Produksi Massal Drone Elang Hitam

63
Drone Elang Hitam digarap keroyokan melibatkan BPPT, Lapan, PT DI, TNI AU, ITB, PT Len Industri, dan lainnya. Drone atau pesawat tanpa awak ini dirancang untuk keperluan militer. (Humas BPPT)

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memasang target produksi massal drone Elang Hitam tahun depan. Target tersebut patut ditunggu. Sebab, rencana terbang perdana yang sedianya digelar 2020 lalu sempat meleset.

Perkembangan inovasi drone Elang Hitam itu disampaikan Kepala BPPT Hammam Riza dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) BPPT di Jakarta, kemarin (8/3). Seperti diketahui drone atau pesawat tanpa awak Elang Hitam dirancang untuk keperluan militer.
Drone ini nantinya bakal dipersenjatai untuk mengamankan kedaulatan NKRI.
”Secara khusus, tahun ini kita dapat amanah menerbangkan drone Elang Hitam,” katanya.

Pada tahapan selanjutnya akan diurus sertifikat tipe supaya bisa masuk ke tahapan produksi massal. Hammam mengatakan jika semuanya lancar, drone Elang Hitam bisa diproduksi massal tahun depan.

Drone Elang Hitam digarap keroyokan. Selain BPPT, juga ada keterlibatan dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) serta PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Selain itu juga ada keterlibatan TNI AU, ITB, PT Len Industri, dan lainnya.

Hammam berharap, uji terbang drone Elang Hitam dapat berjalan lancar. ”Insya Allah terbang perdana dahulu di Oktober atau lebih cepat,” jelasnya. Setelah itu, tim akan mulai menjalani rangkaian uji terbang, serta type certificate oleh Indonesia Military Airworthiness Authority (IMAA). Dia mengatakan, inovasi drone Elang Hitam menjadi harapan besar dari Presiden Joko Widodo dan Menristek Bambang Brodjonegoro.

Kabar soal drone Elang Hitam sempat mencuat Desember 2019 lalu. Melalui kegiatan roll-out di hanggar PT DI untuk pertama kalinya drone Elang Hitam diperkenalkan ke masyarakat. Penampakan drone tersebut terlihat bongsor. Sebab panjangnya mencapai 8,3 meter dengan bentang sayap 16 meteran.

Saat itu Hammam menuturkan, drone tersebut merupakan salah satu inovasi dalam negeri di bidang pertahanan. Drone itu diyakini mampu terbang tanpa henti atau nonstop selama 24 jam. Kemudian, juga dilengkapi dengan pengendalian multiple unmanned aerial vehicle (UAV) secara bersamaan. ”Pesawat tanpa awak MALE ini hasil rancang bangun, rekayasa, dan produksi anak bangsa,” tegas Hammam.

Baca Juga:  WNA China Masuk Indonesia, Athari: Harusnya Dilarang Untuk Seluruhnya

Hammam menceritakan, proyek PUNA tipe MALE (medium altitude long endurance) atau drone Elang Hitam dimulai sejak 2015 lalu oleh Balitbang Kementerian Pertahanan (Kemenhan). Kemudian dilanjutkan dengan pembuatan engineering document pada 2017 oleh Balitbang Kemenhan bersama BPPT. Pada saat itu juga dibentuk Konsorsium Pesawat Terbang Tanpa Awak (PTTA) MALE.

Sementara itu, Rakernas BPPT dibuka secara resmi oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dia mengatakan Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat.

Namun, tanpa penguasaan dan pemanfaatan teknologi secara bijak, kekayaan tersebut tidak akan memberikan manfaat maksimal bagi rakyat di masa revolusi industri keempat saat ini. ”Ada beberapa hal penting yang harus dilakukan BPPT agar bisa menjadi otak pemulihan ekonomi secara extraordinary,” ujar Jokowi.

Sebagai langkah pertama, Presiden menekankan bahwa BPPT saat ini harus aktif berburu inovasi dan teknologi untuk dikembangkan dan diterapkan. Hal tersebut berangkat dari keyakinan Jokowi bahwa peneliti serta inovator memiliki banyak temuan yang apabila dikembangkan lebih lanjut akan dapat diterapkan untuk komersialisasi.

Selama pandemi ini, Kepala Negara melihat adanya akselerasi inovasi tersebut. Khususnya di bidang kesehatan seperti ventilator dan GeNose. ”Teknologi untuk penapisan penderita Covid seperti GeNose yang sangat murah, mudah, dan cepat,” ujarnya.

Kedua, BPPT harus mampu memiliki jejaring luas dan menjadi lembaga akuisisi teknologi maju dari manapun. Perlu diakui bahwa banyak teknologi yang dibutuhkan Indonesia saat ini belum mampu diproduksi di dalam negeri. Sehingga, membutuhkan strategi yang tepat untuk tidak hanya membeli dan menggunakannya. ”Kita harus memulai untuk tidak sekadar membeli turnkey teknologi,” ucap Jokowi.

Ketiga, BPPT juga harus turut ambil bagian dalam pengembangan kecerdasan buatan dan menjadi pusat kecerdasan teknologi Indonesia. Di era informasi saat ini, penguasaan terhadap teknologi kecerdasan buatan menjadi hal yang amat krusial untuk memenangkan persaingan. ”Saya berharap agar BPPT bisa menjadi lembaga yang extraordinary. Terus menemukan cara-cara baru, inovatif, dan kreatif,” ungkapnya. (wan/lyn/jpg)

Previous articleLagi, Kasus Korona Varian Baru Ditemukan
Next articleKuota Jalur Zonasi SD 70 Persen, Pemda Bisa Sertakan Sekolah Swasta