oktober sampai November. Ini sebuah target yang luar biasa tinggi,” jelasnya.

Dia mengakui, angka itu merupakan target yang cukup tinggi. Namun, Presiden Joko Widodo tetap menginstruksikan dan mendorong kerja sama yang optimal dari seluruh pihak. Dia menekankan, hal itu juga melibatkan sinergi dari sumber daya yang berasal dari kementerian/lembaga, TNI/Polri, hingga seluruh dinas dan pemerintah daerah.

”Bahkan vaksinasinya bisa dijalankan pagi, siang dan malam hari dengan menggunakan seluruh sumber daya,” tuturnya.

Sementara itu, dalam rapat bersama dengan Komisi IX DPR kemarin (5/7), Wakil Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Slamet Budiarto menjabarkan tiga strategi penanganan Covid-19 yang harus dilakukan. Pertama, ia meminta agar pemerintah melakukan upaya promotif besar-besaran untuk menangkal hoax. Kemudian, preventif yang sebagian besar sudah dilakukan mulai dari PPKM darurat, percepatan vaksin, hingga memperketat lalu lintas orang dari luar negeri.

Ketiga, harus ada perbaikan di sisi kuratif dan rehabilatif yang menyangkut sumber daya manusia (SDM), fasilitas kesehatan, alat kesehatan, pembiayaan, dan isoman. ”Tiga ini harus pararel. Tapi paling urgent itu kuratif karena pasien overload. kalau gagal, akibatnya kematian pasien,” paparnya.

Ia juga mengeluhkan sejumlah masalah yang saat ini terjadi dalam upaya penanganan Covid-19. Menurutnya, saat ini Indonesia tengah berada di kondisi perang tapi penanganan masih diperlakukan normal. Dimulai dari kurangnya tenaga kesehatan. Garda terdepan sudah kekurangan pasukan. SDM banyak yang gugur. Padahal, layanan kesehatan bisa lumpuh tanpa para tenaga kesehatan ini.

Slamet mengungkapkan, sudah rapat bersama Menko PMK Muhadjir Effendy, Konsil Kedokteran, dan Ditjen Dikti Kemendikbudristek membicarakan hal ini. seluruhnya sepakat, bahwa kekurangan SDM bisa ditangani dengan segera meluluskan dokter yang belum lulus Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD).

”Tapi, sampai hari ini belum dieksekusi oleh dirjen dikti. Kami mohon agar bisa mempercepat pemenuhan dokter untuk layanan Covid-19 ini,” ungkapnya.

Kemudian, dia meminta agar tenaga kesehatan bisa disuntik vaksin ketiga. Pasalnya, banyak tenaga kesehatan yang terpapar Covid-19 dua kali walaupun sudah vaksin dua kali. Bahkan, sebagian masi mengalami mengalami kesakitan sedang hingga berat. Bahkan, meninggal dunia.

”Dan kita tidak tahu efikasi Sinovac sebenernya berapa. WHO mengatakan 51 persen, kita 65 persen, brazil 50 persen,” paparnya. Karenanya, diharapkan tenaga kesehatan bisa divaksin kembali. Sehingga, bisa lebih terlindungi. ”Karena kalau di pelayanan kesehatan sakit otomatis tidak bisa melayani pasien. Pasien yang dirugikan,” sambungnya.

Selain itu, ia juga mendesak agar pemerintah segera bertindak mengatasi kelangkaan obat, alat kesehatan, hingga oksigen. Menurutnya, rumah sakit saat ini hanya bisa menyediakaan oksigen untuk kebutuhan satu hari saja. Mereka harus mencari cara untuk mengisi ulang oksigen di hari berikutnya. Begitu pula untuk obat. Jenis remdesivir dan favipiravir juga menurun sekali jumlahnya, bahkan hampir menghilang. (tau/dee/wan/lyn/mia/deb/jpg)