Menumpuk di Pintu Penyekatan, Antrean Kendaraan Hingga 8 Kilometer

85
Antrean kendaraan terjebak macet di Pintu Tol Cikupa, Tangerang, Banten, kemarin (6/5). Ribuan kendaraan terjebak macet hingga delapan kilometer akibat lonjakan volume kendaraan dan kegiatan penyekatan larangan mudik lebaran 2021. (jpg)

Hari pertama pemberlakuan larangan mudik pada 6 Mei kemarin (6/5), berlangsung relatif lancar meskipun diwarnai kemacetan panjang dan penumpukan kendaraan di titik-titik penyekatan. Aparat kepolisian pun terpaksa meloloskan beberapa kendaraan.

Pantauan Jawa Pos (grup Padang Ekpsres), arus mudik melalui jalur darat di Jalan Tol Jakarta-Cikampek pada Rabu malam (5/5) sampai Kamis dini hari (6/5) relatif normal. Kemudian pada kamis malam pukul 21.18, lalu lintas arah Cikampek dilaporkan padat karena dampak penyekatan di KM 31.

Jasa Marga dan pihak Kepolisian mendirikan sejumlah titik penyekatan. Di antaranya, pos penyekatan di KM 31 Cikarang Barat dan KM 48 Karawang Barat. Pada Kamis pagi sekitar pukul 07.00 di pos penyekatan KM 31 terjadi penumpukan sejumlah kendaraan yang mengangkut pekerja menuju ke arah Jakarta.

Corporate Communication & Community Development Group Head Jasa Marga Dwimawan Heru mengungkapkan bahwa kepadatan terjadi akibat penutupan akses Cikarang Barat (dari Cikampek menuju Jakarta) yang dilakukan atas diskresi Kepolisian.

Tujuannya agar pengguna jalan dari Jakarta yang diputar balik (karena tidak membawa persyaratan) tidak terganggu dengan arus yang dari Cikampek akan keluar Cikarang Barat.
Sehingga, arus dari Cikampek ini diarahkan keluar setelah Gerbang Cikarang Barat, yaitu Gerbang Cibitung.

”Mempertimbangkan kondisi di lapangan, akhirnya atas diskresi Kepolisian, pada pukul 10.50 akses keluar Cikarang Barat dari Cikampek kembali dibuka. Saat ini, kondisi di titik tersebut menuju arah Jakarta dalam keadaan lancar,” papar Heru.

Jasa Marga mencatat, selama periode H-3 sampai H-1 jelang peniadaan mudik atau sampai Rabu, 5 Mei kemarin, Jasa Marga mencatat sudah 414.774 ribu kendaraan meninggalkan wilayah Jabotabek ”Total volume lalin yang meninggalkan wilayah Jabotabek ini naik 8,9 persen jika dibandingkan lalin normal,” jelas Heru.

Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya pun mencatat terjadi penurunan volume kendaraan jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Larangan mudik yang berlaku pukul 00.00 kemarin menjadi salah satu penyebabnya. Apalagi sejak jauh hari aparat kepolisian telah menyampaikan bakal menyekat arus lalu lintas keluar Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

”Memang malam ini (Rabu malam dan Kamis dini hari, red) terjadi penurunan volume lalu lintas yang melewati Jalan Tol Jakarta-Cikampek. Khususnya untuk kendaraan pribadi,” terang Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Sambodo Purnomo Yogo.

Perwira menengah dengan tiga kembang di pundak itu memimpin langsung penyekatan kendaraan di Gerbang Tol Cikarang Barat. Tepatnya di KM 31. Sejak pukul 22.00, Sambodo bersama ratusan personel gabungan dari Polri, TNI, PT Jasa Marga, serta dinas perhubungan setempat memulai persiapan penyekatan.

Mereka memasang pembatas di sekitar gerbang tol tersebut. Kendaraan pribadi dan angkutan orang yang melintas di atas pukul 00.00 diperiksa satu per satu. Pengendara yang tidak bisa menunjukkan surat keterangan resmi sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, langsung diarahkan putar balik ke arah Jakarta.

”Selama kurang lebih 40 menit saja. Dari pukul 00.00 sampai dengan 00.40 itu terdata sudah 46 kendaraan yang kami putar balik,” ungkap dia.

Sebagian besar di antara mereka membantah bepergian untuk mudik. Namun demikian, seluruhnya tidak dapat menunjukkan surat keterangan resmi. Sehingga harus kembali ke Jakarta. Angka kendaraan yang diputar balik oleh petugas pun terus bertambah.

Sampai Kamis pagi jumlahnya sudah tembus 317 kendaraan. Itu dipastikan kian tinggi. Berdasar pantauan Jawa Pos kepadatan kendaraan menjelang titik-titik penyekatan mulai tampak sekitar pukul 06.00.

Selain kendaraan mengular menjelang KM 31, antrean kendaraan juga tampak di KM 43. Persis beberapa kilometer sebelum lokasi penyekatan di KM 46-KM 48. Sambodo tidak menapik kondisi tersebut. Dia menyatakan bahwa ekor kemacetan dari lokasi penyekatan mencapai 5 sampai 8 kilometer. ”Itu sebabnya saat ini (arus kendaraan) sedang kami los,” kata dia kemarin siang.

Keputusan itu diambil untuk mengurai kemacetan yang terjadi. Sambodo pun menjelaskan soal protes yang dilakukan karyawan yang bekerja di sekitar Cikarang. ”Yang protes adanya penutupan Gerbang Tol Cikarang Barat dari arah Cikampek,” jelasnya.

Penutupan gerbang tol itu dilakukan supaya tidak terjadi crossing dengan kendaraan yang diputar balik ke arah Jakarta. ”Supaya menghindari crossing dan kecelakaan, maka Gerbang Tol Cikarang Barat kami tutup,” jelasnya. Kendaraan yang hendak keluar melalui gerbang tol tersebut diarahkan keluar dari pintu tol berikutnya.

Namun demikian, para karyawan tersebut menolak. ”Jadi, akhirnya kami lakukan buka tutup,” tambah dia. Sambodo memastikan, peristiwa yang sempat beredar luas di media sosial itu tidak berlangsung lama. Hanya beberapa menit saja.

Lebih lanjut, Sambodo menegaskan kembali, pihaknya akan terus berusaha melaksanakan penyekatan kendaraan sesuai dengan rencana. Namun demikian, diskresi akan diambil sesuai kondisi di lapangan.

Kalau pun harus los arus karena antrean panjang, dia memastikan masih ada titik penyekatan berikutnya yang tidak akan membiarkan kendaraan tanpa surat resmi lolos. ”Selama 24 jam pemeriksaan akan kami lakukan tanpa berhenti sampai dengan nanti 17 Mei pukul 00.00,” bebernya.

Secara keseluruhan, tidak kurang 200 personel bertugas di titik penyekatan Gerbang Tol Cikarang Barat. Mereka ditugaskan secara bergantian untuk memaksimalkan penyekatan. ”Saya sudah bagi dalam beberapa kelompok yang nanti akan bekerja secara bergantian (masing-masinig) dua sampai tiga jam,” ucap dia.

Baca Juga:  Mudik Via Tol Sumatra Lancar, Andre Rosiade Apresiasi Hutama Karya

Dengan begitu, mereka bisa bertugas secara total meski tengah melaksanakan ibadah puasa. Di samping kepadatan menjelang lokasi penyekatan, arus lalu lintas di Jalan Tol Jakarta-Cikampek lancar. Kendaraan-kendaraan barang terlihat lebih banyak dari kendaraan pribadi.

Tol Merak Dijaga
Penyekatan mudik juga tampak di area keluar Pulau Jawa menuju wilayah Sumatera, kemarin (6/5). Sejak pukul 00.00, pihak kepolisan dari Polda Banten sudah berjaga mulai gerbang keluar pintu tol Merak. Kendaraan roda empat atau lebih, yang keluar dari gerbang tol Merak menuju Pelabuhan Merak diperiksa petugas kepolisan.

Beberapa kendaraan yang teridentifikasi tidak sesuai ketentuan langsung diminta balik kanan ke wilayah asal. Mayoritas dari kendaraan tersebut diketahui akan berangkat mudik, ada pula yang mengaku perjalanan dinas tapi tidak membawa antigen, surat tugas, hingga tak punya surat izin keluar masuk (SIKM).

Larangan itu tidak hanya berlaku pada pengendara roda empat. Pemudik dengan menggunakan kendaraan roda dua juga dicek satu persatu. Di titik penyekatan pospam Gerem, Cilegon misalnya. Kendaraan roda dua diberhentikan dan ditanya akan menuju ke mana. Bagi yang terdeteksi mudik, langsung diminta putar balik.

Moda transportasi umum pun mendapat perlakuan yang sama. Bus AKAP rute Bekasi-Merak terpaksa menurunkan penumpangnya lantaran dianggap melanggar aturan larangan mudik. Mereka beroperasi di tanggal 6 Mei 2021, tepat awal pemberlakuan pelarangan mudik 2021. Bebas jalan hanya berlaku bagi kendaraan logistik, medis, dan pribadi yang memiliki SIKM.

Kapolda Banten Irjen Rudy Heriyanto pun mewanti-wanti masyarakat agar tidak nekat mudik. Hal ini sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19 di daerah. Namun, bagi yang tetap nekat bahkan melawan petugas ketika diminta putar balik, Rudy mengaku tak akan segan-segan untuk menindak tegas. Pemudik bisa dipidanakan.

”Ada pasal pidana bisa diterapkan kalau bersangkutan melawan petugas. Ada ancaman pidananya,” ujarnya. Upaya pelarangan mudik ini juga tampak di gerbang tol Cikupa, Tangerang, Banten. Hingga Kamis sore, setidaknya 626 kendaraan diminta putar balik karena tak memiliki SIKM. Akibat proses penyekatan ini, sempat terjadi antrean kendaraan yang akan keluar Cikupa. Kemacetan diperkirakan mengular hingga 8 km sebelum gerbang tol keluar.

Ngotot Mudik
Sementara itu, larangan mudik yang ditetapkan pemerintah tidak menyurutkan keinginan sebagian masyarakat untuk pulang ke kampung halaman. Selain fakta di lapangan, hal itu juga tergambar dari hasil survei yang dilakukan Rekode Research Center (RRC). Survei RRC sendiri dilakukan pada 26 April – 5 Mei 2021 dengan total responden 1.200 orang. Hasilnya, angka masyarakat yang ngotot mudik cukup tinggi.

”Ada 27,1 persen warga yang akan mudik meskipun telah ada larangan,” ujar Project Manager RRC Lisdiana Putri dalam rilis hasil survei secara virtual, kemarin (6/5). Angka tersebut setara dengan 6,2 juta warga yang jika total pemudik mencapai 25 juta orang.

Lidia menjelaskan, masih tingginya angka masyarakat yang tetap ingin mudik sejalan dengan sikapnya terhadap kebijakan tersebut. RRC mencatat, sebanyak 54,6 persen responden menyatakan tidak setuju dengan kebijakan itu dan hanya 44 persen yang setuju. ”Mengingat jumlah responden yang tidak setuju lebih banyak, ada sejumlah warga yang akan tetap nekat mudik,” imbuhnya.

Hasil survei juga menjelaskan faktor-faktor yang menyebabkan warga masih ingin tetap mudik. Salah satu faktornya yang signifikan adalah masyarakat tidak yakin kebijakan pelarangan mudik akan diterapkan secara ketat di lapangan. ”53,1 persen responden tidak yakin larangan mudik itu akan diikuti dengan penegakan aturan,” tuturnya. Selain itu, publik juga tidak yakin jika kebijakan mudik bisa berdampak signifikan pada penularan Covid-19.

Dari hasil survei tersebut, dia menilai, pemerintah perlu menyiapkan antisipasi. Khususnya terhadap pihak yang tetap ngotot mudik. Meski minoritas, Lidia menyebut 27 persen atau sekitar 6,2 juta sebagai angka yang besar. ”Apalagi pergerakan warga yang nekat mudik terjadi di tengah masuknya varian baru Covid-19 dari Afrika, India,” ungkapnya. Salah satu hal yang dinilai perlu dipersiapkan adalah fasilitas kesehatan mengantisipasi potensi kenaikan Covid-19 pascalebaran.

Jubir Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito mengungkapkan bahwa Satgas telah banyak menerima laporan di lapangan adanya penumpukan masyarakat yang memanfaatkan transportasi umum kemudian terlantar di pintu-pintu penyekatan akibat dari tidak memenuhi syarat perjalanan. ”Penumpukan ini menimbulkan kerumunan. Beberpa orang juga terlihat tidak memakai masker,” katanya.

Wiku mengatakan bahwa para pemilik angkutan umum harus bertanggung jawab dan segera mengembalikan para penumpang tersebut ke wilayah asal keberangkatan. ”Untuk petugas, mohon tidak ragu untuk melakukan penindakan sesuai hukum yang berlaku,” katanya.

Saat ini untuk memecah kebingungan masyarakat terkait kebijakan pelarangan mudik, ia menegaskan bahwa mudik tetap dilarang. Baik itu antar wilayah, maupun dalam satu kabupaten/wilayah aglomerasi. ”Dengan urgensi mencegah maksimal kontak fisik yang menjadi media utama penularan virus,” katanya.

Namun kegiatan lain selain mudik di dalam satu aglomerasi sektor-sektor esensial akan tetap beroperasi tanpa penyekatan apapun demi melancarakan kegiatan sosial ekonomi daerah. ”Tidak perlu khawatir dengan persebaran Covid-19 di satu wilayah ini. Karena operasionalnya telah diatur dalam program PPKM kabupaten/kota,” jelasnya. (tau/syn/mia/far/jpg)