Dampak dari Pandemi Covid-19, Peternak Ayam Minta Diselamatkan

Dampak dari pandemi virus korona (Covid-19) membuat peternak ayam berada dalam tekanan. Harga jual ayam jatuh. Diperparah dengan turunnya permintaan, imbas lesunya konsumsi masyarakat saat ini.

Ketua Umum Perhimpunan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Singgih Januratmoko mengatakan, pemerintah harus melakukan gebrakan serius untuk menyelamatkan peternak ayam.

Menurutnya, momen puasa dan Lebaran yang sebentar lagi akan tiba belum bisa mendongkrak kelesuan sektor peternakan ayam.

“Untuk pulih masih 2-3 bulan lagi. Dalam 3 minggu ke depan kondisinya masih berat. Dengan kondisi seperti ini pengusaha UMKM bakal gulung tikar, yang bertahan hanya pengusaha besar. Sementara peternak ayam di Indonesia hampir 80 persen levelnya UMKM,” katanya kepada wartawan, Minggu (12/4).

Singgih menilai, sebelum para peternak berguguran dan gulung tikar, perlu tindakan dari hulu dan hilir dari pemerintah. “Harus segera dilakukan program pasar murah dimana pemerintah memfasilitasi dengan membeli ayam dari peternakan rakyat serta program bantuan langung dalam bentuk ayam. Tidak hanya beras dan uang tunai. Terutama juga memangkas over supply sejak dari day old chicken (DOC),” ujarnya.

Direktur Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (PATAKA) Yeka Hendra Fatika mengatakan, produk unggas baik itu karkas harus diserap jadi cadangan pangan nasional.

“Saran saya Menteri Perekonomian merespons cepat untuk menarik 20 ribu ton ayam atau karkas agar RPA (Rumah Pemotongan Ayam) dan cold storage yang sekarang penuh ini jadi kosong dan dialihkan ke pemerintah, karena kosong produk dari peternak mitra bisa masuk lagi ke RPA. Nah, langkah ini merupakan respons cepat,” katanya.

Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Indonesia (Pinsar) Pedaging Jawa Tengah Parjuni meminta pemerintah mengurangi suplai DOC hingga 40 persen. Selain itu, menunda setting telur untuk 4 minggu ke depan agar harga livebird di tingkat peternak bisa bergerak naik sesuai harga acuan Kementerian Perdagangan. “Dengan begitu peternak ayam dapat hidup kembali,” ucapnya.

Dia menuturkan, sebelum terjadi wabah, peternak masih sempat menjual Rp 12.000-Rp 13.000. Begitu terjadi wabah, harga terjun bebas hanya Rp 8.000 bahkan Rp 4.000 per kilogram (kg). Sementara ongkos produksi tidak pernah turun, tetap Rp 17.500-Rp 18.000.

Bagi konsumen, ini agak susah dipahami karena harga di pasar basah atau pasar modern masih stabil di angka Rp 30.000-35.000 per kg. (*)